UNIDA Gontor — Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) UNIDA Gontor kembali menyelenggarakan kegiatan akademik berbasis penguatan nilai historis dan spiritual melalui kunjungan edukatif ke Situs Tegalsari. Kegiatan yang berlangsung pada 12 Juni 2026 ini menjadi bagian dari upaya memperkaya wawasan mahasiswa mengenai akar sejarah, tradisi keilmuan, serta falsafah kehidupan yang menjadi fondasi lahirnya Pondok Modern Gontor. Melalui agenda ini, mahasiswa tidak hanya diajak memahami sejarah secara tekstual, tetapi juga menelusuri jejak perjuangan para pendahulu secara langsung. Sebagai salah satu institusi yang terus berkomitmen membangun peradaban ilmu, UNIDA Gontor semakin menegaskan posisinya sebagai Universitas Islam Terbaik yang memadukan pendidikan akademik, spiritual, dan karakter.
Kegiatan tersebut didampingi oleh sejumlah dosen Program Studi Studi Agama-Agama, di antaranya Dr. Muttaqin, Dr. M. Kharis Majid, Wildan Arif Amrullah, M.Ag., M. Djaya Aji Bima Sakti, M.Ag., Dr. Yuangga Kurnia Y., dan Dr. Tonny Ilham Prayogo. Selain itu, kegiatan ini secara khusus menghadirkan Direktur Kepesantrenan UNIDA Gontor, Dr. Khasib Amrullah, M.Ag., sebagai pembimbing utama dalam proses pendalaman makna kunjungan.
Rangkaian acara diawali dengan ziarah ke makam para tokoh Tegalsari sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa besar ulama terdahulu dalam membangun tradisi keilmuan Islam di Nusantara. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi mendalam bersama Dr. Khasib Amrullah di kediaman almarhum Kiai Santoso Anom Besari, ayahanda dari Trimurti pendiri Pondok Modern Gontor. Agenda kemudian ditutup dengan pelaksanaan salat Maghrib berjamaah di Masjid Tegalsari, yang menambah nuansa khidmat dan reflektif selama kegiatan berlangsung.
Sekretaris Program Studi Studi Agama-Agama, M. Djaya Aji Bima Sakti, M.Ag., menjelaskan bahwa kunjungan ini dirancang bukan sekadar untuk memperkenalkan sejarah Tegalsari sebagai cikal bakal Pondok Modern Gontor. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana mempererat silaturahim keilmuan antara mahasiswa dan para masyayikh Fakultas Ushuluddin. Menurutnya, ruang-ruang pembelajaran seperti ini sangat penting untuk mentransmisikan nilai-nilai kepondokmodernan kepada generasi muda agar mereka memahami identitas keilmuan yang mereka warisi.

Dalam arahannya, Dr. Khasib Amrullah menegaskan bahwa kunjungan ke Tegalsari seharusnya dipahami sebagai momentum mengambil hikmah dari kehidupan para ulama, bukan sekadar aktivitas seremonial. Menurut beliau, jejak kehidupan para tokoh Tegalsari memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana usia yang terbatas dapat menghasilkan kontribusi yang berdampak panjang bagi umat dan masyarakat. Nilai utama yang perlu diserap mahasiswa adalah semangat mengabdikan ilmu untuk kemaslahatan yang lebih luas.
Beliau juga mendorong mahasiswa untuk mulai merancang orientasi hidup dengan lebih matang. Setiap individu, menurutnya, perlu memiliki kesadaran tentang kapan kehidupannya bernilai tinggi dan bagaimana perannya dapat memberikan manfaat nyata di tengah masyarakat. Mahasiswa UNIDA Gontor diharapkan mampu menjadi mundzirul qawm—pembawa peringatan dan pencerahan bagi umat—di mana pun mereka mengabdi kelak.
Sebagai mahasiswa Studi Agama-Agama, tanggung jawab tersebut menjadi semakin relevan mengingat tantangan pluralitas keagamaan di era modern. Mereka dituntut tidak hanya menjadi sarjana yang unggul secara akademik, tetapi juga agen dakwah dan dialog yang mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Melalui kegiatan semacam ini, UNIDA Gontor terus memperkuat perannya sebagai Universitas Islam Terbaik yang konsisten melahirkan generasi intelektual muslim berwawasan luas, berakhlak mulia, dan siap memberikan kontribusi strategis bagi peradaban.
Penulis: Abdullah Muslich Rizal Maulana
Editor: Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit
Redaksi: UNIDA Gontor






