Universitas Darussalam Gontor

public lecture

Wakil Rektor II Al Ustadz Dr. Setiawan Bin Lahuri, Lc., M.A. dan Dekan Fakultas Syariah Dr. Imam Kamaludin, Lc., M.A. menjadi pembicara Public Lecture yang diselenggarakan oleh Program Studi International Program for Law and Sharia (IPOLS)  Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada hari Selasa, 22 Juni 2021. Acara tersebut dimulai tepat pukul 13.00 WIB.   

Acara di buka oleh dosen IPOLS Nasrullah, S.H., S.Ag., MCL. Dalam acara pembukaan, dosen yang merupakan alumni KMI Gontor tersebut tampak akrab dengan Ustadz Dr. Setiawan Bin Lahuri, Lc. M.A. Acara tersebut dilaksanakan melalui aplikasi Zoom dan peserta dalam acara tersebut mayoritas mahasiswa IPOLS yang sangat antusias mengikuti acara public lecture.

Al Ustadz Dr. Setiawan Bin Lahuri, Lc. M.A. mengawali acara dengan menjelaskan definisi dari wakaf uang. Beliau memaparkan bahwa wakaf yang dilakukan oleh seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang adalah termasuk surat berharga. Selanjutnya beliau menejelaskan tentang sejarah wakaf uang yang dimulai di Mesir pada zaman panglima Salahudin Al-Ayyubi. Hasil dari wakaf tersebut digunakan untuk pembangunan negara seperti membangun masjid, rumah sakit, sekolah, dls. Selain itu di Turki pada awal dinasti Utsmani juga sudah mulai mempraktekkan wakaf uang.

Selanjutnya Al Ustadz Dr. Setiawan Bin Lahuri, Lc. M.A. memaparkan terkait manfaat dari zakat uang jika dikelola dengan baik akan memiliki potensi yang sangat luar biasa sehingga dapat dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur negara. Potensi zakat di Indonesia diperkirakan mencapai 188 trilyun. Tentunya dalam pengelolaannya dibutuhkan public trust terhadap pemerintahan Indonesia.  

Sesi selanjutnya disampaikan oleh Dr. Imam Kamaludin, Lc., M.A. Beliau menjelaskan manfaat dari wakaf Al Azhar yang merupakan lembaga yang hidup dari waqaf dan bukan milik pemerintah Mesir serta memberi beasiswa kepada 400.000 mahasiswa. Al Azhar juga menggaji tenaga pendidiknya menggunakan dana waqaf. Hal serupa juga dilaksanakan di Gontor baik KMI maupun UNIDA Gontor. Kemudian beliau menegaskan bahwa zakat profesi nishabnya 2,5 persen dikalikan dengan penghasilan bersih.

Acara terakhir ditutup dengan sesi tanya jawab. Antusiasme para peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan, tak sedikit pertanyaan menggunakan bahasa Inggris karena acara tersebut diselenggarakan oleh Program Studi International Program for Law and Sharia (IPOLS). (Au. Bekti)     

Bekti Galih

Bekti Galih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *