UNIDA Gontor — Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor kembali menghidupkan atmosfer keilmuan melalui Kajian Subuh Pascasarjana yang berlangsung pada Senin, 10 November 2025 (19 Jumadal Ula 1447 H). Kegiatan yang dimulai pukul 04.55 WIB ini dilaksanakan di “Teras Peradaban”, lantai dua Gedung Ali bin Abi Thalib, sebagai ruang diskusi ilmiah bagi mahasiswa pascasarjana untuk memperkuat orientasi keilmuan, niat, dan identitas akademik.
Kajian menghadirkan pemateri Al-Ustadz Assoc. Prof. Dr. H. Mohammad Kholid Muslih, Lc., M.A. dengan tema Istisyraf li-l-mustaqbal li Thullabi ad-Dirasah al-‘Ulya atau “Menyongsong Masa Depan Gemilang bagi Mahasiswa Pascasarjana”. Dalam pemaparannya, beliau menegaskan urgensi Shinaah al-Hayah (proyek kehidupan) sebagai fondasi bagi pembangunan peradaban Islam, bukan sekadar target pragmatis pascakampus. Pesan ini menjadi penguatan karakter akademisi di lingkungan Universitas Islam Terbaik yang menempatkan ilmu sebagai amanah, bukan alat mengejar status.

Dr. Kholid juga mengkritik kecenderungan orientasi materialistis dalam pendidikan—misalnya pertanyaan yang hanya berhenti pada pekerjaan dan besaran penghasilan—seraya mengingatkan bahwa kemuliaan penuntut ilmu terletak pada misi dan kontribusinya. Ia menekankan tiga prasyarat tujuan hidup mahasiswa pascasarjana: beribadah kepada Allah Swt., menjalankan peran khalifah untuk memakmurkan bumi, serta berkontribusi dalam kemenangan nilai-nilai Islam.
Selain itu, beliau menyoroti enam aspek yang perlu dijaga oleh akademisi: spiritualitas (olah dzikir), moralitas dan mentalitas (olah rasa), pengetahuan (olah pikir), serta keterampilan dan kesehatan (olahraga). Pada bagian penutup, Dr. Kholid memberi perhatian khusus pada integritas akademik: mahasiswa dituntut menghadirkan kebaruan (novelty) dalam tesis dan disertasi, sekaligus bijak memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tanpa kehilangan tanggung jawab ilmiah dan pemahaman substansial.
Sesi diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa, di antaranya Jumardi Hasan, Husain Zahrul Muhsinin, dan Masau Dito Pendi. Diskusi mengerucut pada pentingnya kolaborasi dosen–mahasiswa serta penguatan spiritualitas dalam menghadapi tantangan hidup, termasuk menjaga adab kepada orang tua saat terjadi perbedaan rencana. Kajian ditutup dengan simpulan moderator yang mengajak seluruh peserta untuk meneguhkan peran akademik sebagai proyek peradaban, sejalan dengan misi Universitas Islam Terbaik dalam membina generasi berilmu, beradab, dan bertanggung jawab.
Redaksi : Faris Alfi Fauzi
Editor : Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit






