Universitas Darussalam Gontor

Orang Beriman Pasti Lemah Lembut pada Keluarganya

Tulisan ini diambil dari ceramah Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. di tayangan youtube channel @gontortv.

Di dalam berislam itu ada tingkatan-tingkatannya. Tingkatan pertama adalah berislam secara syariah, kedua secara aqidah dan ketiga berislam dengan akhlaq. Ketiganya tidak merupakan tingkatan yang terpisah namun saling berhubungan. Dalam pengertian ini, berislam adalah menjalankan syariah Islam dengan rukun Islamnya yang lima.

Banyak orang yang merasa sudah cukup berislam dengan menjalankan syariah saja. Misalnya shalatnya dijalankan dengan baik, puasanya baik, melaksanakan umrah dan haji dan lain sebagainya. Ini adalah suatu kemuliaan dibanding dengan orang-orang yang tidak menjalankan syariah. Namun banyak juga yang lupa bahwa dalam mengamalkan syariah harus didasari oleh aqidah yang kuat.

Orang yang berpuasa tanpa didasari dengan keimanan, tentu puasanya tidak diterima atau tidak mendapatkan balasan. Orang yang shalat tanpa disertai keimanan dan kekhusyu’an dan shalatnya tidak merubah perbuatan di luar shalatnya, juga tidak akan ada artinya. Maka dari itu, syariah harus diperkuat oleh aqidah. Dan aqidah dalam Islam, sebenarnya tidak sesimpel rukun iman yang enam itu, karena aqidah adalah sebuah pernyataan lisan yang diperkuat dengan keyakiann di dalam hati dan diimplementasikan di dalam perbuatan tubuh kita.

Berarti bahwa mengimani Allah SWT dan RasulNya, juga hari akhir, serta qadha’ dan qadar, itu adalah dasar dari perbuatan kita selain dari yang enam itu. Perbuatan kita ini ternyata mengandung aspek keimanan. Ketika seseorang menghormati orang tua, itu bagian dari iman. Ketika kita menyantuni tetangga dan menghormati tamu itu bagian dari iman, ketika menolong sesama, itu juga bagian dari iman. Termasuk ketika seseorang itu mencari ilmu dan mengajarkannya, itu juga bagian dari iman. Oleh karena itu, iman harus diwujudkan di dalam bentuk amal.

Di antara amal tersebut adalah amal terhadap keluarga. Seseorang yang beriman pasti lemah lembut terhadap keluarganya, lemah lembut terhadap orang tuanya, dan terhadap sesamanya. Dalam mansyarakat, orang yang beriman itu adalah yang peduli pada umat.

من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

Barang siapa yang tidak peduli pada urusan umat muslim, maka ia bukan dari golongan mereka, yaitu bukan dari golongan yang akan diselamatkan oleh nabi. Kepedulian seorang muslim terhadap umat sangatlah penting, karena itu merupakan implementasi atau pengamalan dari keimanan kita. Menurut para ulama, cabang dari keimanan itu ada tujuh puluh lebih, bukan hanya enam, bahkan tujuh puluh tujuh.

Oleh sebab itu mari kita implementasikan keimanan itu di dalam segala aspek kehidupan kita, sehingga keimanan kita meningkat, tidak hanya sebagai muslim tapi sebagai mukmin. Disini dapat diketahui bahwa kekuatan Islam itu ada di dalam tingkat keimanannya bukan keislaman.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang kafir tidak akan dapat menguasai orang Islam, An-Nisaa’: 141,

وَلَمْ يَجْعَلِ اللهُ لِلْكَافِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلاً

Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman.

Allah tidak akan membiarkan orang kafir mengalahkan orang mukmin. Dengan meningkatkan keimanan, kita akan meningkatakan amal. Bukti iman seseorang itu kuat yaitu dengan cara beramal. Misal, orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, hari aKhir, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, namun tidak beriman kepada takdir Allah, maka batallah keimanannya terhadap Allah.

Orang yang sedang dicoba dengan cobaan, itu ada 2; pertama dia akan ridho dan kedua ia akan marah. Orang yang ridho akan mendapat keridhoan dari Allah SWT dan orang yang marah akan memperoleh kemarahan dari-Nya. Orang yang mendapat cobaan ada yang bersyukur dan kufur; orang yang kufur akan mendapat adzab dan orang yang bersyukur akan ditambah dengan kenikmatan yang lain. Inilah contoh dari keimanan itu.

Banyak hal yang menimpa kita dalam kehidupan ini dalam bentuk cobaan, baik dalam kebahagiaan dan kesusahan. Namun keduanya sama-sama harus menahan diri.

مَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيْرًا فَلْيَأكُلْ بِالْمَعْرُوْفِ (النساء: 6)

Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. (An-Nisaa: 6)

Keimanan kita harus tetap dijaga, syariat harus tetap dijalankan, dan apa yang menjadi tugas kita harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Tingkat terakhir dalam keimanan adalah tingkat akhlaq atau ihsan. Jika dalam berislam sudah tidak lagi menjalankan sebuah syariah, sudah tidak lagi takut akan ancaman surga dan neraka, maka kita sudah pada tingkat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan jika kita tidak sedikitpun melakukan apa yang tidak dicintai oleh Allah SWT, maka tingkat keislaman kita sudah pada tingkat ihsan, yaitu dalam bentuk akhlaqul karimah.

Jika sudah berakhlaq mulia, tentunya tidak akan pernah melakukan perbuatan yang tidak dicintai-Nya. Dan apa yang kita kerjakan di dunia ini harus berorientasi kepada ibadah dan cintanya Allah. Sebagaimana doa para ulama, “Berilah kami rezeki cintamu kepadaku, dan berilah kami rezeki cinta seperti orang2 yang Engkau cintai.”

Bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya itu menunjukkan bahwa kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh Dzat yang kita cintai. Jika hal ini dikiaskan dengan kehidupan, sudah tentu kalau kita mencintai keluarga, kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh keluarga. Dan sebaliknya jika kita mencintai keluarga, pastinya kita akan melakukan segala sesuatu yang dicintai oleh keluarga kita. Demikian pula, sikap kita kepada orang tua, kita akan melakukan sesuatu yang dicintai oleh orang tua, supaya kita mendapatkan cinta-Nya. [Au. Riza Nurlaila, M.Pd./Ed. Ahmad Kali Akbar, M.Pd.]

Ahmad Kali Akbar

Ahmad Kali Akbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *