UNIDA Gontor —Penguatan tata kelola organisasi menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kelembagaan yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan. Dalam rangka memperkuat pemahaman tersebut, Workshop Keorganisasian diselenggarakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan menghadirkan Al-Ustadz Saiful Anwar, M.Pd., sebagai pemateri utama. Kegiatan ini membahas berbagai aspek pengelolaan organisasi, mulai dari pembagian peran, kepemimpinan, pendelegasian wewenang, mekanisme musyawarah, hingga pemanfaatan teknologi dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan organisasi.
Dalam pemaparannya, Al-Ustadz Saiful Anwar, M.Pd., menjelaskan bahwa organisasi tidak dapat dipahami hanya melalui struktur kepengurusan dan pembagian jabatan. Organisasi merupakan sebuah ekosistem yang terdiri atas individu, nilai, kebiasaan, sistem kerja, serta program yang saling berkaitan. Karena itu, setiap program yang dirancang perlu diarahkan pada hasil dan manfaat yang dapat dirasakan oleh organisasi maupun pihak yang dilayani.
Beliau juga menekankan pentingnya kemampuan pengurus dalam menjalankan berbagai fungsi kepemimpinan. Seorang pengurus tidak hanya dituntut mampu melaksanakan tugas administratif, tetapi juga perlu memiliki kapasitas sebagai teacher, leader, dan manager. Ketiga peran tersebut diperlukan agar pengurus mampu membangun tim, mengarahkan pelaksanaan program, sekaligus mengelola sumber daya organisasi secara terencana dan visioner.

Pembahasan selanjutnya diarahkan pada penguatan budaya organisasi melalui tiga lapisan utama. Pertama, artefak dan praktik yang terlihat dalam identitas, simbol, pola komunikasi, serta aktivitas organisasi. Kedua, nilai-nilai yang dinyatakan, seperti visi, misi, aturan, dan AD/ART. Ketiga, asumsi dasar yang berkembang menjadi budaya dan karakter organisasi. Pemahaman terhadap ketiga unsur tersebut dinilai penting agar arah organisasi tetap konsisten sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Untuk memperjelas pembagian tugas dan tanggung jawab, peserta juga diperkenalkan dengan metode RACI (Responsible, Accountable, Consulted, Informed). Metode tersebut dapat digunakan sebagai instrumen untuk memastikan setiap pekerjaan memiliki pihak yang bertanggung jawab, pihak yang memiliki akuntabilitas, pihak yang perlu dikonsultasikan, serta pihak yang harus memperoleh informasi. Dengan pembagian yang jelas, potensi tumpang tindih pekerjaan maupun kekosongan tanggung jawab dapat diminimalkan.
Materi yang mendapat perhatian khusus adalah seni pendelegasian wewenang. Peserta memperoleh pemahaman mengenai beberapa tingkatan delegasi, mulai dari pelaksanaan tugas dan pemberian usulan, konsultasi dalam pengambilan keputusan, hingga pendelegasian yang memberikan ruang lebih besar kepada anggota untuk mengambil keputusan dan mempertanggungjawabkan hasilnya. Pendelegasian yang tepat dinilai dapat menjadi sarana pengembangan kapasitas anggota sekaligus mempersiapkan keberlanjutan kepemimpinan organisasi.
Selain pendelegasian, pengelolaan rapat dan musyawarah juga menjadi bagian penting dalam workshop. Rapat yang efektif perlu dipersiapkan melalui agenda yang jelas dan spesifik sebelum kegiatan berlangsung. Selama rapat, setiap peserta diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan secara konstruktif, sedangkan setelah rapat harus terdapat notulen, keputusan, serta tindak lanjut yang dapat dipantau. Dengan demikian, rapat tidak berhenti pada pembahasan, tetapi menghasilkan langkah kerja yang konkret.

Dalam konteks kelembagaan modern, digitalisasi turut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola organisasi. Al-Ustadz Saiful Anwar, M.Pd., mengingatkan bahwa organisasi perlu memiliki sistem dokumentasi yang baik agar pengetahuan dan pengalaman yang telah dibangun tidak hilang ketika terjadi pergantian kepengurusan. Kondisi hilangnya pengetahuan kelembagaan tersebut dapat dicegah melalui pengelolaan arsip dan pengetahuan secara sistematis.
Upaya tersebut mencakup setidaknya tiga sektor penting, yaitu knowledge management, pengelolaan keuangan, dan sistem kaderisasi. Dokumentasi program, administrasi, laporan keuangan, serta proses kaderisasi perlu dikelola secara terstruktur dan berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan tata kelola menuju organisasi yang lebih tertib, transparan, dan mampu menjaga kesinambungan program dari satu periode kepengurusan ke periode berikutnya.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip organisasi secara lebih sistematis dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, kejelasan pembagian peran, budaya musyawarah, serta pemanfaatan teknologi menjadi fondasi penting dalam membangun organisasi yang responsif terhadap perkembangan zaman.
Sebagai Universitas Islam Terbaik, Universitas Darussalam Gontor terus mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan pengembangan organisasi dan kepemimpinan. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen Universitas Islam Terbaik dalam membangun lingkungan akademik dan kelembagaan yang profesional, berintegritas, serta berorientasi pada keberlanjutan.
Penulis: Fauza Ahsan Hanif
Editor: Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit
Redaksi: UNIDA Gontor