Refleksi 7 tahun Laziswaf: Mengapa Lembaga?

Refleksi 7 tahun Laziswaf: Mengapa Lembaga?


Sebagian orang lebih memilih menyalurkan zakat secara mandiri tanpa melalui lembaga. Namun, sebagian yang lain menyatakan bahwa zakat mesti disalurkan kepada lembaga sebagaimana perintah dan sunnah. Tulisan ini mencoba menyajikan kedua perbedaan tersebut, sekaligus menjawab pertanyaan “mengapa zakat harus lewat lembaga?”.

Bagi muzakki yang membayar zakat secara langsung, setidaknya dapat dianalisis memiliki dua alasan utama. Pertama, kepuasan (utility) lebih terasa khususnya ketika berinteraksi langsung dengan penerima zakat (mustahik). Kepuasan inilah yang menjawab pertanyaan mengapa ‘profesi’ pengemis masih tetap eksis.

Alasan kedua adalah kebebasan memilih mustahik. Artinya, muzakki memiliki kuasa untuk menentukan kepada siapa zakatnya diberikan, mulai dari jalur keluarga, tetangga hingga binaan kolega.

Dapat disimpulkan, muzakki, dengan menyalurkan secara mandiri, akan lebih merasakan kepuasan dan kebebasan.

Sebaliknya, terdapat tiga alasan membayar zakat melalui lembaga. Pertama, menjadikan ‘niat’ semakin terjaga. Niat zakat yang utama, adalah melaksanakan perintah agama, karena setiap harta yang diterima, ada hak (titipan) untuk mereka yang membutuhkan (QS. 51:19).

Adapun kebahagiaan hakiki seorang muzakki adalah ketika mampu menunaikan perintah Ilahi, yang bersih (khalish) dari kepentingan dan kepuasan pribadi.

Apabila utiliti menjadi motivasi, maka akan benar adanya teori warm-glow giving dan impure-altruism (Andreoni, 1990), yang intinya tidak ada kedermawanan murni, melain manusia menikmati sesuatu dari aktivitas memberi – the joy of giving. Sebelumnya, Oslon (1965) menyebut hal ini sebagai motif psikologi.

Selanjutnya, alasan kedua, zakat via lembaga lebih maslahat. Hal ini dikarenakan distribusi lebih terorganisasi, tumpang tindih semakin berkurang, martabat penerima tetap terhormat, bahkan lebih selamat.

Kasus ‘zakat maut’ tahun 2008 di Pasuruan adalah contoh absennya koordinasi dan organisasi, yang menjadikan posisi mustahik kurang terhormat, karena harus bersesak-desakan, bahkan sebanyak 21 jiwa pun tak selamat.

Selain itu, tragedi ini juga menjelaskan adanya ‘kepuasan’ pribadi, dari aktivitas face to face dengan penerima yang diposisikan tidak terhormat. Padahal, pada hakikatnya, mereka tidak sedang menerima kebaikan dari seseorang, melaikan mengambil hak rizki mereka yang dijanjikan Sang Pencipta. Sehingga tidak perlu ada rasa ‘utang budi’ apalagi hubungan reciprocity (timbal balik) dari penerima kepada pemberi.

Alasan lainnya adalah zakat itu diambil – khudz (QS. 9:103) oleh petugas. Artinya, ada otoritas atau lembaga yang bertugas mengambil dan menyalurkannya. Perintah ini dipraktekkan sejak zaman Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, khulafaur rasyidin, dan seterusnya.

Otoritas atau lembaga yang dimaksud, saat ini, dapat berupa BAZ, LAZ, panitia zakat desa atau masjid di tempat tinggal terdekat ataupun lembaga zakat di lingkungan kampus.

Oleh karena itu, zakat lewat lembaga lebih menjaga niat, lebih banyak manfaat daripada mudharat, dan yang lebih penting itu merupakan perintah, serta dipraktekkan dalam sunnah.

Di usia Laziswaf UNIDA Gontor yang memasuki 7 tahun (April 2013-2020) banyak yang patut disyukuri. Lembaga yang diinisiasi oleh Almarhum KH. Imam Subakir Ahmad, sebagai wadah warga kampus berzakat dan sedekah. Sebagai amanah, lembaga ini pun langsung dinahkodai oleh Dekan Fakultas Syariah, ketika itu adalah Al-Ustadz Dr. Setiawan bin Lahuri, M.A.

Gayungpun bersambut, lembaga ini langsung direstui dan mendapat izin Pimpinan Pondok KH. Hasan Abdullah Sahal, sehingga resmi beroperasi di lingkungan Pondok Modern. Dalam nasihat dan pengarahan, pada saat peresmian, beliau mengingatkan tentang konsep ‘khudz’ dalam zakat. Mengindikasikan tugas lembaga ini untuk menjemput ‘bola’.

Saat ini, mulai dari Pimpinan Pondok, Rektor, dosen hingga mahasiswa dan mahasiswi telah ikut berpartisipasi dan berkontribusi. Begitu pula manfaatnya, ratusan santri dan mahasantri, putra dan putri, yang terkedala ekonomi, telah terbantu menyelesaikan studi.

Bagi para donatur dan muzakki Laziswaf, disampaikan terima kasih atas pemahaman ‘mengapa lembaga’ selama ini, dan jazakumullah khairan katsiran.

Wallahu A’lam.

Royyan R. Djayusman


Menyalurkan Zakat, Wakaf dan Sedekah

Cara mengirimkan Zakat, Wakaf dan Sedekah ke Laziswaf UNIDA Gontor

Bagaimana cara untuk menyalurkan zakat, wakaf, maupun sedekah melalui Laziswaf UNIDA Gontor? Apakah ada nomer rekening Laziswaf UNIDA Gontor untuk hal tersebut?

Mudah, cukup transfer ke nomer rekening LAZISWAF UNIDA Gontor berikut ini:

Zakat: Bank Mandiri Syariah: 7035 77 1993

Wakaf: Bank Muamalat: 743 000 3753

Sedekah: BRI Syariah: 1010 63 2297

Dengan demikian, menyalurkan zakat, wakaf dan sedekah melalui Laziswaf UNIDA Gontor menjadi mudah.

Ingin mendapat informasi lebih lanjut tentang LAZISWAF UNIDA Gontor, hubungi: +62 853-3656-3336

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *