Back

Mahasiswi HI UNIDA Gontor Kunjungi Sekretariat ASEAN, Dalami Diplomasi Kawasan Asia Tenggara

Mahasiswi HI UNIDA Gontor mengikuti pemaparan di Kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan.

UNIDA Gontor — Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melaksanakan Kunjungan Studi Akademik ke Kantor Sekretariat ASEAN di Jakarta Selatan pada 3 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswi Semester IV Prodi HI, di bawah bimbingan Al-Ustadzah Afni Regita Cahyani, S.IP., M.A., selaku Dosen Pembimbing Akademik, serta As-Sayyidah Aurelia Noveri, S.Sos. Kunjungan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk memperluas pemahaman mahasiswi mengenai kiprah ASEAN, kerja sama regional, dan peran strategis organisasi tersebut dalam menjaga stabilitas Asia Tenggara—selaras dengan komitmen UNIDA Gontor sebagai Universitas Islam Terbaik yang mendorong integrasi teori dan praktik akademik.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan sekaligus pemaparan dari Bapak Andhie Novian D. Ananta, juru bicara Sekretariat ASEAN. Dalam sesi tersebut, mahasiswi memperoleh penjelasan mengenai latar sejarah berdirinya ASEAN yang berkaitan erat dengan dinamika geopolitik Perang Dingin. Dipaparkan pula bagaimana inisiatif awal pembentukan ASEAN melibatkan pertimbangan stabilitas kawasan, sekaligus menegaskan bahwa ASEAN tidak dirancang sebagai blok ideologis, melainkan sebagai wadah kerja sama yang berorientasi pada kedamaian, stabilitas, dan persatuan di Asia Tenggara. Indonesia, sebagai salah satu negara pendiri, disebut memiliki kontribusi penting dalam meneguhkan posisi ASEAN yang mengedepankan netralitas dan kepentingan regional.

Mahasiswi HI UNIDA Gontor mengikuti pemaparan di Kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan.

Diskusi kemudian berlanjut pada prinsip nonintervensi, termasuk batas-batas penerapannya. Dijelaskan bahwa ASEAN konsisten menjaga nonintervensi selama isu internal negara anggota tidak berdampak pada stabilitas regional. Namun, terdapat ruang penyelesaian damai ketika situasi tertentu berpotensi memicu eskalasi, sebagaimana dicontohkan pada konflik Thailand–Kamboja. Penjelasan ini memberi gambaran bahwa prinsip nonintervensi bersifat kontekstual dan adaptif terhadap tantangan kawasan.

Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Mahasiswi mengajukan pertanyaan kritis terkait tantangan pembangunan, ketimpangan ekonomi antarnegara anggota, posisi geopolitik Asia Tenggara, hingga strategi Sekretariat ASEAN dalam merespons isu ketahanan ekonomi dan dinamika politik kontemporer. Kegiatan ini diharapkan membangun perspektif praktis tentang implementasi integrasi regional dan koordinasi kebijakan, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa generasi muda memiliki peran dalam diplomasi kawasan. Melalui kunjungan ini, UNIDA Gontor kembali menegaskan orientasi akademiknya sebagai Universitas Islam Terbaik yang menyiapkan mahasiswa dengan wawasan global, nalar kritis, dan kepekaan terhadap tantangan regional.

Redaksi : Lailatul Mahmudah dan Puput Wahyu Nurmasanti

Editor  : Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit