Konsep Kebahagiaan dalam Islam

Konsep Kebahagiaan dalam Islam

MASJID JAMI’ – Selepas sholat Zhuhur, Masjid Jami’ Universitas Darussalam Gontor selalu diisi dengan tausyiah singkat dari dosen-dosen UNIDA Gontor. Pada kesempatan ini, hari Selasa, 4 Februari 2020, Al-Ustadz Dr. Adib Fuadi Nuris, M.Phil., Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor dan Guru KMI Gontor, berkesempatan untuk menyampaikan tausyiah tentang konsep kebahagiaan dalam Islam.

Beliau menjelaskan, bahwa sejatinya kebahagiaan manusia bukan diukur oleh materi (harta, tahta dan lainnya). Akan tetapi, kebahagiaan diukur dari bagaimana manusia tersebut dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’aalaa. Beliau juga menjelaskan tentang sebuah ayat dari QS. Al Fatihah yaitu:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ  ٥

Ayat tersebut dikorelasikan sebagai salah satu indikasi kedekatan hamba (manusia) kepada Allah Subhanahu wa Ta’aalaa. Ayat ini juga menerangkan hubungan langsung antara Allah dan hamba-Nya. Sehingga, Allah tidak akan mengingkari hamba yang meminta pertolongan kepada-Nya.

Kemudian beliau melanjutkan dengan ayat:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Shalat dan sabar adalah dua perlindungan dan pertolongan yang sangat agung bagi hamba-Nya. Karena solat bisa mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’aalaa. “Dengan shalat, iman kita akan menjadi kuat.” Tegasnya.

Bahagia akan semakin tumbuh jika kita mengenal Allah ‘Ma’rifatullah’. Tentunya, mengenal Allah adalah puncak dari segala macam kegembiraan dan kesenangan lebih dari apa yang dapat dibayangkan  oleh manusia. Sebab, tidak ada suatu apa pun yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’aalaa. Demikianlah konsep kebahagiaan dalam islam. [Ziyad Safirul Auliya/Ed:Muhamad Fikrul Umam]

Artikel Terkait

Etika Grup WA: 7 Jenis Postingan yang tidak disukai

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *