Universitas Darussalam Gontor

Makna Falsafah Gontor:”Sebesar Keinsyafanmu, Sebesar itu pula Keberuntunganmu”, oleh al-Ustadz H. Noor Syahid, M.Pd.I.

UNIDA Gontor – Sabtu 21 November 2020. Kali ini, yang diundang adalah ustadz Noor Syahid, M.Pd.I. Dimulai dari pembukaan oleh Ustadz Achmad Faoruq Abdullah, M.Pd. I., selaku bagian SDM BAUK; dibicarakan pula beberapa info.

Setelah itu, barulah, Ustadz H. Noor Syahid, M.Pd.I dipersilakan untuk menyampaikan materi. Dimulai dengan beberapa doa, beliau kemudian memulai dengan mengajak peserta kajian untuk selalu bersyukur. Atas berbagai nikmat seperti kesehatan, kelancaran kerja, dan lainnya.

Ustadz Noor Syahid memulai dengan cerita beliau saat dididik oleh ustadz Abdullah Mahmud. Yakni membagikan uang sejuta rupiah sekitar tahun 1978an. Itu jumlah yang cukup banyak.

Pesan dari Trimurti saat itu, yakni saat melaksanakan proyek proyek pondok: 1) Tidak boleh sambat (mengeluh) 2) Tidak boleh nggumun (mudah terkejut) 3) Tidak boleh tertawa di atas bangkai orang lain. (Baik mengaku keberhasilan atas usaha orang lain, dll)

Kesejahteraan materi diberikan oleh Gontor baru setelah adanya BA. (Sarjana Muda). Itupun jumlahnya tidak seberapa. Pondok juga belum memiliki unit usaha.

Beliau juga pernah ditanya KH Imam Zarkasyi: “Kamu ingin jadi guru atau Lurah Gontor?” Beliau memilih untuk menjadi guru. Karena guru mendapat kehormatan dari murid. Bahkan juga anak keturunan dari muridnya. Tentu karena kerja keras dan kesungguhan kita mendidik: mu’taraf, musta’mal, mu’tabar, dan muhtaram.

Bentuk keberkahan guru tidak hanya melulu materi. Karena bentuknya bisa kemudahan dan kelancaran hidup, kesehatan, keturunan yang baik, dan lainnya. Itu karena melaksanakan amanah dan tugas dengan ikhlas dan integritas. Yang mana, integritas itu mendatangkan kehormatan, kekuatan, dan lainnya. Bahkan juga materi. Karena itulah, Gontor memiliki motto dan panca jiwa. Untuk menuju semua itu.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi –rahimahullah– pernah berpesan kepada beliau: Bahwa mengevaluasi hidup setiap 5 tahun adalah perlu. Untuk merenungkan: apa yg kita perbuat 5 tahun lalu sehingga kita tahu, kita menderita atau bahagia.

Beliau juga berkisah, bahwa bahwa tugas di pondok dituntut untuk memberi. Yakni insyaf; bahwa apa yang sudah kita berikan? Bukan hanya bertanya ‘akan dapat apa?’ Bukan untuk mendapat materi seperti UMR. Yang hanya sekedar hitungan matematis.

Kita sebagai guru di pesantren, perlu punya kesadaran. Bahwa hidup bukan hanya matematis saja. Karena ada berbagai keuntungan yang belum tentu masuk hitungan matematis tersebut. Inilah harapan, bahwa berkah bisa berupa hal lain. Yang dapat kita syukuri saat kita insyaf. Sehingga akan untung. Karena, melalui insyaf; kita akan sadar dan bersyukur. Secara aktif. Sikap tersebut akan mendatangkan keuntungan dan kemenangan. Yaitu keberkahan keberkahan dari tempat yang tidak diduga.

Karena itulah, perhatian pondok kepada guru bukan melalui gaji. Tetapi kesejahteraan. Yakni memenuhi kebutuhan pokok. Entah papan, sandang, dan pangan. Atau wismo (rumah), wanita,

KH Abdullah Syukri –rahimahullah– pernah membuat program. Peningkatan citra guru. Yakni kesejahteraan khususnya. Dengan teori dinamo. Di mana, saat semakin banyak diputar, akan semakin banyak menghasilkan daya. Namun, kapasitas dinamo kadang berbeda. Ada yang kuat berputar kencang, ada pula yang belum. Karena perlu ditingkatkan.

Bagi KH Abdullah Syukri, guru biasa harus bisa menyelesaikan 15 pekerjaan sehari. Bagi ketua bagian, harus bisa 25 masalah diselesaikan. Hingga wakil pengasuh, wajib menyelesaikan 30 masalah dan direkap lalu dikirim ke beliau. Saat nanti ‘drop’ atau tidak kuat ‘berputar’; maka akan ‘diistirahatkan’. Atau dicarikan kegiatan lain.

KH Abdullah Syukri juga pernah membuat ujian. Untuk keluarga kader. Suami dan istri. Pertanyaan untuk ‘menguatkan’ kualitas rohani guru: 1) apakah (suami/istri) rutin beribadah sunnah? 2) berapa (uang) yang disimpan (suami/istri)mu? Itu adalah dalam rangka ‘nggrogoh ati’ atau menyelaraskan jiwa.

Karena itulah, dalam ukuran Pondok, ihsan bukan berarti kaya secara kuantitatif. Karena ihsan didapat dari amanah, integritas, bahkan min haitsu laa yahtasib. Karena itulah, istri atau suami bukan dicari. Tapi ‘disuwunke’. Yakni dimintakan dari Allah. Karena Allah sudah menciptakan jodoh baginya. Entah kapan, dari mana dan bagaimana pun pasti akan datang.

Karena itu, kita perlu ‘meminta’. Dan agar meminta menjadi mudah, perlu ada sarana. Yakni melalui amal shaleh. Untuk menaikkan dan memudahkan permintaan kita. Inilah tuntutan berilmu dan beramal dalam Islam. Yakni bersegera dalam kebaikan. Bahkan berlomba-lomba untuk mencapai itu.

Untuk mampu beramal dan berbuat hingga untung, maka perlu insyaf. Baik dari segi niat ikhlas dan persiapan yang matang. Juga sadar akan kepentingan di baliknya.

Begitulah kiranya arti dari falsafah Gontor “Sebesar keinsyafanmu, sebesar itu pula keberuntunganmu” yang disampaikan oleh al-Ustadz H. Noor Syahid, M.Pd.I. (M. Taqiyuddin, M.Ag./Ed. Ahmad Kali Akbar, M.Pd.)

Ahmad Kali Akbar

Ahmad Kali Akbar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *