UNIDA Gontor — Himpunan Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (HMP IQT) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor kembali menggelar kegiatan akademik berbasis keislaman melalui Kajian Rutin Al-Qur’an yang berlangsung di Kelas Terbuka Kampus Putri, pada Selasa, 3 Juni 2026, sebagai bagian dari upaya memperkuat tradisi keilmuan Al-Qur’an di lingkungan kampus. Kegiatan ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Asif Trisnani, Lc., M.Ag., sebagai pemateri utama dan diikuti oleh seluruh mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Kajian tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen UNIDA Gontor sebagai Universitas Islam Terbaik yang terus mengintegrasikan dimensi ilmu, iman, dan amal dalam proses pendidikan tinggi.
Dalam kajian bertema “Makna Kalimat Iqra’ dalam Surah Al-‘Alaq”, Assoc. Prof. Dr. Asif Trisnani, Lc., M.Ag., menguraikan makna mendalam dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yakni Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Beliau menegaskan bahwa ayat tersebut memiliki posisi yang sangat fundamental dalam membangun peradaban ilmu pengetahuan. Menurutnya, kata iqra’ tidak semata-mata berarti membaca dalam pengertian literal, melainkan mencakup aktivitas memahami, menelaah, mengkaji, hingga mentadabburi berbagai fenomena kehidupan yang menjadi sumber pengetahuan manusia.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kata قرأ dalam kaidah bahasa Arab termasuk fi‘l muta‘addi, yaitu kata kerja yang secara gramatikal membutuhkan objek. Namun, pada ayat pertama Surah Al-‘Alaq, objek dari kata iqra’ tidak disebutkan secara eksplisit. Hal ini menunjukkan keluasan makna perintah membaca dalam Al-Qur’an. Perintah tersebut tidak dibatasi pada satu objek tertentu, melainkan meliputi seluruh realitas kehidupan yang dapat menjadi sarana memperoleh ilmu, hikmah, dan pelajaran berharga bagi manusia.
Dalam pemaparannya, beliau juga menekankan bahwa budaya membaca merupakan fondasi utama dalam pembentukan kapasitas intelektual seseorang. Seseorang yang memiliki keluasan bacaan akan memiliki kemampuan analisis yang lebih tajam dalam memahami berbagai persoalan kehidupan. Prinsip ini sejalan dengan tradisi keilmuan Islam yang sejak awal menempatkan aktivitas membaca, berpikir, dan menelaah sebagai instrumen utama kemajuan peradaban.
Pada kesempatan yang sama, pemateri turut mengutip pandangan Sayyid Qutb yang menjelaskan pentingnya pembiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an sejak usia dini. Menurut pandangan tersebut, seseorang yang dibiasakan membaca dan memahami Al-Qur’an sejak kecil akan lebih mudah menangkap pesan-pesan ilahiah ketika memasuki usia dewasa. Oleh sebab itu, pembudayaan literasi Al-Qur’an perlu terus ditanamkan sebagai bagian dari pembentukan karakter intelektual sekaligus spiritual seorang Muslim.

Melalui kegiatan ini, mahasiswi IQT diharapkan mampu memahami makna iqra’ secara lebih komprehensif, bukan hanya sebagai aktivitas membaca teks, tetapi juga sebagai dorongan untuk terus belajar, meneliti, dan mengembangkan wawasan keilmuan dalam berbagai disiplin ilmu. Kajian rutin ini juga menjadi sarana strategis dalam menumbuhkan budaya literasi, memperkuat atmosfer akademik, serta membentuk generasi Qur’ani yang memiliki wawasan luas dan kemampuan berpikir kritis.
Kegiatan tersebut semakin menegaskan komitmen Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UNIDA Gontor dalam membangun budaya akademik berbasis nilai-nilai Al-Qur’an. Sebagai Universitas Islam Terbaik, UNIDA Gontor terus berupaya melahirkan generasi Ahlul Qur’an yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memahami, menghayati, dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pesan pertama wahyu ilahi, yaitu iqra’, benar-benar menjadi spirit utama dalam membentuk insan berilmu, beradab, dan berkontribusi bagi peradaban umat.
Penulis: Aisyah
Editor: Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit
Redaksi: UNIDA Gontor






