Universitas Darussalam Gontor

Hari Pertama Workshop, Program Kaderisasi Ulama Angkatan XI Gelar Seminar Pemikiran & Peradaban di Ponpes Al-Ishlah Lamongan

Lamongan – Pembentengan generasi muda terhadap berbagai pemikiran yang menyimpang. Satu usaha tersebut adalah seminar-seminar dengan tema-tema tertentu di hadapan siswa-siswa sekolah. Penyampaian materi dengan didukung power point diharapkan mampu membentuk pikiran para siswa ke pemikiran yang baik. Diskusi-diskusipun dibutuhkan untuk mengarahkan cara berfikir dan berargumentasi mereka dengan dalil-dalil yang kuat sehingga menimbulkan pemahaman yang utuh terhadap suatu permasalahan dari sudut pandang mereka sebagai seorang Muslim yang berpegang teguh pada  al-Quran dan As Sunnah.

Program Kaderisasi Ulama Angkatan XI Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor mengambil peran tersebut dengan semina-seminar di berbagai lembaga pendidikan yang ada di pulau Jawa. Mereka memulai rentetan acara workshop dengan mengunjungi Ponpes Al Islah Sendang Paciran Lamongan pada kamis, 4 Januari 2018.

Pada pukul 13.00 s/d 15.00 WIB Bertempat di Gedung Stiqsi’ Pondok Pesantren Al-Ishlah Lamongan, tiga pemateri dari Program Kaderisasi Ulama UNIDA Gontor menyampaikan presentasinya. Pemateri pertama disampaikan oleh M. Rais tentang ”Kritik Pandangan Feminis Tentang Talak”.  Beliau menerangkan tentang kritik kaum feminis terhadap pernikahan, kesetaraan gender merupakan masalah yang peka dan senantiasa akan aktual karena menyangkut aspek keseimbangan potensi antara dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.

Pemateri kedua M. Wahyudi menerangkan tentang tentang “Al Quran dan Bahasa Arab” beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an sebagai kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam medium Bahasa Arab merupakan bukti bahwa Allah memilih yang terbaik dari ribuan bahkan jutaan Bahasa yang lain, ini menandakan Al-Qur’an menjadikan Bahasa Arab sebagai Bahasa yang mulia. Pembicara ketiga Athabatul Ghulam memaparkan tentang “Bhinneka Tunggal Ika dan Konsep persatuan dalam Islam”. Beliau menerangkan tentang peran umat Islam dan persatuan bangsa Indonesia yang berdasarkan ajaran Islam.

Bapak Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah KH. Dawam Sholeh memberikan wejangan yang sangat berarti.  Dengan mengutip Ihya ‘Ulumu Din, sebelas kriteria ulama akhirat dan ulama suu’. Yang mana dari dari masing-masing sebelas kriteria tersebut, Al Ghozali menyingkatnya bahwa ciri dari Ulama Suu adalah hubbul mal wa hubbul jah (cinta harta dan kedudukan), sedangkan ciri dari ulama akhirat adalah hubbul ilmu wa hubbul ibadah (cinta ilmu dan cinta ibadah). Tinggal bagaimana kita memposisikan diri.

Beliau juga memesankan untuk utamakan mengejar kualitas, maka kuantitas akan tercapai dengan sendirinya. Pengalaman mendirikan pondok dari nol hanya dengan niatan mengajarkan Ilmu kepada santri-santri dengan penuh keseriusan, dengan sendirinya Pondok berhasil berkembang dari 10 santri menjadi sekarang berjumlah 2200 santri. [A Fahmi Ulum/H Wafi]

Hibatul Wafi

Hibatul Wafi

Leave a Replay