Dalam tradisi pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, proses transfer keilmuan tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas antara santri dan guru, tetapi juga melalui tradisi “Takhil”. Secara filosofis, takhil merupakan upaya standardisasi kompetensi pedagogis dan penguatan kapasitas intelektual bagi para pengajar kelas 6 KMI sebelum mereka terjun mengampu materi. Salah satu materi krusial yang diberikan adalah Tafsir, dengan menggunakan literatur utama yakni kitab “Tafsir Madrasi” karya Buya Haji Umar Bakri (1912-2003). Pemilihan literatur ini bukanlah tanpa alasan ideologis. Jika ditelisik lebih dalam, Tafsir Madrasi membawa napas pembaruan (tajdid) yang sangat kental, yang menghubungkan simpul intelektual antara Timur Tengah, Minangkabau, dan Gontor.

Karakteristik dan Metodologi Tafsir Madrasi:
Kitab Tafsir Madrasi merupakan karya monumental yang ditulis oleh Haji Umar Bakri pada tahun 1950-an. Sejarah mencatat keterikatan kuat kitab ini dengan pondok Gontor, di mana kitab ini kemudian dicetak dan diterbitkan secara luas di Percetakan Darussalam.
Buku Tafsir Madrasi memiliki karakteristik pendekatan tafsir kontemporer yang menitikberatkan pada aspek tauhid, moralitas, dan nilai-nilai pendidikan (tarbawi). Pendekatan ini selaras dengan kebutuhan santri kelas 5 dan 6 KMI yang dipersiapkan untuk menjadi mundzirul qaum kokoh sebelum mereka terjun ke masyarakat. Fokus utama tafsir ini bukan sekadar pada aspek kebahasaan yang rumit, melainkan pada internalisasi keyakinan yang kokoh sebelum mereka mengabdi di tengah masyarakat.
Secara metodologis, karya Umar Bakri ini merupakan manifestasi dari gerakan pembaruan Islam abad ke-19 dan 20, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Semangat untuk kembali kepada Al-Qur’an dengan kacamata yang relevan terhadap tantangan zaman menjadi fondasi utama penulisan buku ini.
Sebagai sebuah literatur kependidikan, kitab ini dirancang khusus untuk menjadi panduan yang digunakan bagi para pembelajar. Keunggulan utamanya terletak pada penggunaan bahasa Arab yang lugas dan mudah dipahami (taysir). Metodologi penulisan yang digunakan mengadopsi prinsip pendidikan modern, yakni menggabungkan kejelasan makna (clarity of meaning) dengan kedekatan lafal (phonetic proximity). Hal ini bertujuan untuk meminimalisir hambatan linguistik bagi siswa, sehingga substansi pesan-pesan Al-Qur’an dapat terserap dengan lebih efektif.

Jaringan Intelektual Thawalib Minangkabau:
Lahirnya Tafsir Madrasi merupakan hasil dari dialektika pemikiran antara tokoh-tokoh Thawalib Minangkabau yang membawa semangat pembaruan pendidikan Islam di Indonesia. Umar Bakri tumbuh dalam ekosistem intelektual dan pembaharuan yang sama dengan beberapa tokoh Intelektual Islam di Minangkabaw, di antaranya:
• Prof. Dr. Mahmud Yunus (1899-1982): Pencetus sistem KMI di Indonesia yang juga pakar tafsir lulusan Al-Azhar, Mesir. merupakan pencetus Kulliyatul Mu’allimin Islamiyyah (KMI) di Indonesia untuk memperbarui sistem Pendidikan pesantren. Beliau juga merupakan salah satu pakar Tafsir lulusan Universitas al-Azhar, Mesir. Salah satu karyanya adalah Tafsir Qur’an Karim. Semenjak belajar di surau, Mahmud Yunus sudah mengenal pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho, itulah yang membuatnya berkeinginan untuk melanjutkan studi di Mesir.
• Syekh Abdul Hamid Hakim (1893-1959): Guru dari KH Imam Zarkasyi dan Buya Hamka. selama menuntut ilmu di Maninjau maupun Padang Panjang, ia belajar “Risalah Tauhid” karya Muhammad Abduh dab “Tafsir Manar” karya Rasyid Ridho. Beliau juga merupakan murid kesayangan Karim Abdullah (ayah Hamka).
• Prof. Dr. Mukhtar Yahya (1907-1996): Murid langsung Abdul Hamid Hakim yang memperkuat jejaring intelektual antara Sumatera Barat dan Jawa (IAIN Yogyakarta).
Penggunaan Tafsir Madrasi di KMI Gontor merupakan bukti nyata adanya sinergi antara gerakan tajdid di Minangkabau dengan sistem pendidikan Gontor. Dengan bahasa Arab yang mudah dan metodologi yang modern, kitab ini berhasil menjembatani khazanah klasik dengan kebutuhan generasi kontemporer. Bagi para pengajar, melalui proses takhil, pemahaman akan sejarah dan metodologi kitab ini diharapkan mampu melahirkan pengajaran yang tidak hanya tekstual, tetapi juga transformatif bagi para santri.
Penulis: Nindhya Ayomi Delahara, S.Ag., M.Pd. (Dosen Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor)
Redaksi: UNIDA Gontor






