UNIDA Gontor — Mahasiswi Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengadakan kegiatan Sit in Class di Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya pada Senin, 24 November 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 14 mahasiswi Semester 4 dan didampingi langsung oleh dosen pembimbing akademik, Miftahul Huda, M.E. dan Ahmad Suminto, S.H., M.E. Sebagai salah satu Universitas Islam Terbaik di Indonesia, UNIDA Gontor terus mendorong pembelajaran yang mengintegrasikan teori di kelas dengan pengalaman langsung di lembaga profesional.
YDSF merupakan lembaga filantropi yang berfokus pada penghimpunan, pengelolaan, dan pendistribusian dana sosial seperti zakat, infak, sedekah, serta program sosial lainnya. Seluruh aktivitas lembaga dikelola secara profesional dan transparan dengan orientasi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemberdayaan umat. Melalui kunjungan ini, mahasiswi diajak untuk memahami bagaimana lembaga filantropi Islam merancang program, mengelola dana amanah, serta memastikan distribusi yang tepat sasaran sesuai ketentuan syariah.
Kegiatan diawali dengan sambutan dosen pembimbing akademik, Miftahul Huda, M.E. Dalam pengantarnya, beliau menegaskan pentingnya lembaga filantropi Islam dalam arsitektur ekonomi umat. Menurutnya, lembaga seperti YDSF tidak hanya berperan sebagai penyalur dana sosial, tetapi juga sebagai institusi yang menjamin tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan semangat pendidikan di UNIDA Gontor yang menekankan keseimbangan antara ilmu, amal, dan pengabdian.

Pihak YDSF Surabaya yang diwakili oleh Aries Munandar dan Purnomo menyambut hangat rombongan mahasiswi. Dalam sesi pemaparan, mereka menjelaskan sejarah berdirinya Yayasan Dana Sosial Al-Falah, visi dan misi lembaga, serta berbagai program utama yang dijalankan. Program tersebut meliputi bidang pendidikan, pemberdayaan anak yatim, penguatan fungsi masjid, dakwah, pendayagunaan sosial, hingga respons kemanusiaan. Setiap program dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara komprehensif dan berkelanjutan.
Pada sesi materi inti, pemateri juga menguraikan perbedaan mendasar antara zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Zakat, infak, dan sedekah dipaparkan sebagai bentuk distribusi dana sosial yang dapat bersifat konsumtif maupun produktif, dengan kewajiban penyaluran dana hingga tuntas kepada mustahiq sesuai ketentuan syariah. Sementara itu, wakaf dijelaskan sebagai harta atau aset yang nilai pokoknya harus dijaga agar tidak berkurang, sehingga membutuhkan pengelolaan jangka panjang agar manfaatnya dapat terus mengalir untuk kepentingan umum.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswi tampak aktif mengajukan pertanyaan kritis terkait praktik pengelolaan zakat dan wakaf, strategi pemberdayaan mustahiq, serta tantangan yang dihadapi lembaga filantropi di era digital. Interaksi dua arah ini menjadi sarana pembelajaran yang kaya, sekaligus membuka wawasan mereka mengenai dinamika kerja lembaga filantropi Islam di lapangan.
Secara keseluruhan, kegiatan Sit in Class ini berlangsung tertib, interaktif, dan penuh antusiasme. Mahasiswi memperoleh gambaran nyata tentang bagaimana nilai-nilai filantropi Islam diimplementasikan dalam pengelolaan dana sosial yang profesional. Pengalaman ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman akademik sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial para peserta. Bagi UNIDA Gontor sebagai salah satu Universitas Islam Terbaik, kegiatan semacam ini menjadi bagian penting dari upaya mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga peka terhadap kebutuhan umat dan siap berkontribusi dalam penguatan ekosistem ekonomi syariah.
Redaksi: Miftahul Huda
Editor : Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit






