Universitas Darussalam Gontor

Al-Ustadz H. Muhammad Badrun Syahir, M.A.
(Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 3, Dosen Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor)

Ada yang menarik ketika kita mencoba mencermati korelasi spiritual antara ibadah qurban, haji, dan ibadah puasa.

Dengan karakteristik masing-masing ternyata ketiganya memiliki satu kesatuan poros. Semuanya menjadi tepat sasaran; berdaya guna dan berhasil guna jika taqwa menjadi poros pijakan dan tujuannya.

Ibadah puasa (Ramadhan) yang sejatinya bukan sekedar menahan diri dari haus dan lapar menjadi jalan penghantar menggapai sikap mental dan potensi taqwa. la’allakum tattaqun.. Yaitu dengan meninggalkan segala sesuatu yang sejatinya dibolehkan dan menjauhi segala sesuatu yang memang dilarang hanya karena mengaharap ridha Allah swt..

Sebagai sebuah ibadah multi dimensi; fisik (jasadiyah), jiwa/ruh (ruhiyah), dan harta (maliyah) dalam menunaikan ibadah haji ternyata bekal yang musti dipersiapkan agar dapat mencapai kemabruran adalah taqwa; fa inna khairaz zadi at taqwa (… maka sebaik-baik bekal itu adalah taqwa).

Demikian pula halnya dengan ibadah qurban. Sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan (Allah) yang telah menganugerahi kelapangan rizki, ternyata yang kemudian sampai dan diterima Allah bukanlah wujud dari persembahan itu, melainkan nilai keihlasan dan ketaqwaan yang terkandung dalam persembahan (qurban) itu. Lan yanalallaha luhumuha wala dima’uha… walakin yanaluhu at taqwa minkum (Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu).
Innama yataqbbalallahu min al muttaqin Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.”

Taqwa sebagai kekuatan spiritual merupakan pijakan amal ibadah, sekaligus buah yg musti dipetik dalam setiap tanaman amal kebaikan. Wallahu a’lam…

Hibatul Wafi

Hibatul Wafi

University of Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *