UNIDA Gontor – International Mobility Program INCRIC 2026 Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor resmi menutup rangkaian kegiatan akademiknya di Istanbul Foundation for Science and Culture (IFSC), Turki, pada hari kelima pelaksanaan program. Penutupan diisi dengan penyampaian materi terakhir oleh Dr. Isam Bayati, nasihat penutup dari Direktur IFSC Prof. Dr. Said Yuce, serta penyerahan sertifikat kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.
Sebelum seremoni penutupan, sesi terakhir diawali dengan pemaparan Dr. Isam Bayati bertema “Al-Haqqu Ya’lu wa Lā Yu‘lā ‘Alaihi”, yang dirujuk dari karya Risale-i Nur, khususnya bagian Al-Lawāmi‘ dan Al-Kalimāt. Materi tersebut membahas akar persoalan keterbelakangan umat Islam di era kontemporer.

Dalam paparannya, Dr. Isam menjelaskan bahwa Allah menetapkan dua bentuk syariat dalam kehidupan manusia, yaitu syariat takwîniyah dan syariat rabbâniyah. Syariat rabbâniyah mencakup perintah dan larangan ibadah, seperti salat, puasa, zakat, serta ketentuan halal dan haram. Sementara itu, syariat takwîniyah merujuk pada hukum-hukum Allah yang berlaku pada seluruh ciptaan-Nya—sering disebut sunnatullah—yang dapat diamati melalui fenomena alam, seperti peredaran planet, sistem biologis manusia, dan proses alam lainnya. Karena itu, manusia diperintahkan untuk mempelajari ciptaan Allah sebagai bagian dari upaya memahami hukum-hukum tersebut.
Ia menambahkan bahwa pelanggaran terhadap kedua jenis syariat memiliki konsekuensi. Dampak pelanggaran syariat rabbâniyah umumnya berkaitan dengan pertanggungjawaban moral di akhirat, sedangkan pelanggaran syariat takwîniyah menimbulkan akibat langsung dalam kehidupan dunia. Sebagai contoh, pola makan berlebihan dapat menimbulkan gangguan kesehatan sekaligus bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang sikap berlebih-lebihan, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-A‘raf ayat 31.

Program kemudian ditutup secara resmi oleh Prof. Dr. Said Yuce. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas partisipasi mahasiswa UNIDA Gontor dan berharap ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi peserta dan masyarakat luas. Ia juga menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang ketuhanan sebagai fondasi menghadapi berbagai tantangan pemikiran modern.
Pada akhir acara, dilakukan penandatanganan implementasi kerja sama antara IFSC dan UNIDA Gontor yang diwakili Dr. Isom Mudin dan Prof. Said Yuce. Kerja sama ini diharapkan memperluas kajian Risale-i Nur di Indonesia sekaligus membuka peluang penyelenggaraan program serupa secara berkelanjutan.
Penutupan program menjadi momentum refleksi bagi peserta untuk mengembangkan ilmu yang diperoleh serta memperkuat tanggung jawab akademik dan sosial. Program ini diharapkan melahirkan generasi akademisi muda yang adaptif di tingkat global, memiliki kedalaman intelektual, dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam serta mewujudkan SDM UNIDA Gontor sebagai salah satu universitas Islam terbaik.
Redaksi: Farrel Fathi
Editor: Rifki Aulia






