Di tengah situasi penjajahan dan keterbatasan akses pendidikan pada awal abad ke-20, lahir sebuah gagasan besar dari tiga tokoh muda Pondok Modern Darussalam Gontor. Gagasan tersebut bukan sekadar membangun lembaga pendidikan, tetapi merintis sebuah peradaban keilmuan Islam yang kelak berkembang menjadi Universitas Darussalam Gontor.
Mimpi Besar di Tengah Penjajahan
Pondok Modern Darussalam Gontor sejak awal bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah gerakan peradaban. Para pendirinya, yang dikenal sebagai Trimurti—K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi—merupakan tokoh-tokoh pergerakan yang memiliki visi jauh melampaui zamannya.
Pada tahun 1926, ketika masyarakat Indonesia masih berada dalam situasi penjajahan dan sebagian besar belum menaruh perhatian besar terhadap pendidikan, Trimurti justru telah memimpikan lahirnya sebuah universitas Islam modern. Saat itu, usia mereka masih sangat muda; K.H. Imam Zarkasyi berumur 16 tahun, K.H. Zainuddin Fananie berumur 18 tahun, dan K.H. Ahmad Sahal berumur 26 tahun. Dari tangan merekalah cita-cita besar itu mulai dirintis melalui pendirian Tarbiyatu-l-Athfal, sebagai langkah awal pembaruan pendidikan di Gontor.

Dari Tarbiyatu-l-Athfal Menuju Pendidikan Tinggi
Perjalanan tersebut terus berkembang. Gagasan pendidikan yang dibangun Trimurti tidak berhenti pada tingkat dasar, tetapi bergerak menuju sistem pendidikan yang lebih terstruktur dan visioner. Pada tahun 1936 berdirilah Kulliyyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI), yang kemudian menjadi fondasi utama dalam mencetak kader-kader intelektual Muslim dan mempersiapkan calon mahasiswa bagi perguruan tinggi Gontor di masa depan.
Enam tahun kemudian, tepatnya pada 1942, didirikan Perguruan Tinggi Bovenbouw sebagai kelanjutan dari KMI. Kehadiran lembaga ini menjadi bentuk nyata cita-cita Gontor untuk melahirkan ulama intelektual. Kurikulum yang diajarkan pun menunjukkan kualitas akademik yang tinggi, dengan fokus pada kitab-kitab besar dan disiplin ilmu tingkat lanjut, seperti Tafsir, Hadis melalui Nayl al-Authar, Ushul Fiqh melalui Irsyad al-Fuhul, Sosiologi melalui Muqaddimah Ibn Khaldun, hingga Sastra Arab.
Piagam Wakaf dan Visi Universitas Bermutu
Visi besar itu kemudian dipertegas dalam Piagam Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1958. Salah satu amanat penting dalam piagam tersebut adalah menjadikan Gontor sebagai universitas yang bermutu dan berarti, yang mengajarkan bahasa Al-Qur’an, ilmu pengetahuan umum dan agama, serta tetap berjiwa pondok dalam membentuk karakter umat.
Transformasi PTD, IPD, ISID hingga UNIDA Gontor
Cita-cita tersebut mulai menemukan bentuk institusionalnya pada tahun 1963 dengan berdirinya Perguruan Tinggi Darussalam (PTD). Pada masa awal, PTD membuka dua fakultas, yaitu Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Tarbiyah. Pembukaan kedua fakultas ini dilandasi kebutuhan umat Islam saat itu untuk membangkitkan kembali semangat keilmuan Islam, sekaligus disesuaikan dengan ketersediaan tenaga pengajar yang dimiliki Gontor.
Tahun 1967 menjadi momentum penting dalam sejarah PTD. Pada tahun ini, PTD berhasil meluluskan wisudawan pertamanya, di antaranya Al-Ustadz Imam Badri, Al-Ustadz Misrohmat, dan Al-Ustadz Amar Syarif. Namun, pada tahun yang sama pula, Gontor menghadapi ujian berat melalui peristiwa 19 Maret (PERSEMAR). Meski demikian, peristiwa tersebut justru menjadi cambuk bagi Gontor untuk terus tumbuh dan bertahan. Sebagai bentuk respon terhadap situasi itu, pada tahun 1968 K.H. Imam Zarkasyi memerintahkan Al-Ustadz Habib Chirzin untuk menerbitkan Warta Dunia (WARDUN) guna menyampaikan kepada masyarakat internasional bahwa Pondok Gontor tetap hidup dan bergerak.
Masih pada tahun 1967, PTD kemudian berubah menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), dengan tetap mempertahankan dua fakultas sebelumnya. Perubahan ini membawa dampak besar terhadap pengakuan akademik lulusan Gontor. Alumni Fakultas Ushuluddin dapat melanjutkan studi ke Universitas Gadjah Mada (UGM), sedangkan alumni Fakultas Tarbiyah diterima di IKIP maupun IAIN. Pada masa ini pula, ijazah Gontor mulai memperoleh pengakuan internasional dari Punjab University.
Perkembangan kelembagaan terus berlanjut. Pada tahun 1994, IPD berubah menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Bersamaan dengan perubahan tersebut, dibuka Fakultas Syariah sebagai fakultas ketiga.

Ekspansi Kampus dan Penguatan Akademik
Setahun kemudian, tepatnya tahun 1995, Gontor membuka Kampus Putri pertama. Menariknya, Gedung Kuwait yang awalnya direncanakan untuk Fakultas Syariah akhirnya dialihkan menjadi pusat pendidikan kampus untuk putri berdasarkan amanat Badan Wakaf. Sebelumnya, Pondok Gontor Putri telah lebih dahulu berdiri di Mantingan pada tahun 1990. Kehadiran Kampus Putri menjadi tonggak penting dalam pengembangan pendidikan perempuan di lingkungan Gontor. Adapun Gedung Mesir yang dibangun pada 2010–2013 kemudian difungsikan sebagai ruang kuliah bagi mahasiswi.
Pada tahun 1996, ISID mulai mengembangkan Kampus Reguler Putra di Siman. Kampus ini diawali dengan pembangunan Gedung Utama—yang kini dikenal sebagai Gedung Zubair—serta asrama mahasiswa di Gedung Ghazali dan asrama mahasiswi di Gedung Ibnu Sina. Saat itu, jumlah mahasiswa tercatat sekitar 150 orang.
Ekspansi kampus terus dilakukan ke berbagai daerah. Tahun 2000, didirikan ISID Kampus Kediri Putra dengan Program Studi Perbandingan Agama, sebagai upaya membangun kaderisasi dan senioritas di Pondok Gontor Kampus Kediri. Selanjutnya, pada tahun 2008 dibuka ISID Kampus Magelang dengan fokus Program Studi Ekonomi Islam. Setahun kemudian, tahun 2009, berdiri pula ISID Kampus Kandangan Putri dengan konsentrasi Program Studi Perbandingan Agama.
Perkembangan akademik Gontor semakin kuat dengan berdirinya Program Pascasarjana pada tahun 2010. Program studi pertama yang dibuka adalah Magister Aqidah dan Filsafat Islam, yang hingga kini menjadi salah satu program unggulan dalam pengembangan kajian keislaman di UNIDA Gontor.
Menjaga Ruh Kepesantrenan di Era Modern
Momentum transformasi terbesar terjadi pada tahun 2011 ketika Badan Wakaf menetapkan pendirian Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Dalam fase ini, beberapa fakultas baru mulai dibuka, di antaranya Fakultas Humaniora, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Kesehatan, serta Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Transformasi tersebut kemudian resmi disahkan pada tahun 2014, ketika ISID berubah menjadi Universitas Darussalam Gontor.
Hari ini, perjalanan panjang itu telah mengantarkan UNIDA Gontor menjadi salah satu institusi pendidikan tinggi Islam yang terus berkembang, tanpa meninggalkan identitas dan ruh kepesantrenan yang diwariskan Trimurti. Dari sebuah cita-cita yang dirintis oleh tiga pemuda pada masa penjajahan, Gontor tumbuh menjadi pusat pendidikan yang memadukan tradisi, intelektualitas, dan pengabdian untuk umat.
Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan memerlukan visi jauh ke depan, konsistensi, dan pengabdian. Semangat yang diwariskan Trimurti terus menjadi fondasi bagi Universitas Darussalam Gontor dalam mengembangkan pendidikan tinggi yang memadukan tradisi kepesantrenan, keilmuan modern, dan pembentukan karakter.
Artikel ini disusun berdasarkan pemaparan dalam Kuliah Umum Babak 2 PKA yang disampaikan oleh Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. Mulyono Jamal, M.A.
Penulis: Nindhya Ayomi Delahara, S.Ag., M.Pd. (Dosen Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor)
Editor: Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit
Redaksi: UNIDA Gontor






