K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985) dikenal sebagai salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor bersama K.H. Ahmad Sahal dan K.H. Zainuddin Fananie. Di antara Trimurti pendiri Gontor, Imam Zarkasyi sering disebut sebagai arsitek sistem pendidikan modern pesantren di Indonesia. Melalui gagasan dan sistem pendidikan yang dibangunnya, Gontor berkembang menjadi model pesantren modern yang memadukan disiplin, integrasi ilmu agama dan umum, serta pembentukan karakter.
Salah satu momen yang menunjukkan kedekatan K.H. Imam Zarkasyi dengan K.H. Yusuf Hasyim terlihat ketika Imam Zarkasyi wafat pada tahun 1985. Pada prosesi pemakamannya, K.H. Yusuf Hasyim berdiri memberikan sambutan penghormatan. Dalam tradisi pesantren, hal semacam ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol penghormatan mendalam kepada sahabat seperjuangan yang memiliki ikatan emosional dan intelektual yang kuat.
Meski tidak memiliki hubungan darah secara langsung, keduanya terhubung melalui persaudaraan perjuangan, sanad keilmuan pesantren, kedekatan personal, serta visi bersama dalam membangun pendidikan Islam di Indonesia.
K.H. Yusuf Hasyim (1929–2006) sendiri merupakan putra dari Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Ulama Besar Pondok Pesantren Tebuireng. Sosok yang akrab disapa Gus Ud ini dikenal sebagai pengasuh terlama Pesantren Tebuireng sekaligus tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia juga pernah menjadi komandan tertinggi Laskar Hizbullah, sayap militer santri pada masa revolusi.
Kedekatan keduanya semakin terlihat pada masa pemberontakan PKI Madiun sekitar akhir 1940-an. Ketika Pondok Gontor menghadapi tekanan serius dari unsur PKI lokal yang berusaha mengganggu stabilitas pesantren, pasukan Hizbullah yang dipimpin K.H. Yusuf Hasyim bersama K.H. Abdul Kholiq Hasyim turun langsung membantu Gontor. Dalam beberapa catatan sejarah, mereka disebut turut menyelamatkan K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Ahmad Sahal ketika berada dalam situasi pengepungan dan penahanan oleh kelompok PKI di sekitar wilayah Ponorogo dan Gunung Wilis. Kehadiran pasukan Hizbullah saat itu menjadi faktor penting dalam meredam ancaman terhadap Gontor.
Namun, hubungan keduanya tidak hanya terjalin dalam perjuangan fisik dan politik, melainkan juga dalam visi pendidikan Islam. K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Yusuf Hasyim sama-sama dikenal sebagai pembaru pendidikan pesantren pada zamannya.
Gontor dikenal melalui sistem pendidikan modern yang memadukan kurikulum terpadu, disiplin bahasa, manajemen pendidikan yang rapi, serta pembentukan karakter berbasis nilai-nilai pesantren. Sementara itu, K.H. Yusuf Hasyim tetap berpijak pada tradisi pesantren salaf di Tebuireng, namun terbuka terhadap pembaruan dengan memasukkan pelajaran umum dan bahasa asing ke dalam sistem pendidikan pesantren.
Meskipun berangkat dari pendekatan yang berbeda, keduanya memiliki pandangan yang sama bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi pusat pembentukan moralitas, spiritualitas, dan karakter umat. Dari sini tampak bahwa modernitas dalam pandangan para kiai pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan mengembangkan sistem pendidikan agar tetap relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan ruh keislaman dan akhlak.
Dalam perspektif studi komunikasi pendidikan Islam, relasi antara K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Yusuf Hasyim dapat dibaca sebagai bentuk epistemic network dalam tradisi pesantren, yakni jaringan pengetahuan yang tidak hanya dibangun melalui institusi formal, tetapi melalui interaksi personal, sanad keilmuan, dan praktik sosial-keagamaan yang hidup. Model ini menunjukkan bahwa otoritas keilmuan dalam pesantren tidak bersifat tunggal dan hierarkis, melainkan bersifat kolaboratif dan trans-generasional.
Lebih jauh, hubungan keduanya juga memperlihatkan adanya dialektika antara tradisi (turāth) dan modernitas (tajdīd) dalam tubuh pesantren Indonesia. Gontor merepresentasikan institusionalisasi modernitas melalui sistem, manajemen, dan integrasi kurikulum, sementara Tebuireng merepresentasikan kesinambungan tradisi dengan adaptasi selektif terhadap perubahan zaman. Dalam titik temu inilah, pesantren Indonesia menemukan bentuknya yang khas: adaptif tanpa kehilangan akar, modern tanpa tercerabut dari tradisi.
Perjuangan mereka dalam dunia pendidikan kemudian melahirkan institusi besar yang terus berkembang hingga hari ini. Di Gontor, cita-cita Trimurti untuk mendirikan universitas Islam modern mulai dirintis sejak berdirinya Institut Pendidikan Darussalam (IPD) pada 17 November 1963. Lembaga ini kemudian berkembang menjadi Institut Studi Islam Darussalam (ISID), hingga resmi menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor pada tahun 2014.
Menariknya, K.H. Yusuf Hasyim juga memiliki visi yang serupa. Pada tahun 1965, ia mendirikan perguruan tinggi di lingkungan Tebuireng yang kemudian dikenal sebagai Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Tebuireng Jombang. Pada masa itu, gagasan mendirikan universitas di lingkungan pesantren dianggap tidak lazim, bahkan sempat dipandang akan berbenturan dengan tradisi pendidikan pesantren. Akan tetapi, baik Gontor maupun Tebuireng justru berhasil membuktikan bahwa pesantren mampu berkembang menjadi pusat pendidikan tinggi tanpa kehilangan identitasnya.
Yang menarik dari hubungan K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Yusuf Hasyim adalah kenyataan bahwa para kiai besar Indonesia pada masa itu tidak terjebak pada sekat organisasi maupun perbedaan corak pendidikan. Imam Zarkasyi yang identik dengan modernisme pesantren tetap memiliki hubungan hangat dengan keluarga Tebuireng yang dikenal sebagai representasi tradisi Nahdlatul Ulama.
Dalam kultur pesantren lama, ukhuwah antarkiai jauh lebih penting dibanding perbedaan metode pendidikan. Hubungan mereka menunjukkan bahwa pesantren Indonesia dibangun di atas rasa hormat, adab, dan perjuangan bersama dalam membangun umat.
Jika ditelusuri lebih dalam, keduanya juga terhubung dalam jaringan sanad intelektual ulama pesantren Jawa. K.H. Imam Zarkasyi memiliki hubungan genealogis dan keilmuan dengan tradisi Pesantren Tegalsari Ponorogo serta jaringan ulama Kiai Ageng Hasan Besari. Semangat pembaruannya semakin berkembang ketika belajar di Padang Panjang dan berinteraksi dengan gagasan modernisasi pendidikan Islam yang dibawa Mahmud Yunus dan pembaru Islam Timur Tengah.
Sementara itu, jalur keilmuan K.H. Yusuf Hasyim terhubung langsung dengan jaringan ulama besar Nusantara dan Haramain melalui ayahnya, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, yang merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh Mahfudz at-Tarmasi dan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sejak kecil, Yusuf Hasyim tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat, kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke berbagai pesantren besar seperti Sedayu Gresik dan Krapyak Yogyakarta.
Menariknya, K.H. Yusuf Hasyim juga pernah belajar di Pondok Modern Gontor untuk memperluas wawasan keislamannya melalui sistem pendidikan modern. Pengalaman inilah yang semakin mempererat hubungan emosional dan intelektualnya dengan K.H. Imam Zarkasyi.
Pada akhirnya, hubungan K.H. Imam Zarkasyi dan K.H. Yusuf Hasyim memperlihatkan bahwa pesantren Indonesia tumbuh bukan melalui persaingan identitas, melainkan melalui jaringan ukhuwah, sanad keilmuan, dan cita-cita bersama dalam membangun peradaban Islam melalui pendidikan. Dalam konteks kontemporer, warisan intelektual dan kelembagaan yang ditinggalkan Gontor dan Tebuireng menjadi bukti bahwa pesantren memiliki kapasitas untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas epistemologisnya. Oleh karena itu, hubungan kedua tokoh ini layak dipahami bukan hanya sebagai kisah historis, tetapi sebagai model paradigma pendidikan Islam yang integratif, kolaboratif, dan berorientasi pada pembangunan peradaban.
Penulis: Nindhya Ayomi Delahara, S.Ag., M.Pd. (Dosen Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor)
Editor: Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit
Redaksi: UNIDA Gontor






