Puasa dalam Worldview Islam: Refleksi atas Imsak

Puasa dalam Worldview Islam: Refleksi atas Imsak

Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA./ Dosen Prodi Studi Agama-Agama UNIDA Gontor

“When the sense of God diminishes, fasting disappears” Kalimat yang dikutip dari Edward Farrell oleh John Piper ini sepertinya penting untuk direnungkan. Farrel meyakini bahwa hampir di setiap tempat dan zaman manapun, puasa selalu memililki posisi yang mulia karena kedekatannya dengan sense keagamaan (Hunger for God, 16). Ini artinya, meskipun sudah kita ketemukan fungsi puasa yang berdasarkan sudut pandang psikologi, kesehatan, maupun antropologi sekalipun, asal muasal Puasa tetap secara absah terlacak dari ajaran agama. Setiap Agama, seyogyanya memang memiliki konsep puasa yang berbeda satu sama lain dengan ciri khas yang menjadi identitas. Misalnya, Ummat Yahudi berpuasa di hari Yom Kippur dan hari Tisha B’av. Puasa Yom Kippur dilaksanakan mulai pada tanggal 10 bulan Tishri sebagai hari pertaubatan tahunan Umat Yahudi.  Sementara Tisha B’av dilakukan pada hari kesembilan bulan Av dan dilaksakanan sebagai hari peratapan akan kehancuran rumah suci Yahudi di Jerusalem.(Sara E Karesh and Mitchell M Hurvitz, Encyclopedia
of Judaism
, 154).

Ummat Hindu di Indonesia, berpuasa selama proses samadi atau meditasi yang dilaksanakan ketika kajeng kliwon, purnama, tilem,dan Brata Penyepian yang dilaksanakan selama hari Raya Nyepi (Jan Hendrik Peters, Tri Hita Karana, 185). Dalam sejarah Buddhisme, Siddhartha Gautama berpuasa selama kurun 6 tahun hingga hilang daging badannya menyisakan kulit berbalut tulang saja (Sandip T Gaikwad: 2017). Dan begitu seterusnya contoh model dan teknik berpuasa lainnya dapat kita temukan di agama-agama lain. Terlepas dari berbagai latar belakang dan prosesi yang hadir, puasa secara garis besar bertujuan kepada pendekatan spiritual pada Tuhan. Pendekatan spiritual itu, dikemas dalam bentuk ‘penahanan diri’ atau Imsak akan segala keterikatan duniawi berupa makan, minum, syahwat, dan lain sebagainya. Ini artinya, Imsak secara konseptual dilaksanakan dalam ritual berpuasa yang hadir dalam setiap agama.

Seorang Muslim, tentu saja wajib memproyeksikan Imsak sesuai dengan konsepsi pandangan hidup (worldview) Islam guna mencapai tujuan dari berpuasa itu sendiri. Di sini, pandangan hidup berfungsi sebagai basis identifikasi yang tepat akan ajaran agama sehingga tetap hikmah yang diderivasi dari ritual dapat bermakna sebagaimana mestinya. Adapun tujuan berpuasa dalam Islam, tidaklah lain untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bertakwa alias Muttaqin (QS al-Baqarah 183). Pasalnya, Muttaqin tidaklah mampu dengan mudah didapat kecuali dengan menjalankan puasa dengan tepat. Berulang kali kita dengarkan sabda Baginda Nabi dari Abu Hurayrah: “Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” Lebih fatal lagi, ada sebagian dari manusia yang bertemu dengan Ramadhan namun tidak diampuni dosanya. Akhirnya, dia masuk ke dalam Neraka dan dijauhkan Allah dari Surga (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Oleh karena itulah, Imsak perlu dipahami dengan benar dan dilaksanakan dengan seluruh potensi yang kita miliki. Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah mencatat dalam bab dalam Ihya’-nya, bahwa berpuasa itu, sesungguhnya memiliki tiga tingkatan; Pertama, al-‘Umuum, yaitu Shiyam yang Imsak-nya meliputi godaan perut dan kelamin. Kedua, al-Khusuush. Puasa ini tidak hanya menahan godaan perut dan alat kelamin, namun juga pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh bagian tubuh dari keburukan. Ketiga, adalah Khusuush alKhusuush. Puasa level ini berupa Puasa hati yang menahan diri dari pemikiran-pemikiran negatif nan duniawi yang dimiliki manusia dari selain Allah azza wa Jalla secara keseluruhan. Shaum Khusuush al-Khusuushini bisa ‘batal’ alias turun derajatnya jikalau sedetik saja kita berpaling dari fokus kepada Allah. Begitu beratnya puasa di level ini sehingga Imam al-Ghazali menulis bahwa “… (Puasa ini) berada di derajat Para Nabi, Shiddiqiin, dan Muqarrabin”. (Ihya’ Uluum al-Din, Juz. I, 235)

Imam al-Ghazali mencatat adanya 6 prasyarat yang semestinya dipenuhi guna mencapai derajat Shaum Khusuush al-Khusuush: Pertama, Menahan pandangan dari segala macam keburukan yang bisa melalaikan hati dari mengingat Allah azza wa Jalla. Kedua, menjaga lisan dari apa yang tidak semestinya seperti berbohong, mengghibah, mengadu-domba, kalimat-kalimat fahisy, kontroversial, dan lain sebagainya. Lisan, semestinya disibukkan dengan berdzikir kepada Allah dan bertilawah al-Qur’an. Ketiga, menahan telinga dari mendengar hal-hal yang dibenci; termasuk dengan tidak menanggapi kejahatan-kejahatan lisan seperti sudah termaktub di atas, dan seterusnya. Keempat, menahan diri dari hal-hal selain yang sudah tersebut di atas tidak hanya dilaksakan ketika berpuasa namun juga ketika Iftar atau berbuka puasa.

Artinya, tidaklah berguna jika sudah seharian bahkan menahan diri dari makanan yang semestinya halal disantap, namun ketika berbuka malah bermaksiat, menyantap kudapan yang diharamkan, lalai akan shalat, dan lain sebagainya. Menurut Imam al-Ghazali, hal yang demikian ini seperti orang yang telah membangun istana namun kemudian tidak hanya menghancurkannya kembali melainkan sekaligus menghancurkan ibukotanya (famitsaalu haadzaa alShaa’im mitsaalu man banaa qashran yahdimu mishra).(Ihya, 236). Dengan kata lain, konsepsi Imsak yang sesungguhnya adalah Imsak yang dilaksanakan tidak hanya ketika puasa, namun juga ketika tidak berpuasa.

Prinsip keempat ini juga terkait dengan prinsip kelima, yaitu dengan tidak menyantap makanan yang halal ketika berbuka dengan berlebihan. Jikalau yang halal pun tetap tidak boleh dinikmati dengan foya-foya, apalagi yang diharamkan? Begitulah kemudian Bulan Ramadhan menjadi ajang pendidikan diri menjadi muttaqin dalam sebuah proses yang berlangsung secara kontinu; bukan berarti usai Ramadhan kita bisa kembali bermaksiat sesuka hati ataupun berlaku sesuka rupa. Justru, pasca Ramadhan, umat Islam mampu ‘terlahir kembali’ menjadi pribadi yang lebih baik iman ilmu dan amalnya.

Keenam, yang paling krusial adalah bahwa hati seorang yang berpuasa setelah berbuka menurut Imam al-Ghazali, berkecamuk antara ketakutan dan harapan; khawatir apakah puasanya hari itu diterima atau tidak? Di tahap ini, kita temukan bahwa berpuasa jadinya tidak hanya ‘sekedar’ terlaksana begitu saja, namun benar-benar diikuti dengan adanya perubahan-perubahan spiritual atas seorang yang berpuasa.

Puasa dalam Worldview Islam artinya, diikuti dengan refleksi dan evaluasi akan baik-tidaknya puasa kita. Seberapa banyak telinga mendengar ghibah daripada tilawah? Seberapa basah lisan akan dzikir daripada berbicara yang tak lumrah? Seberapa basah lisan akan dzikir daripada berbicara yang tak lumrah? Apakah kita sudah mampu mensucikan jiwa kotor kita di ShiyamRamadhan kita tahun ini? Sekiranya begitu, dapatkah kita menyatakan diri kita sebagai golongan mereka yang Muttaqin? Golongan mereka yang ‘Aaidiin wal Faaiziin? Lebih jauh kemudian, dapatkan kita berImsak dari yang sudah disebut Imam al-Ghazali dalam 11 bulan ke depannya? Ataukah hanya berhenti di hari Puasa terakhir saja? Semoga puasa kita diterima oleh Allah azza wa Jalla.

Taqabbalallahu minna wa Minkum Taqabbal ya Kariim. Shiyaamanaa wa Shiyaamakum. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahilhamd.

Ed: Ahmad Kali Akbar, M.Pd.

Sumber gambar: islamichelp.org.uk, Republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *