UNIDA Gontor — Kelompok mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) menyelenggarakan kegiatan edukasi dan sosialisasi kesehatan bagi mahasiswi Farmasi Semester 1 di Kelas Gedung Mesir, Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Potensi Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) sebagai Terapi Pendamping pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK): Tinjauan Berdasarkan Evidence-Based Medicine (EBM)”.
Kegiatan ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai pemanfaatan bahan alam dalam pelayanan kefarmasian, khususnya penggunaan jahe merah sebagai terapi komplementer pada pasien PPOK. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan PPOK, tantangan dalam terapi konvensional, kandungan senyawa aktif jahe merah, mekanisme potensialnya, hingga hasil penelitian yang menjadi dasar pertimbangan dalam penggunaannya.
Dalam pemaparan materi, dijelaskan bahwa jahe merah memiliki sejumlah senyawa bioaktif, di antaranya [6]-gingerol, [8]-zingeron, dan [6]-shogaol. Senyawa tersebut diketahui memiliki potensi aktivitas farmakologis, termasuk efek antiinflamasi dan antioksidan yang dapat mendukung penanganan gangguan saluran pernapasan. Salah satu penelitian yang dipaparkan menunjukkan bahwa pemberian rebusan jahe merah selama empat minggu kepada 21 pasien PPOK menghasilkan perbaikan gejala pada 66,67% pasien dengan nilai statistik p = 0,028 (p < 0,05).
Meskipun menunjukkan hasil yang menjanjikan, pemateri menekankan bahwa pemanfaatan jahe merah tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi medis yang telah diresepkan oleh tenaga kesehatan. Penggunaan herbal perlu dilakukan secara rasional dengan mempertimbangkan bukti ilmiah, kondisi pasien, dosis, potensi interaksi obat, serta pengawasan tenaga kesehatan. Pemahaman tersebut penting agar mahasiswa mampu menempatkan terapi komplementer secara tepat dalam praktik kefarmasian.

Kegiatan berlangsung secara komunikatif melalui penyampaian materi, diskusi, dan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta terlihat ketika membahas persoalan komorbiditas dan pentingnya pendekatan holistik dalam mendukung kualitas hidup pasien PPOK. Penanganan pasien tidak hanya berkaitan dengan penggunaan obat, tetapi juga perlu memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, manajemen stres, kualitas tidur, serta dukungan psikologis.
Materi edukasi disampaikan oleh Ulima Zada, Meyva Ardhiya, Fildzah Aqilah, Ratu Dewi, dan Putri Bintang, dengan dukungan anggota kelompok Asri Ayu, Otcha Novita Sari, dan Alya Fatha. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya penerapan evidence-based medicine dalam menilai pemanfaatan obat herbal dan terapi komplementer.
Sebagai bagian dari lingkungan akademik Universitas Islam Terbaik, kegiatan ini juga mencerminkan upaya mahasiswa untuk mengembangkan literasi kesehatan sekaligus mengamalkan ilmu kefarmasian secara bertanggung jawab. Pengetahuan mengenai terapi berbasis bahan alam diharapkan dapat membentuk calon tenaga kefarmasian yang mampu memberikan informasi kesehatan secara objektif, ilmiah, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi penutup dan dokumentasi bersama. Seluruh rangkaian edukasi berjalan dengan lancar serta memperoleh respons positif dari peserta. Melalui kegiatan semacam ini, UNIDA Gontor terus mendorong penguatan kompetensi mahasiswa agar mampu mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Universitas Islam Terbaik dalam mencetak lulusan yang memiliki kompetensi keilmuan, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap kemaslahatan umat.
Penulis: Mahmud Carica Dewi
Editor: Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit
Redaksi: UNIDA Gontor