UNIDA Gontor — Sabtu siang, 3 Januari 2026, pukul 12.14 WIB, kami kehilangan seorang guru, kiai, dan teladan. Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, MA., Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, berpulang di RS Moewardi Solo. Pergi dengan tenang, meninggalkan jejak yang panjang dalam dunia pendidikan Islam dan dalam ingatan para sahabat & muridnya.
Beliau adalah sosok yang tumbuh bersama ilmu. Dari pondok Gontor, IPD Gontor, lalu IAIN Sunan Ampel Surabaya, kemudian merantau ke Kairo menekuni filsafat Islam, hingga meraih doktor di Universiti Malaya. Tahun 2014, putra ke-4 K.H. Imam Zarkasyi ini dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Aqidah di UNIDA Gontor. Tapi bagi kami, gelar-gelar itu tak pernah membuat beliau berjarak. Tetap sederhana, tegas, dan fokus pada amanah ilmu.
Sebagai santri, saya merasa sangat beruntung dapat belajar langsung kepada beliau pada tiga jenjang pendidikan—S1 hingga S3—di Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UNIDA Gontor. Pada jenjang S1, beliau mengampu mata kuliah ʿIlm al-Kalām, Nuṣūṣ Kalāmiyyah, dan Qaḍāyā Kalāmiyyah Muʿāṣirah. Di jenjang S2, beliau mengajar ʿIlm al-Kalām dan Isu-Isu Kalām Kontemporer, yang kemudian berlanjut hingga jenjang S3. Konsisten—dari awal hingga akhir.
Kiai Amal dosen yang luar biasa disiplin. Pernah suatu pagi beliau minta kuliah dimulai jam 7.00–9.00, padahal setelah itu beliau harus segera ke Bandara Solo. Pernah juga sebaliknya, baru saja sampai setelah perjalanan jauh, beliau tetap ingin kami masuk kelas untuk menyimak presentasi kami dan memberi catatan. Padahal kami tahu, pasti beliau lelah sekali.
Di ruang kelas, terutama saat kami mempresentasikan artikel, Kiai Amal kerap melontarkan pertanyaan sederhana namun menguji: “Mā mauqifuka minhu?” atau “mādza naqduka?” Bagi beliau, mahasiswa pascasarjana tidak cukup hanya memahami isi bacaan, tetapi harus mampu mengambil posisi dan menyusun kritik—buah dari membaca dengan sungguh-sungguh dan berpikir mendalam.
Ketika kesimpulan kami meleset, beliau akan segera menanggapi dengan kalimat khasnya, “hādza ghalat,” tegas namun dibalut nada jenaka. Sering kali kami tersenyum kecil mendengarnya, meski di balik senyum itu ada kesadaran yang menohok: bacaan kami belum cukup, atau analisis kami masih dangkal. Dari situlah pelajaran paling berharga kami terima—tentang kejujuran intelektual, disiplin berpikir, dan kesungguhan menuntut ilmu. Pelajaran itu terus melekat, jauh melampaui ruang kelas pascasarjana AFI.
Dalam kontribusi keilmuan, karya beliau sangat banyak dan menjadi pegangan kami: diktat ʿIlm al-Kalām, Nuṣūṣ Kalāmiyyah, ʿAqīdat al-Tawḥīd ʿinda al-Falāsifah wa al-Mutakallimīn wa al-Ṣūfiyyah, al-Salaf wa al-Salafiyyah fī al-Fikr al-Islāmī, sampai pidato guru besar beliau tahun 2014, Naḥwa ʿIlm al-Kalām al-Jadīd. Dari tulisan-tulisan itulah saya pelan-pelan mengenal peta besar ilmu kalam—baik tema utamanya maupun tokoh-tokohnua, dari klasik hingga kontemporer.
Dari situ muncul satu tekad pribadi: “Saya harus produktif seperti beliau; menulis buku rujukan/muqarrar untuk setiap mata kuliah yang saya ampu kelak.” Pelan-pelan saya coba wujudkan, meski sadar betul, jejak beliau terlalu jauh untuk dikejar.
Bagi Kiai Amal, ilmu kalam bukan sekadar debat teologis antar mazhab. Kalam adalah ilmu yang hidup: meneguhkan aqidah, mengkritik isme-isme modern, dan menjadi fondasi filosofis bagi pengembangan ilmu-ilmu. Inilah warisan intelektual beliau—dan sekaligus PR besar bagi kami, murid-muridnya.
Beliau tidak hanya meninggalkan buku, tapi juga manusia. Murid-murid ideologis, peneliti, dan dosen yang siap melanjutkan jalan keilmuan yang telah beliau rintis. Didikan beliau di S2 dan S3 telah melahirkan banyak kader ilmu. Sahabat saya, Dr. M Shohibul Mujtaba adalah satu di antara kader terbaiknya. Di disertasi S3 ia mengkaji kalam jadid Syiblī an-Nu’mani di bawah supervisi Kiai Amal, dan telah menjadi asisten beliau mengampu mata kuliah Ilmu Kalam di program Pascasarjana.
Banyak sekali kenangan indah lain bersama beliau yang ingin saya bagikan. Kenangan kecil bersama justru paling membekas. Selain menguji tesis S2 saya, beliau sering menanyakan progres disertasi ketika S3. Kadang beliau yang menyapa duluan, “Faqih, sudah bab berapa disertasinya? Segera, nanti saya siapkan penguji eksternal dari luar negeri.” Tahun 2023 kami sidang terbuka; hampir diuji Prof. Alparslan Açikgenç dari Turki, tapi qadarullah belum terjadi. Meski begitu, perhatian beliau tak pernah berubah.
Hari ini dan seterusnya akan banyak santri menulis tentang beliau: kegigihan membangun pendidikan Islam, memperjuangkan mu‘adalah pesantren, keluasan ilmu, dan adabnya. Memang begitulah almarhum menginspirasi kami semua, sebagau sosok yang digambarkan oleh ayahandanya dengan kata-kata, “tamak ilmu pengetahuan dan gandrung perjuangan”.
Dan bagi saya pribadi, Kiai Amal adalah wujud nyata dari syair:
إنما المرء حديث بعده
فكن حديثًا حسنًا لمن وعى
“Seseorang hidup lewat cerita setelah ia tiada. Maka jadilah cerita bagi hati yang mengerti.” Dan beliau meninggalkan cerita yang baik, sangat baik.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Kiai Amal, menerima seluruh amal ibadahnya, dan menganugerahkannya husnul khatimah. Semoga keluarga yang ditinggalkan dan keluarga besar Gontor diberi kesabaran dan kekuatan.
Al-Fatihah.
Redaksi: Muhammad Faqih Nidzom (Alumni Gontor 2008, ISID 2013, S2 UNIDA Gontor 2017, S3 2023)






