Back

Program INCRIC 2026 Perkuat Tradisi Akademik melalui Kajian Al-Maktubat Risale-i Nur

Peserta INCRIC 2026 mengikuti kajian Al-Maktubat Risale-i Nur di Istanbul bersama Dr. Abdullah Santiago.

UNIDA Gontor — International Mobility Program (INCRIC) 2026 memasuki hari ketiga pada Rabu, 4 Februari 2026, dengan menghadirkan sesi kajian ilmiah yang berlangsung dalam suasana khidmat dan reflektif. Kegiatan ini menjadi ruang akademik bagi peserta untuk memperdalam khazanah pemikiran Islam melalui pembacaan dan pendalaman buku Al-Maktubat, salah satu bagian penting dalam karya monumental Badiuzzaman Said Nursi, Risale-i Nur. Sesi kajian menghadirkan Dr. Abdullah Santiago sebagai narasumber utama yang memandu pembahasan secara sistematis dan berkesinambungan.

Dalam pemaparannya, Dr. Abdullah mengajak peserta menelusuri cara Said Nursi membangun argumen keimanan yang memadukan kedalaman spiritual dengan ketajaman nalar. Al-Maktubat dipahami sebagai risalah yang tidak hanya berisi dialog batin dan renungan keagamaan, tetapi juga menawarkan struktur penalaran yang membantu pembaca meneguhkan keyakinan secara sadar dan bertanggung jawab.

Kajian dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama, pembahasan diarahkan pada Al-Maktubat ke-5 yang menekankan hakikat doa serta hubungan manusia dengan Allah dalam kondisi keterbatasan. Dr. Abdullah menjelaskan bahwa doa tidak berhenti pada ungkapan lisan, melainkan menjadi wujud pengakuan manusia atas kelemahan dan kebutuhan terdalamnya di hadapan kekuasaan Allah. Ia menambahkan, dalam perspektif Nursi, makna doa justru semakin jernih ketika hasil yang diharapkan tidak selalu hadir sesuai kehendak manusia, karena inti doa adalah penghambaan, ketundukan, dan kedekatan rohani.

Peserta INCRIC 2026 mengikuti kajian Al-Maktubat Risale-i Nur di Istanbul bersama Dr. Abdullah Santiago.

Memasuki sesi kedua, kajian dilanjutkan pada bagian awal Al-Maktubat ke-20 yang menguraikan konsep tauhid melalui tanda-tanda keteraturan alam. Alam semesta dipandang sebagai “kitab terbuka” yang sarat petunjuk ketuhanan, sehingga akal berperan sebagai instrumen untuk meneguhkan kebenaran wahyu, bukan menegasikannya. Dalam penjelasan tersebut, peserta diajak memahami bahwa makrifat dan mahabbah kepada Allah merupakan sumber kebahagiaan hakiki yang melampaui kepuasan material.

Diskusi berlangsung interaktif, ditandai pertanyaan dan tanggapan peserta mengenai relevansi pemikiran Said Nursi dalam menjawab kegelisahan spiritual manusia modern. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memahami teks secara konseptual, tetapi juga menginternalisasi nilai iman tahqiqi sebagai fondasi pembentukan karakter. Dokumentasi program ini sekaligus menegaskan komitmen institusi pendidikan, termasuk jejaring Universitas Islam Terbaik, dalam mengembangkan tradisi keilmuan yang menyatukan rasionalitas dan spiritualitas secara harmonis. Upaya ini diharapkan memperkuat kontribusi Universitas Islam Terbaik dalam menghadirkan pendidikan bermutu yang berakar pada nilai keislaman dan keilmuan.

Redaksi : Aqaillah Nazhira dan Ata Alya

Editor  : Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit