UNIDA Gontor — Permulaan sebuah masa bakti tidak selalu diawali dengan perubahan figur atau pergeseran struktur. Di UNIDA, awal periode 2026–2030 justru ditegaskan melalui kesinambungan tanggung jawab. Sebagian besar amanah tetap diemban oleh orang-orang yang sama, namun dengan tuntutan yang kini lebih berat, lebih kompleks, dan lebih strategis. Karena itulah pengarahan yang disampaikan oleh Rektor, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil., pada Kamis, 1 Januari 2026, tidak dimaksudkan sebagai seremoni transisi, melainkan sebagai penegasan arah kerja—sebuah hentakan awal untuk memasuki masa bakti baru dengan niat yang diperbarui, semangat yang ditinggikan, dan etos kinerja yang dimatangkan.
Pengarahan ini bukan laporan lima tahunan, bukan pula daftar target administratif. Ia hadir sebagai panggilan kesadaran kolektif: bahwa memasuki term 2026–2030, universitas tidak cukup dijalankan dengan kebiasaan lama. Ia menuntut kesungguhan baru, kejernihan niat, dan keberanian menata ulang cara bekerja—agar UNIDA tetap berdiri sebagai institusi ilmu dan pengabdian, bukan sekadar organisasi yang digerakkan oleh rutinitas.
Universitas Sebagai Amanah, Bukan Korporasi
Sejak awal pengarahan ditegaskan satu prinsip fundamental: UNIDA bukan perusahaan. Ia tidak dikelola dengan logika profit, tidak digerakkan oleh hitung-hitungan keuntungan semata. Universitas ini berdiri di atas amanah keilmuan, pengabdian, dan tanggung jawab mendidik manusia.
Karena itu, jabatan—apa pun bentuknya—tidak boleh dipahami sebagai posisi prestise atau ruang afirmasi diri. Ia adalah titipan. Ada yang berlanjut, ada yang bergeser, ada yang berhenti pada posisi tertentu. Semua itu harus diterima dengan lapang dada. Tidak boleh ada ganjalan, tidak boleh ada rasa saling curiga, apalagi permusuhan tersembunyi. Kita adalah satu keluarga akademik, dan seluruh amanah yang dijalani dengan ikhlas, insya Allah bernilai ibadah.
Pesan ini penting ditekankan di awal masa bakti baru, sebab tanpa fondasi ini, seluruh rencana strategis akan kehilangan ruhnya.
Memurnikan Niat Sebagai Titik Awal Kerja
Nada terdalam dari pengarahan ini adalah niat. Masa bakti baru tidak dimulai dari penyusunan program, melainkan dari pemurnian orientasi batin. Untuk apa kita berada di sini? Untuk siapa kerja ini dilakukan? Ke mana arah universitas ini hendak dibawa?
Apa pun yang kita kerjakan—mengajar, meneliti, mengelola, melayani—harus diarahkan pada kebaikan: kebaikan bagi diri sendiri, bagi institusi, dan terutama bagi mahasiswa. Mahasiswa bukan objek administrasi, melainkan subjek pendidikan. Nilai-nilai yang kita bicarakan di forum resmi harus benar-benar hidup dalam keseharian mereka.
Tanpa niat yang jernih, universitas mudah tergelincir menjadi institusi yang sibuk, tetapi kehilangan makna.
Etos Kerja: Melampaui Jam, Menyentuh Tanggung Jawab
Salah satu penekanan paling konkret dalam pengarahan ini adalah soal etos kerja. Etos kerja tidak boleh direduksi menjadi soal absensi, jam datang, dan jam pulang. Logika “datang pukul 08.00 dan pulang pukul 15.00” adalah logika mekanis, bukan logika amanah.
Realitas akademik tidak seragam. Tidak semua orang memiliki ritme kerja yang sama. Tidak semua tugas hadir pada jam yang sama. Karena itu, ukuran utama etos kerja adalah tanggung jawab: apa yang menjadi tugas kita, itulah yang harus diselesaikan.
Bekerja berarti menyelesaikan amanah, bukan sekadar hadir secara fisik. Inilah etos yang perlu dimaksimalkan pada masa bakti 2026–2030.
Manajemen yang Manusiawi dan Budaya Saling Memahami
Namun etos kerja tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus ditopang oleh manajemen yang manusiawi. Ada kalanya seseorang siap bekerja, tetapi lingkungan kerjanya belum mendukung. Di titik inilah universitas diuji: apakah ia menjadi ruang saling memahami, atau justru arena saling menyalahkan.
Hubungan antardosen, antara dosen dan kaprodi, antara individu dan sistem, harus dijaga dalam semangat kekeluargaan. Tugas yang belum tersampaikan, komunikasi yang kurang lancar, atau perbedaan karakter tidak boleh berkembang menjadi konflik batin.
Semua itu harus diselesaikan dengan kejernihan, karena jika dibiarkan, ia bukan hanya merusak suasana kerja, tetapi juga merusak nilai ibadah dari kerja akademik itu sendiri.
Internasionalisasi yang Realistis dan Beradab
Pengarahan ini juga menegaskan arah internasionalisasi universitas. Internasionalisasi tidak boleh dipahami secara dangkal—sekadar menghadirkan mahasiswa atau dosen asing tanpa kesiapan sistem.
Persoalan bahasa menjadi pelajaran penting. Ketika mahasiswa asing tidak bisa berbahasa Indonesia, sementara dosen lokal belum sepenuhnya siap mengajar dalam bahasa Arab atau Inggris, maka fleksibilitas pedagogis diperlukan. Mahasiswa asing tidak boleh dimarahi atau dipinggirkan. Mereka harus dibimbing dengan cara yang mendidik.
Solusi yang ditawarkan bukan pemaksaan, melainkan penugasan akademik yang bermakna. Kelas internasional dan kelas nasional perlu ditata dengan jujur. Tidak semua dosen harus mengajar dalam bahasa asing. Proses ini bertahap, realistis, dan berorientasi mutu.
Mahasiswa asing yang dibimbing dengan baik akan menjadi duta akademik UNIDA di negaranya masing-masing.
Riset, Publikasi, dan Jalan Menuju Kematangan Akademik
Masa bakti 2026–2030 juga diarahkan pada penguatan riset dan publikasi. Bukan dengan ambisi kosong mengejar peringkat, melainkan dengan kesadaran bahwa martabat universitas riset ditentukan oleh karya ilmiah yang serius dan fokus.
Universitas berkomitmen mendukung dosen yang menulis dan meneliti, terutama mereka yang sedang menuju jabatan guru besar. Kebijakan biaya publikasi, hibah internal, dan program pendampingan diarahkan untuk mutu, bukan sekadar angka.
Kegiatan yang tidak berkontribusi langsung pada penguatan akademik akan mulai diseleksi dengan tegas. Masa bakti baru menuntut fokus, disiplin, dan keberanian meninggalkan hal-hal yang tidak relevan dengan visi keilmuan.
Guru Besar Sebagai Kebutuhan Institusi
Menjadi guru besar bukan ambisi personal, melainkan kebutuhan strategis universitas. Semakin banyak guru besar, semakin stabil program studi, semakin matang institusi.
Pengarahan ini menegaskan bahwa tidak ada niat sedikit pun untuk menghambat proses tersebut. Justru sebaliknya: pimpinan hadir untuk membantu, memfasilitasi, dan membuka jalan. Namun proses ini menuntut kesungguhan, konsistensi, dan kesabaran—karena guru besar adalah puncak dari perjalanan akademik yang panjang dan beradab.
Penutup: Mengawali Masa Bakti Dengan Kerja Terbaik
Pengarahan Kamis itu menandai dimulainya masa bakti 2026–2030 bukan dengan euforia, tetapi dengan kesadaran tanggung jawab. Sebuah awal yang tegas tanpa gaduh, serius tanpa kehilangan kehangatan, dan visioner tanpa tercerabut dari nilai.
Kini, masa bakti baru ini menanti kerja terbaik kita. Bukan kerja biasa, melainkan kerja yang dilandasi niat yang lurus, etos yang kuat, dan kesadaran bahwa setiap peran—sekecil apa pun—adalah bagian dari bangunan besar universitas.
Jika kita mampu memaksimalkan kerja dengan keikhlasan, menjaga adab dalam perbedaan, dan menunaikan amanah dengan sungguh-sungguh, maka masa bakti 2026–2030 bukan hanya akan produktif, tetapi juga bermakna. Dari sinilah UNIDA dapat melangkah lebih tegak: unggul dalam ilmu, matang dalam manajemen, dan kokoh dalam pengabdian.
Saatnya bekerja lebih fokus, lebih semangat, lebih tekun, dan lebih bertanggung jawab. Karena masa bakti baru telah dimulai—dan amanah ini menuntut yang terbaik dari kita semua.
Redaksi: Assoc. Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, M.IRKH (Dosen Universitas Darussalam Gontor)






