Khutbah Idul Adha 2018: Berkorban adalah Ciri Seorang Muslim

Khutbah Idul Adha 2018: Berkorban adalah Ciri Seorang Muslim

Khutbah Idul Adha 2018 ini ditulis dan disampaikan oleh Al-Ustadz Royyan Ramdhani Djayusman, MA, dosen Universitas Darussalam Gontor. Khutbah Idul Adha 2018 ini disampaikan pada Shalat Idul Adha di kampus Universitas Darussalam Gontor, 2018.

Tema: “Berkorban adalah Ciri Seorang Muslim”


(Khutbah Idul Adha)

KHUTBAH PERTAMA

الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/

الله أكبر.
الحمد لله الواحد القهار، العزيز الغفار، مكور النهار على الليل، ومكور الليل على النهار، وأشهد أن ﻻ إله إﻻ الله وحده ﻻشريك له، خلق اﻷمصار، وعمر اﻷرض بالديار، وباعد بين اﻷقطار، وكتب على الناس اﻷسفار.

وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله، المصطفى المختار، خير من حل وارتحل، ومكث وانتقل، وسار ونزل، وأقام وسافر، وسكن وهاجر، وأقام فكان الخير في إقامته، ورحل فكان الظفر في رحلته، دلنا على الخير في سفرنا وحضرنا، وإقامتنا وظعننا، صلى الله عليه وسلم، وعلى آله اﻷطهار، وصحبه اﻷبرار، ومن اهتدى بهديه وسار على أثره، واقتدى به في حضره وسفره، ما تعاقب الحديدان الليل والنهار.

أما بعد:

فاتقوا الله-عباد الله-فإن تقوى الله هي الزاد والعدة.

Pada saat ini, umat muslim dari seluruh penjuru dunia, dari beragam suku, beraneka budaya, bermacam warna, pria maupun wanita, berkumpul memenuhi panggilan Allah melaksanakan ibadah haji. Saat ini, saudara-saudara kita berada di Mina, tadi malam bermalam di Muzdalifah, adapun kemarin melakukan wuquf di Arafah seharian. Mereka datang ke tanah haram memenuhi panggilan Allah.

لبيك اللهم لبيك . لبيك لا شريك لك لبيك . إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

“Aku datang memenuhi panggilanMu, Ya Allah. Aku datang memenuhi PanggilanMu. Tiada Sekutu bagiMu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan hanya milikMu, dan juga kerajaan. Tiada Sekutu bagiMu.”

Adapun umat muslim lainnya yang tidak melaksanakan ibadah haji, ikut larut dalam meyambut hari besar hari raya Idul Adha, hari raya kurban. Seluruh umat muslim turut menggemakan kalimat takbir, kalimat tahmid sebagai wujud ketaatan dan pengakuan seorang hamba akan kebesaran dan keagungan Allah SWT, Tuhan semesta alam raya.

Hari raya Idul Adha atau hari raya kurban tidak dapat terlepas dari kisah teladan yang digambarkan dalam Al-Quran melalui seorang yang mulia yaitu Nabi Ibrahim AS yang mampu menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan anaknya Nabi Ismail dengan cara menyembelihnya. Namun, pada akhirnya tanpa diduga, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang gemuk. Sungguh sangat luar biasa, ujian yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dapat kita bayangkan, seorang nabi pun mendapatkan ujian dari Allah SWT, apalagi kita sebagai manusia biasa. Hal ini, menunjukkan bahwasanya keislaman, keimanan dan ketakwaan kita akan terus diuji oleh Allah SWT untuk melihat di mana, pada level apa dan kualitas apa kita berada.

Pada kali ini hari raya Idul adha 1438, kita sebagai bangsa Indonesia baru saja memperingati hari dan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah kemerdekaan yang tidak dicapai dengan satu malam, namun butuh perjuangan selama bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun dan beratus-ratus tahun lamanya. Perjuangan pada pendahulu dan pejuang kita tersebut, tentu tanpa henti dan tak kenal lelah. Adapun pengorbanan para pejuang kita juga tak terhitung dan tak ternilai. Mereka berkorban fikiran, tenaga, waktu, anak, isteri, saudara, harta, bahkan jiwa raga turut dikorbankan. Sehingga, dengan rahmat Allah SWT dan pengorbanan para pejuang, Indonesia dapat meraih kemerdekaan.

Namun, pada saat ini di Indonesia pasca kemerdekaan, kita dihadapkan beraneka ragam krisis. Mulai dari krisis ekonomi, krisis alam, sampai dengan puncaknya adalah krisis kepercayaan dan krisis moral. Kita saat ini mengalami krisis kepercayaan sehingga sulit membedakan mana yang bermoral dan mana yang sebaliknya. Mana berita yang benar dan mana yang salah. Mana yang berkorban, dan mana yang mendzalimi. Mana yang berjuang untuk umat, dan mana yang sebenarnya mengorbankan umat. Krisis moralitas ini kemudian menimbulkan krisis-krisis ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum dan akhirnya kita semua saling dan hampir putus asa untuk saling percaya. Pada saat ini, sangat sulit mencari pemimpin yang siap berkorban, menteri yang siap berkorban, anggota DPR/MPR yang siap berkorban, pejabat yang siap berkorban, pendidik yang siap berkorban, dan siswa yang siap berkorban. Kebanyakan dari mereka lebih memilih memikirkan diri sendiri, isi perut sendiri, untung rugi sendiri, kecuali mereka yang mendapat rahmat dan hidayah dari Allah SWT.

Idul Adha ini adalah pelajaran pengorbanan, pengorbanan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam mengorbankan sesuatu yang paling dicintai karena Allah Azza wa Jalla.

Namun, bagi sebagian kita, mungkin berkorban adalah sesuatu yang tidak rasional, suatu hal yang tidak logis. Bagaimana mungkin, kita memberi dan mengorbankan harta kita yang telah kita raih dengan susah payah. Kok enak sekali, kita bekerja keras, banting tulang, kemudian kita korbankan untuk orang lain. Inilah mungkin logika banyak dimiliki manusia saat ini, maka pantaslah kita menyaksikan beragam krisis terjadi.

Bagi orang Muslim, mu’min, logika tersebut adalah logika yang salah, Bagi orang Muslim, mu’min, logika yang benar adalah:

pertama: “pemberi rizki adalah Allah SWT”

Allah berfirman:

وما خلقت الجن واﻹنس إلا ليعبدون، مآأريد منهم من رزق ومآأريد أن يطعمون. إن الله هو الرزاق ذوالقوة المتين.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(). Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.() Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (Al-Dzariyat 56-58)

Jika pemberi rizki satu-satunya adalah Allah, jika pemberi kemudahan satu-satunya adalah Allah, maka jalan yang paling masuk akal untuk mendapatkan rezeki, mendapatkan kemudahan adalah dengan meminta kepadaNya, berharap kepadaNya.

Maka Allah berjanji, jika mau tambahan rizki dan kemudahan yang tidak dapat kamu bayangkan, maka jalannya adalah ketakwaan yaitu jalan mengikuti perintahNya, menjauhi laranganNya. Allah SWT berfirman.

ومن يتق الله يجعل له مخرجا، ويرزقه من حيث لايحتسب.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. () dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Al-Thalaq 2-3).

ومن يتق الله يجعل له من أمره يسرا.

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.(Al-Thalaq 4)

Kedua: orang muslim, mu’min meyakini bahwa “kadar rizki setiap orang sudah ditentukan”

Allah SWT berfirman.

وَاللهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فيِ الرِّزْقِ.

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, (An-Nahl 71)

Jika kadar rizki sudah ditentukan berbeda-beda, maka apalah guna dengki hati, iri hati, sakit hati kepada orang lain. Toh semua sudah diberi jatah terbaiknya sesuai kadar keperluan dirinya, kadar keperluan keluarganya oleh Allah SWT. Bukankah Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan kita?

Kalau rizki kita sudah dijamin dan ditentukan kadarnya oleh Allah, kenapa kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rizki, kenapa kita sibuk-sibuk menjerumuskan diri ke dalam pekerjaan yang dimurkai Allah. Sungguh sangat tidak masuk dalam logika seorang muslim, takut kelaparan, takut kekurangan, takut kekurangan karena meninggalkan pekerjaan yang haram, toh Allah sudah menjaminnya, toh kadar rizki kita juga sudah ditentukan. Dan tentunya, jika kadar rizki sudah dijamin dan ditentukan, kenapa kita enggan berkorban, karena pengorbanan yang keluarkan, tidak akan mengurangi sedikitpun kadar rizki kita, bahkan Allah berjanji akan menambahnya.

Ketiga: walaupun sudah ditentukan kadar rizki, orang muslim, mu’min faham betul bahwa “rizki harus dicari dan harus diusahakan”.

Allah SWT berfirman:

فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون.

Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (Al-Jum’ah 10)

Jika pemberi rizki hanya Allah, kadar rizki sudah ditentukan dan kita diwajibkan untuk berusaha mencarinya, maka yang ada bagi kita hanyalah berusaha keras, bekerja keras, berfikir keras, berkarya besar. Pendek kata, yang perlu difikirkan oleh seorang muslim adalah bagaimana berkorban semaksimal mungkin karena Allah. Tidak perlu berfikir saya dapat apa? Dapat berapa? Toh hal itu Allah yang mengatur untuknya. Dalam bahasa Gontor: Bondo, Bahu, Pikir, lek Perlu sak nyawane pisan. Inilah bahasa pengorbanan secara total, berkorban harta, tenaga, fikiran, kalau perlu nyawapun dikorbankan, demi amanah dari Allah SWT.

Maka dari itu, ciri seorang muslim adalah totalitas dalam menjalankan amanah yang sedang diembankannya, baik sebagai mahasiswa, sebagai dosen, sebagai pedagang, sebagai petani, sebagai pegawai, bahkan sebagai presiden. Seorang muslim akan selalu berbuat total, berjuang dan berkorban. Bukan sebaliknya, mencari keuntungan sendiri, mengorbankan orang lain, dan bahkan mendzalimi orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Hal ini tidak perlu bagi seorang muslim, karena baginya, hanya Allahlah yang akan mencukupinya lahir batin, dunia dan akhirat.

Namun demikian, ujian terhadap logika Islam ini akan selalu ada, ujian terhadap pengorbanan yang kita lakukan, ujian terhadap keimanan dan ketakwaan kita, bahkan ujian terhadap keikhlasan akan terus ada. Allah dalam surat Yusuf mengabadikan nasehat Ya’kub kepada anak-anaknya

وَلاَتاَيْئَسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللهِ، إِنَّهُ لاَيَايْئَسُ مِنْ رَّوْحِ اللهِ إِلاَّ القَوْمُ الكَافِرُوْنَ.

Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Yusuf 87)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا، وإنا الله لمع المحسنين

Dan bagi mereka yang berjuang untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut: 69)

Lantas, sudahkan kita mau dan siap berkorban untuk umat, untuk bangsa, untuk pondok, dan untuk universitas ini lillahi ta’ala. Berkorban fikiran, tenaga, harta dan perasaan. Kesiapan diri untuk berkorban sangatlah ditentukan oleh idealisme, cita-cita dan orientasi hidup kita. Bila hidup kita, kita niatkan untuk berjuang dan memperjuangkan agama Allah, maka tidaklah akan terasa berat untuk berkorban. Ini adalah masalah keyakinan, keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, besar atau kecil. Keyakinan bahwa jika kita mau memikirkan orang lain, membantu orang lain, pasti Allah SWT akan memikirkan dan membantu kita. Apalagi jika kita siap memperjuangkan agama Allah, pastilah Allah akan menjamin hidup kita dan memperjuangkan urusan kita. Inilah logika religi, logika Allah SWT.

Sebaliknya, betapa akan terasa berat untuk melakukan hal-hal tersebut di atas, bila kita menjadi manusia pragmatis, individualis apalagi oportunis. Model manusia seperti ini, yang dipikirkan hanyalah mencari keuntungan materi dan keuntungan dirinya sendiri. Sikap hidupnya selalu berhitung untung rugi, kaya miskin, apa yang didapatkan, bukan apa yang dipersembahkan. Inilah musuh perjuangan, musuh pengorbanan. Karena sesungguhnya tidak ada orang yang kaya karena pelit, dan miskin karena dermawan. Pelit yang dimaksud tidaklah terbatas pada pelit terhadap materi, tetapi pelit terhadap fikiran, tenaga dan perasaan.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang istiqomah dalam berjuang, berkorban dan berbuat baik di jalan Allah SWT.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ عباده المتقين وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِروه اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر/ الله أكبر.

الحَمدُ لله باَرِئِ ا لنَّسَمِ، وَخَالِقِ اللَّوْحِ والقَلَمِ، أَحْمَدُهُ – تَعَالىَ – عَلَّمَ الإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَسْدَى وَأَنْعَمَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّناَ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ الهاَدِي إِلىَ السَبِيْلِ الأَقْوَمِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ، وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

أما بعدُ فيا عباد الله أوصيكم وإيّاي نفسي بتقوى الله حقّ تقاته فقد فاز المتقون.

Jama’ah salat Idul Adha rahimakumullah,

dari khutbah pertama tadi, dapat disimpulkan bahwa bagi seorang Muslim berkorban dijalan Allah secara total baik harta, tenaga, fikiran bahkan nyawa adalah satu-satunya jalan yang logis dan masuk akal untuk mendapatkan rizki dan segala kemudahan. Karena rizki dan kemudahan hanya milik dan dari Allah, dan Allah berjanji bagi siapa saja yang takwa, taat kepadaNya, memberi dan berkorban, maka Allah akan memberikan rizkinya dari jalan-jalan yang tidak pernah disangka oleh manusia beserta segala kemudahannya.

Bagi seorang muslim, yang ada hanyalah berbuat maksimal dan total dalam mengemban amanah apapun yang sedang dijalaninya, tentunya amanah yang diridhai oleh Allah SWT. Maka seorang muslim selalu memilih amanah, pekerjaan yang halal dan berbuat maksimal mengorbankan segala kemampuannya dan kemudian hanya kepada Allah dia menggantungkan imbalan dari apa yang dilakukannya.

Pribadi dengan kepasrahan total kepada Allah, dan pengorbanan maksimal dalam menjalankan tugas inilah sifat dasar seorang muslim. Dengan kepribadian ini, maka setiap orang muslim dapat mengambil contoh dari Nabi yang paling dicintainya, sehingga setiap orang muslim dapat mencontoh rasulnya dalam menjadi rahmat bagi segenap alam. Maka hanya di tangan orang muslim yang kaffah sajalah, Indonesia akan dapat dihantarkan kepada kesejahteraan, dan keadilan yang sesungguhnya.

Allahu akbar 3x Laa Ilaha illallah Allahu Akbar Walillahilhamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Akhirnya marilah kita berdoa, menundukkan kepala, memohon kepada Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim untuk kebaikan kita dan umat Islam di mana saja berada:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ.

اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.

اَللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ.

اَللَّهُمَّ اكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ عَلَى أَحْيَائِهِمْ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفخشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم وادعوه يستجب لكم ولذكر الله أكبر.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Demikian Teks Khutbah Idul Adha 2018, semoga dapat bermanfaat. Khutbah Idul Adha 2018 ini menitik beratkan pesannya pada pentingnya berkorban sebagai manifestasi keislaman dan keimanan seseorang

Dalam Khutbah Idul 2018 di atas, kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa seorang muslim harus memiliki kepasrahan total kepada Allah SWT.

Khutbah Idul Adha 2018 ini juga menegaskan kembali bahwa jalan untuk mendapatkan jalan keluar adalah dengan bertakwa kepada Allah SWT

Artikel Terkait Khutbah Idul Adha 2018

Khutbah Idul Adha 2019: Hikmah dari Sejarah dan Prosesi Idul Adha

Khutbah Idul Adha 1438 H, Ust Royyan sampaikan “Berkorban Adalah Ciri Seorang Muslim”

Qurban: Membunuh Sifat Egois

Khutbah Idul Adha Ustadz Khoirul Umam: “Mentalitas Berqurban Solusi Bangsa”

Hari Raya Idul Adha 1439 H, Pondok Modern Darussalam Gontor Qurban 30 Ekor Sapi dan 59 Ekor Kambing


Also Read:
A step-by-step guide to Hajj

Khutbah Jumat Singkat: Luangkan Waktu untuk Ibumu

Khutbah jumat tentang kematian

Video Khutbah Idul Adha