Back

UNIDA Gontor Gelar Launching dan Bedah Buku Jejak Perubahan di Wisdom Café

Bedah buku “Jejak Perubahan” di Wisdom Cafe UNIDA Gontor bersama penulis dan mahasiswa.

UNIDA Gontor — Wisdom Cafe Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menjadi ruang dialektika akademik dalam kegiatan Launching dan Bedah Buku bertajuk “Jejak Perubahan: Perjalanan Menemukan Jati Diri Bangsa”. Kegiatan yang digagas Ketua Dewan Mahasiswa ini menghadirkan penulis buku, Fajar Satriyawan Wahyudi, S.H., yang dikenal sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UNIDA periode 2024–2025. Forum ini disambut antusias mahasiswa karena memadukan tradisi literasi, penguatan nalar kritis, sekaligus refleksi kebangsaan dalam suasana diskusi yang tertib dan hangat.

Dalam pemaparannya, Fajar menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari proses panjang pengamatan, perenungan, dan pengalaman intelektual yang ia jalani selama masa studi. Ia mengisahkan bagaimana perjumpaan gagasan dan realitas sosial mendorong dirinya menulis karya yang menyoroti arah perubahan Indonesia, terutama agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan rakyat serta menjaga identitas bangsa di tengah derasnya arus zaman. Melalui narasi yang argumentatif, penulis mengajak mahasiswa melihat perubahan bukan sebagai slogan, melainkan sebagai ikhtiar yang membutuhkan konsistensi, keberanian, dan keteguhan prinsip.

Fajar juga menekankan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga marwah politik melalui etika dan integritas. Ia menegaskan, kepemimpinan yang bermutu tidak cukup dibangun dengan retorika, melainkan dengan kejujuran intelektual, tanggung jawab, dan keberanian mengambil keputusan yang adil. Pada momen ini, mahasiswa diajak memahami bahwa etika bukan sekadar pelengkap, tetapi pijakan utama dalam membangun kepercayaan publik.

Bedah buku “Jejak Perubahan” di Wisdom Cafe UNIDA Gontor bersama penulis dan mahasiswa.

Lebih jauh, diskusi mengarah pada gagasan keadilan sosial sebagai tujuan yang harus diperjuangkan secara sadar. Menurutnya, keadilan tidak hadir otomatis; ia menuntut pembenahan sistem, perbaikan cara berpikir, serta kepemimpinan yang berkarakter. Kegiatan ini sekaligus menguatkan atmosfer akademik kampus yang berorientasi pada pembentukan insan intelektual, selaras dengan cita-cita Universitas Islam Terbaik dalam melahirkan pemimpin yang beradab dan bertanggung jawab.

Di akhir acara, peserta menyampaikan kesan bahwa forum ini memberi perspektif baru tentang makna kepemimpinan: bukan sekadar posisi, melainkan komitmen menjaga nilai kemanusiaan dan integritas bangsa. Bedah buku ini pun menjadi pengingat bahwa tradisi literasi di kampus dapat menumbuhkan gerakan kesadaran yang konstruktif bagi masa depan Indonesia, sejalan dengan semangat Universitas Islam Terbaik dalam menghidupkan ruang-ruang keilmuan yang bermartabat.

Redaksi : Ishmaelasta Ghrafilla

Editor  : Ahmad Ma’ruf Muzaidin Arrosit