Back

Ketika Para Guru Gontor Menyemai Langit Dengan Doa

Penulis: Erdy Nasrul

“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” begitu ucap seorang santri ketika berkunjung ke salah satu masyayikh di Pondok Modern Darussalam Gontor.

Di belakang Gedung Saudi, pintu sebuah rumah sederhana terbuka perlahan. Rumah itu tak megah, namun menghadirkan keteduhan, seperti hati penghuninya. “Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh,” jawab sang guru sepuh dengan suara yang lembut, penuh kesahajaan.

“Sebentar ya, Nak. Saya sedang mendoakan, mengirimkan Fatihah untuk para santri dan alumni yang pernah saya ajar,” ujarnya pelan.

Santri itu pun duduk menunggu di teras. Angin sore berembus tipis. Di dalam rumah, sang guru melanjutkan munajatnya, lirih, khusyuk, seperti seseorang yang sedang berbicara intim dengan langit. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan wajah yang teduh. Doa-doa itu seolah masih menggantung di udara, mengalir tak terlihat namun terasa.

Sejak lama, Gontor memang bukan sekadar tempat belajar; ia adalah ruang munajat yang selalu ada. Di setiap sudutnya, doa seperti denyut nadi yang tak henti berdetak. Pak Sahal dahulu membiasakan itu dalam kesehariannya. Pak Zar juga demikian. Mereka mendirikan shalat di berbagai penjuru lahan pondok, seakan menanam tanda-tanda ruhani di atas tanah wakaf itu. Seolah-olah setiap sajadah yang dibentangkan adalah pernyataan sunyi: bahwa pondok ini bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi tanah yang diberkahi, tempat lahirnya penjaga-penjaga peradaban.

Dalam biografi KH Imam Zarkasyi, dikisahkan perjuangan panjang putranya, Prof KH Amal Fathullah memperjuangkan mu’adalah Gontor dengan perguruan tinggi di Mesir. Perjuangan itu tidak ringan, ia menuntut kesabaran, diplomasi, dan keyakinan. Ketika akhirnya berhasil, rasa syukur Pak Zar meluap bukan dalam pidato panjang, melainkan dalam sujud yang panjang.

Putra bungsu KH Santoso Anom Besari dan Nyai Sudarmi itu mengekspresikan syukurnya dengan menyembelih seekor lembu. Namun lebih dari itu, ia menunaikan shalat sunnah hingga 400 rakaat. Empat ratus rakaat, angka yang bagi kebanyakan orang terdengar mustahil. Tetapi bagi seorang hamba yang hatinya dipenuhi rasa syukur, angka hanyalah hitungan; yang utama adalah cinta dan penghambaan.

Pernah terlintas tanya: bagaimana mungkin beliau menghitungnya? Jawabannya sederhana sekaligus menggetarkan. Pak Zar mencatat setiap rakaat dalam buku kecilnya (kutaib). Catatan itu disimpan oleh salah seorang anaknya, bukan sekadar sebagai arsip, tetapi sebagai warisan sunyi tentang disiplin ruhani dan cinta pada Allah. Warisan yang, insya Allah, terus diamalkan.

Bagi siapa pun yang pernah hidup di Gontor, pemandangan para pengasuh dan guru yang berdzikir bukanlah hal asing. Pak Hasan kerap tiba-tiba beristighfar, bertasbih, bertahmid. Ketika tangannya dicium santri, bibirnya bershalawat. Dan mungkin, di dalam hatinya, doa-doa kembali terangkat, untuk pondok, untuk para santri, untuk para alumni, untuk wakaf yang menjadi nadi kehidupan Gontor. Dan masih banyak lagi doa-doa mereka yang tulus mengharapkan keberlanjutan Gontor.

Di sana, doa bukan hanya ritual; ia adalah energi. Ia mengalir dari generasi ke generasi, seperti mata air yang tak pernah kering. Doa para masyayikh menjadi fondasi tak terlihat yang menjaga keberlanjutan kebaikan, bukan hanya di dalam pagar pondok, tetapi juga di hamparan negeri yang lebih luas.

Barangkali itulah rahasia Gontor: bukan semata kurikulum, bukan pula sekadar bangunan dan sistemnya. Melainkan doa-doa yang diucapkan dalam sepi, sujud-sujud yang ditunaikan tanpa sorot cahaya, dan hati-hati yang tak pernah lelah memohon agar ilmu melahirkan hikmah, dan hikmah melahirkan penjaga-penjaga zaman.