Nilai Dasar Etiket kita adalah Al-Quran dan Sunnah

Nilai Dasar Etiket kita adalah Al-Quran dan Sunnah

“Etiket kita adalah berdasarkan pada akhlaq al-karimah yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah, maka jika kita ragu-ragu dalam melangkah atau bersikap, kita dapat kembali kepada nilai-nilai basis etiket kita, yaitu Al-Quran dan Sunnah,” demikian disampaikan Al-Ustadz Dr. Setiawan Bin Lahuri, M.A., Wakil Rektor II dalam penjelasan tentang etiket sebelum liburan akhir tahun bagi mahasiswa Universitas Darussalam Gontor, Kamis malam, 2 April 2020.

Diantara poin-poin lain yang beliau sampaikan adalah:

  • Jika ada orang yang lebih muda daripada kita, maka kita harus menyayanginya. Dan jika ada orang yang lebih tua daripada kita, maka kita harus menghormatinya;
  • Jika berkendara sepeda motor dengan orang tua, sebaiknya kita yang menyupir di depan dan orangtua kita di belakang;
  • Jika berkendara mobil dengan orang tua dan kebetulan kita belum bisa menyupir, maka sebaiknya kita berada di sampingnya bukan duduk kursi dibelakang. Dan akan lebih baik lagi jika kita yang menyupir mobil tersebut;
  • Jika berjalan dengan orang tua, jangan di depannya. Akan tetapi di belakangnya sedikit;
  • Jika ada seseorang bertamu ke rumah kita, maka kita harus pandai-pandai mengajaknya bicara. Menanyakan keadaannya, kesehatanya, keluarganya, dll (pertanyaan-pertanyaan umum);
  • Jangan berkerumun pada tempat-tempat yang mempunyai resiko tinggi akan adanya penyakit;
  • Hidupkan dan ramaikan masjid (dengan tadarus, sholat jamaah, mengaji, dll);

Dalam kesempatan tersebut, Al Ustadz Dr. Abdul Hafidz Zaid, M.A., Wakil Rektor III juga menyampaikan beberapa poin penting. Diantaranya;

  • Ar-rohatu fii tabaaduli al-a’maal. Bapak Kyai kita KH. Hasan Abdullah Sahal, selalu mengatakan bahwa tidak ada kata liburan di Gontor. Yang ada adalah melakukan pergantian antara satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya;
  • Orang yang mempunyai waktu yang kosong, maka fikirannya akan kosong, jika fikiran kosong maka yang akan mengisi kekosongan itu adalah setan;
  • Sudah banyak fenomena seorang anak yang luntur rasa hormatnya kepada orang tua. Maka kita harus menjadi anak yang selalu menyenangkan orang tua dengan perbuatan-perbuatan kita yang berakhlaq;
  • Almarhum Ustadz Nasrullah pernah mengatakan “Namanya orang tua itu maunya cerita hal-hal itu saja, kewajibannya seorang anak itu hanya mendengar, apapun yang orangtua katakan. Itu merupakan moment berharga”.
  • Assumtu hikmatun wa qolilun faa’iluhu. Jika kita tidak banyak mengetahui tentang sesuatu hal, maka lebih baik kita diam. Karena diluar sana banyak orang yang lebih paham, lebih mengetahui, dan lebih berhak untuk memberi jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.

Dengan adanya penjelasan tentang etiket ini, diharapkan para mahasiswa dapat membawa diri dengan baik selama liburan di daerah mereka masing-masing. [Zukhrufi Izza / Ed.: M. Taufiq Affandi, Faqih Nidzom / Photo: Ikliul Faiz]

Baca Juga: Etika Grup WA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *