Universitas Darussalam Gontor

Saatnya Menelaah Fiqh Maqashid dan Perubahan Sosial

UNIDA GONTOR – Kita terkadang lebih taat terhadap hukum manusia daripada hukum Allah,” kata Wakil Rektor II Universitas Darussalam Gontor, Dr Setiawan Lahuri, MA dalam keynote speech Kajian Fiqh Maqashid dan Perubahan Sosial yang diadakan sebagai bentuk kerjasama antara Perhimpunan Indonesia Madani (IMANI) Jawa Timur dengan Direktorat Islamisasi Ilmu Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo di Hall Hotel UNIDA Gontor, Ahad, (27/1).

“Sebagai ilustrasi, jika kita berkendara dan menemui lampu merah, kita akan berhenti. Kita berhenti karena sadar akan bahaya kecelakaan jika kita melanggar hal tersebut. Berbeda jika kita mendengar adzan, kita hanya mendengarnya terkadang biasa saja dan masih banyak alasan untuk tidak menyegerakan untuk shalat,” ungkap beliau.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, “Sebetulnya, syariat Islam juga memiliki pengaruh, namun akibatnya adalah jangka menengah ataupun jangka panjang yang tidak bisa dilihat langsung pada saat itu juga.”

Dr Setiawan kemudian mengutip ilustrasi KH Hasan Abdullah Sahal tentang politiknya seorang muslim, “Adzan bersuara keras di speaker menara itu politik. Seorang muslim bersyariat secara terang-terangan itu juga politik. Politiknya adalah tingkat tinggi: menginggikan kalimat Allah.”

“Jadi, hal-hal tersebut termasuk maslahat bagi umat Islam. Jangan sampai hal-hal tersebut ditiadakan dengan dalih ‘toleransi’ yang tidak jelas,” papar beliau.

Terkait maqashid syariah, beliau menjelaskan bahwa Maqashid syariah tidak mutlak dibagi 5. “Pembagian tersebut adalah hasil ijtihad yang terjadi dan terpengaruh oleh situasi tertentu, bahkan juga madzhab tertentu. Kita bukan hanya butuh fiqh ikhtilaf, tapi juga fiqh i’tilaf sekaligus. Yang menjadi persoalan adalah sulitnya mengukur ‘kadar’ maslahat suatu perintah tertentu dalam hukum Islam.”

Hal ini, menurut beliau, karena dimensi dari syariat Islam sangatlah luas dan sifatnya pun mendasar. “Untuk itulah dibutuhkan orang-orang yang mendalami disiplin ilmu tertentu dan berkolaborasi dalam mengkaji perkembangan dan perubahan sosial yang cepat. Rekomendasi-rekomendasi yang mutakhir selalu perlu bagi pemerintah dalam mengakomodir kebutuhan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.”

Pada kesempatan tersebut, Dr M Kholid Muslih, MA selaku pemateri juga menambahkah, bahwa seringkali kita terfokus pada perbedaan aliran. “Aliran penafsiran dalam Islam memang selalu wujud. Sebutlah misalnya ada ahlu dzahir dan ahlu ra’yi atau bahasa trend nya adalah tekstual dan kontekstual.”

“Namun terlepas dari itu, perlu diperbanyak madrasah dan lembaga pendidikan untuk ‘menghasilkan’ produk ijtihad dalam merespon tantangan kontemporer, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, dan lainnya. Hal ini penting, karena perubahan sosial terjadi amat cepat. Teknologi, mesin, sistem, dan lainnya pun turut berkembang dan mempengaruhi aspek kehidupan manusia. Hal ini membuat orang muslim harus memilah apa yang baik baginya dan apa yang mencelakakannya.,” papar Dr Kholid yang rutin mengisi halaqah At-Tafsir Al-Munir di Masjid UNIDA Gontor ini.

Beliau turut memaparkan sedikit kajian disertasinya. Beliau menerangkan bahwa di Iran, terdapat majlis yang bersanding dengan pembuat undang-undang. Tujuannya adalah melakukan review terhadap peraturan yang akan dibuat oleh negara. Peraturan tersebut haruslah bermuatan ideologis yang menguntungkan negara dan agama.

Peserta kajian memberikan banyak feedback yang bagus. Hal ini karena mayoritas peserta adalah praktisi dakwah yang juga akademisi, sehingga problem tersebut benar-benar telah riil mereka temukan. Selanjutnya, hasil akhir dari kajian ini adalah masukan agar tim IMANI memperkuat media sosial yang membuat kajian-kajian semacam ini bisa disebarluaskan kepada masyarakat.

“Kerjasama pengadaan ini telah kami rancang pekan lalu, dan Alhamdulillah bisa terlaksana,” papar Dr Uril Bahruddin, ketua IMANI. IMANI digagas oleh professional bidang tertentu. Berdiri tahun 2016, tahun 2018 berkolaborasi bersama banyak akademisi di kampus dalam membuat kajian-kajian keislaman. Hanya terdapat dua cabang di Jawa Timur: Surabaya dan Malang. Anggotanya terdiri atas akademisi dalam berbagai profesi seperti syariat, teknik, kelautan, kedokteran, ekonomi, dan lainnya. [Taqiyuddin / Ed. Taufiq]

Artikel Terkait:

Apakah Menyentuh Perempuan Membatalkan Wudhu?

Saatnya Menelaah Fiqh Maqashid dan Perubahan Sosial

Doa Setelah Wudhu Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

UNIDA Gontor Adakan Konferensi Internasional tentang Usul Fiqh Perdana di Indonesia.

Apa itu “Shalat Sunnah Muthlaqah” sebelum shalat Jumat?

Taufiq Affandi

Taufiq Affandi