HKI dan Kesejahteraan Umat: Sebuah Seminar

HKI dan Kesejahteraan Umat: Sebuah Seminar

Sabtu pagi. 8 Februari 2020. Segera, saat Dr Setiawan Lahuri, MA memasuki Aula Gedung Terpadu lt 4; mendampingi pembicara, acara dimulai. Tidak berbeda dengan yang lain. Seminar Nasional ini, juga dihadiri para dosen dan mahasiswa UNIDA Gontor. Dengan MC dan Qori’ yang standar pula.

Sesuai tema, Strategy on Protecting and Managing IPR as Intangible Asset to Increase Society Welfare, tilawah ayat suci dipilih dari Āli Imrān 110. Yakni, tentang urgensi amar ma’ruf nahi munkar sebagai esensi khairu ummah. Yang mana, karakternya harus menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi umat manusia.

Dr Setiawan memberi sambutan, bahwa “kadangkala, umat Islam selalu mendapat stigma anti-kemajuan atau bahkan anti teknologi.”

“Bahkan, bisa jadi ada yang saat melihat dan akan menggunakan laptop Apple, ada yang mengucap ‘aūdzubillāh. Atau mencerca penggunaan teknologi yang rata-rata dihasilkan oleh orang kafir.”

“Padahal, stigma tersebut jauh dari benar. Apalagi, di kampus yang mengintegrasikan ilmu dan agama seperti di sini. Sejatinya, teknologi yang bisa digunakan untuk memudahkan kita; tidak perlu kita tolak. Apalagi tidak bertentangan dengan syariat.”

“Kita pun, bahkan akrab secara historis dengan ilmuwan seperti al Khawarizmi, Ibnu Sina, Ibnu Haytham, juga lainnya. Kesemuanya bahkan menjadi pioneer dalam kajian ilmu alam maupun teknologi. Ibnu Sina dengan Kitab Qānūn-nya, juga penemuan alogaritma dan angka nol oleh Khawarizmi. Serta kamera obscura milik Ibnu Haytham.” Beliau menegaskan, bahwa di masa sekarang perlu ada semangat ilmuwan muslim seperti dahulu.

Dr Setiawan pun sempat mengapresiasi pelaksanaan acara, berikut menyampaikan beberapa evaluasinya. “Sudah jadi bagian dari pola Gontor, bahwa suatu acara wajib dipersiapkan secara total. KH Abdullah Syukri Zarkasyi saja sering turut mengecek pekerjaan panitia saat akan memulai acara. Tradisi demikian merupakan pola pendidikan di Gontor. Beberapa panitia kali ini, seperti lupa mengecek sound, operator video; bahkan kenang-kenangan yang akan diserahkan.” Khususnya, pada saat itu, audio pengiring Hymne Oh Pondokku mendadak mati. Di pertengahan pula. Saat sesi kenang-kenangan, barang yang akan diserahkan malah belum ada.

butan Dr. Setiawan bin Lahuri, Wakil Rektor UNIDA Gontor

Sebelum memimpin doa, beliau memperkenalkan sekilas dua pembicara hari ini. “Soal bagaimana dan apa itu Gontor, nampaknya saya tidak perlu jelaskan. Karena beliau bapak Juliana juga seorang wali santri. Bapak Budi Agus dan pak Juliana adalah teman dekat. Maka, seminar ini sudah tentu akan menggabungkan dakwah dan teknologi.”

“Seminar ini penting. Bukan hanya bagi mahasiswa sains dan teknologi saja. Namun, ilmu sosial juga dapat memetik manfaat dari pengetahuan tentang HKI ini.”

Dosen Fakultas Tarbiyah, yakni Dian Nasrul Munif; kali ini mendapat tugas untuk menjadi moderator.

Pembicara pertama adalah pak Juliana Pangestu. Dengan logat Banyumasan, beliau memulai paparan. Beliau presentasi dengan gaya yang cukup menarik. Kadang melawak pula.

“Nama saya, saat dapat surat undangan; pasti disebut ‘ibu’. Atau bahkan mbak.”

“Bahkan, ibu saya sempat mengganti akte. Membuat akte dua kali. Karena, awalnya tertulis di akte Yuliana. Lantas, di ijazah tertulis Juliana. Jadilah saya ganti nama.”

“Dan yang lebih tidak ada hubungannya lagi, saya malah lahir di bulan Mei!” Hal ini membuat sebagian besar hadirin tertawa.

Beliau pernah Drop Out dua kali, saat kuliah di UNNES Semarang. Orang tuanya pun seorang petani. Yang sudah habis-habisan menyekolahkannya hingga sebagian besar tanahnya terjual. Namun, sang anak hanya jadi pengusaha.

Awalnya, beliau membangun usaha di Jogja. Lantas seluruh kantornya hancur lebur karena gempa. Demikian dengan segala modal dan inventarisnya. Saat tahun 2006. Bangkrut. Istrinya pun, ‘ditarik’ kembali (baca: disuruh cerai) oleh keluarga dari mertua.

Bangkit lagi, ia memulai usaha yang sama di Ajibarang. Dan kemudian mati juga. Padahal masa itu, pernah mendapat order hingga 850 bel. Dan tidak ada modal untuk memproduksinya. Lalu menjaminkan order tersebut kepada bank. Agar dapat modal.

Namun ia tiada menyerah. Beliau sangat idealis dengan perlunya keberadaan bel elektronik otomatis untuk sekolah. Karena, hal ini setidaknya dapat mengurangi budaya keterlambatan di sekolah. Apalagi di Indonesia.

Ia mendirikan teknindo : Teknologi Indonesia. Lantas, dengan kerja keras tanpa henti. Ia berhasil membuat gerakan masuk kelas tepat waktu. Bahkan, menerima ribuan order bel listrik. Hingga sekarang ini.

Mengawali presentasi tentang Hak Cipta; dengan memutar trailer film tentang Flash of Junior. Yakni, tentang seorang dosen yang melawan perusahaan Ford (mobil) karena mereka telah ‘mencuri’ desain wiper otomatisnya.

Beliau juga pernah mendapat somasi soal hak cipta. Saat membuat merk ASR. Dianggap ia meniru Asrock, yakni merk motherboard komputer. Padahal, ASR adalah teknologi jam sholat abadi elektronik.

Ada persoalan menarik yang dibahas. Yakni soal jam digital di beberapa bahkan banyak masjid. Yang mana sudah otomatis. Juga digital. Namun, ada pertanyaan serius. Apakah jam tersebut, sudah menampilkan waktu sholat yang tepat dan dikonfirmasi oleh kemenag?

Kita bahkan, jika melihat di Burj Khalifa, dalam satu gedung dengan ketinggian hampir 0,5 km; di dalam gedungnya memiliki perbedaan waktu. Di lantai 1 dengan lantai menengah dan tertinggi, bisa selisih hingga 3 menit.

Tentu, segala jadwal sholat sangat perlu dikonfirmasi dengan perhitungan ilmu Falak. Bahkan saat ini telah ditemukan alogaritma untuk penentuan waktu sholat. Oleh Dr. Eng. Rinto Anugraha dari UGM.

Terakhir, beliau menyampaikan tentang filosofi dari produk teknologi yang telah diproduksinya. Yakni ASR.

Pembicara kedua, Dr. Budi Agus Riswandi, M. Hum. Beliau adalah direktur IPR Center UII. Juga ketua Indonesian IPR Center Association (ASKII).

Segala hal dapat dijadikan Hak Kekayaan intektual. Bukan hanya produk inovatif saja, namun juga proses dan sistem. Sehingga, segala proses hidup merupakan inovasi. Dan memiliki nilai kekayaan intelektual.

Apa yang bisa dipantenkan di ilmu Filsafat? Lihat saja ke Google Patent. Sudah banyak paten tentang bidang ilmu filsafat. Juga ilmu sosial lainnya. Misalnya, suatu nama terma atau penjelasan; juga dapat dipaten; sebagaimana juga hasil pemikiran atau metode dan metodologi.

Misalnya, terdapat paten bidang psikologi yang berupa metode penyembuhan lewat terapi tertentu. Tentu saja, nanti akan ada kemiripan. Nah, dalam HKI itu, mendorong penciptaan teknologi baru dan melindunginya. Meskipun, HKI adalah aset yang tidak berwujud.

HKI memiliki delapan jenis. Kesemuanya bukan hanya paten saja, namun berbagai inovasi teknologi dan lainnya. Bahkan, HKI juga merupakan obyek warisan dan bisa diwakafkan. Dan hasilnya bisa dikelola untuk kesejahteraan masyarakat.

Salah satu hal penting dalam penelitian agar menghasilkan inovasi patent; dalam karya tulisnya harus mengutip dokumen patent. Dari dokumen tersebut, akan diketahui kekurangan dari paten sebelumnya. Bisa dicari di Google Patent. Atau USPTO dan lainnya.

Dalam penelitian untuk menghasilkan teknologi yang akan dipantenkan, perlu ada review dari ahli HKI (hukum) dan bisnis. Selain itu, jurnal dan karya tulis juga memiliki hak cipta. Maka, sebelum ditulis sebagai jurnal, suatu hasil penelitian harus di HKI kan, baru dipublikasikan.

Reporter: M. Taqiyuddin, M.Ag.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *