UNIDA Gontor — Fakultas Ushuluddin Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Darussalam Gontor melaksanakan kunjungan studi akademik ke Pondok Pesantren Indonesia Quran Center (IQC)/Mualaf Qur’an Center (MQC) Yogyakarta, pada Senin, 28 September 2026, sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan akademik dan meningkatkan kemampuan literasi Al-Qur’an mahasiswa.
Kegiatan tersebut diisi dengan program pelatihan kemahiran atau Tadrib Mahari yang berorientasi pada penguatan literasi Al-Qur’an. Program ini diselenggarakan melalui sinergi Indonesia Quran Center (IQC), Mualaf Qur’an Center, dan Vertizone TV sebagai bentuk kontribusi dalam pengembangan literasi Islam di tengah masyarakat. Sesi pelatihan dipandu langsung oleh Mudir Indonesia Quran Center, Al-Ustadz Alvin Qodri Lazuardy.
Dalam sambutannya, Al-Ustadz Alvin Qodri Lazuardy menjelaskan bahwa kehadiran lembaga tersebut berangkat dari kebutuhan masyarakat terhadap pembelajaran Al-Qur’an, termasuk dari kalangan lanjut usia yang memiliki keinginan untuk terus mempelajari dan mendalami Al-Qur’an. Selain itu, berbagai komunitas juga dikembangkan sebagai sarana memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang literasi Islam.
Pelatihan mengangkat tema “Merawat Daya Insani dengan Menulis”, yang menempatkan aktivitas menulis sebagai salah satu sarana pengembangan daya intelektual dan spiritual manusia. Dalam pemaparannya, Al-Ustadz Alvin Qodri Lazuardy mengaitkan pembahasan tersebut dengan pandangan Sayyid Muhammad Naquib Al-Attas mengenai bahasa Al-Qur’an sebagai bahasa Islam, yakni bahasa Arab yang mengalami proses pengislaman makna melalui wahyu Al-Qur’an.

Pembahasan kemudian diarahkan pada pentingnya Islamic worldview sebagai landasan dalam membangun tradisi keilmuan dan kepenulisan. Pandangan hidup Islam tersebut mencakup pemahaman tentang Allah, wahyu sebagai khabar shadiq, alam sebagai kosmos, manusia (al-insan), ilmu, agama (din), kebebasan dalam memilih kebaikan, keadilan, hingga kebahagiaan sejati (sa’adah). Landasan tersebut menjadi penting agar aktivitas intelektual tidak hanya menghasilkan karya secara teknis, tetapi juga memiliki orientasi nilai dan tanggung jawab moral.
Para mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai hakikat manusia dan fungsi akal sebagai potensi ruhiyah dalam memperoleh serta mengikat ilmu. Ilmu dipandang memiliki peran penting dalam membebaskan manusia dari kebodohan sekaligus mengendalikan dorongan hawa nafsu. Dalam konteks penulisan ilmiah maupun populer, peserta diingatkan untuk menjunjung tinggi kejujuran akademik, ketelitian, kejelasan, dan adab dalam menyampaikan gagasan.
Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin luas digunakan dalam proses akademik. Peserta diarahkan untuk tetap menjaga amanah keilmuan dengan memahami substansi tulisan yang dihasilkan. Prinsip “Write what you know and know what you write” menjadi salah satu penekanan penting agar setiap penulis bertanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan.
Pada sesi kedua dan ketiga, mahasiswa mendapatkan materi mengenai metode membaca efektif (How to Read a Book) yang merujuk pada pemikiran Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren. Membaca dijelaskan sebagai aktivitas belajar yang aktif dan membutuhkan konsentrasi, bukan sekadar kegiatan pasif untuk mengisi waktu luang. Peserta juga diperkenalkan dengan empat tingkatan membaca, yaitu elementary reading, inspectional reading, analytical reading, dan syntopical reading.
Dalam praktiknya, mahasiswa diarahkan untuk mengenali latar belakang dan biografi penulis agar dapat memahami konteks pemikiran yang dituangkan dalam sebuah karya. Ketika menghadapi bacaan yang sulit, peserta diperkenalkan pada beberapa strategi, seperti meminta bimbingan guru atau mentor, menggunakan kamus, membaca buku pendukung, serta memanfaatkan terjemahan atau syarah dengan tetap melakukan konfirmasi terhadap teks aslinya.

Para peserta juga diajak memahami empat pertanyaan utama dalam membaca secara kritis, yaitu mengenai gambaran umum buku, rincian gagasan dan cara penyampaiannya, kebenaran isi yang disampaikan, serta relevansi dan manfaat buku tersebut. Dalam praktik inspectional reading, mahasiswa melakukan penelaahan terhadap judul, blurb, kolofon, daftar isi, indeks, kata pengantar, kesimpulan, serta paragraf awal dan akhir setiap bab untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi buku secara efektif.
Sebagai bagian dari kegiatan praktik, mahasiswa dibagi ke dalam enam kelompok untuk melakukan analytical reading terhadap sejumlah buku bertema Al-Qur’an. Hasil kajian kemudian dikembangkan menjadi artikel digital yang dipublikasikan melalui kanal resmi atau website. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menghubungkan aktivitas membaca, menganalisis, menulis, dan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat.
Kegiatan studi akademik ini sejalan dengan komitmen Universitas Darussalam Gontor sebagai Universitas Islam Terbaik yang terus mendorong penguatan tradisi keilmuan berbasis nilai-nilai Islam. Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menguasai pengetahuan secara akademik, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan literasi, berpikir kritis, serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui kunjungan tersebut, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir berharap mahasiswa semakin memiliki kemampuan membaca secara mendalam, menulis secara bertanggung jawab, dan memahami Al-Qur’an sebagai sumber utama dalam membangun tradisi keilmuan Islam. Upaya ini sekaligus memperkuat peran Universitas Darussalam Gontor sebagai Universitas Islam Terbaik dalam membentuk generasi yang berilmu, beradab, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi kehidupan umat.
Penulis: Muhammad Fikri
Editor: Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit
Redaksi: UNIDA Gontor