Workshop PKU VIII di INSISTS Berlanjut hingga ke STAI Az-Ziyadah dan Daarul Qur’an

Workshop PKU VIII di INSISTS Berlanjut hingga ke STAI Az-Ziyadah dan Daarul Qur’an

JAKARTA–Menjelang akhir perjalanan Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor di daerah Jabodetabek, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) mengundang rombongan kader ulama tersebut untuk menyampaikan beberapa tema pemikiran Islam di hadapan jamaah INSISTS, Sabtu (7/3) pagi. Siangnya, acara berlanjut di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Az-Ziyadah dan diteruskan di Daarul Qur’an pada malam harinya.

PKU VIII Hadir di INSISTS

PKU VIII Hadir di INSISTS

Kedatangan PKU VIII sudah lama ditunggu-tunggu peserta kajian mingguan INSISTS. Acara berlangsung di Ruang Diskusi INSISTS yang berlokasi di Jalan Kalibata Utara II No. 84, Jakarta Selatan. Para peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Jakarta, tapi juga datang dari daerah lain. Hal ini menunjukkan besarnya antusiasme mereka untuk mengikuti workshop yang terselenggara berkat kerja sama antara INSISTS dan PKU UNIDA Gontor ini.

Para pembicara yang dihadirkan di INSISTS kali ini mengupas tema-tema menarik berkaitan dengan tantangan pemikiran Islam. Salah satunya berjudul “Problem Penyimpangan Orientasi Seksual” yang dibawakan oleh Ayub. Peserta PKU VIII dari Makassar ini mengupas habis permasalahan mengenai lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Fenomena ini terus disuarakan kaum liberal hingga menuntut legalisasi pernikahan sejenis. Di Indonesia, maraknya aktivitas LGBT ini makin meresahkan umat Islam karena bertentangan dengan fitrah manusia dan ajaran agama. Ayub pun membuktikan bahwa kasus LGBT tersebut bukan fenomena alami yang bisa diterima agama dan masyarakat, melainkan penyakit sosial yang harus segera disembuhkan.

Pembicara lainnya adalah M. Faqih Nidzom dan Hariman Muttaqin. Yang pertama membahas tentang “Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam dan Problem Keilmuan Barat”, sedangkan yang kedua membahas tema berjudul “Teori Naskh dalam Dekonstruksi Syari’ah An-Na’im”. Dalam pembahasannya, Faqih menekankan pentingnya konsep ilmu dalam Islam yang intinya untuk memperkuat keimanan dan keislaman, serta mengenal Allah. Sedangkan Hariman menjelaskan upaya Abdullahi Ahmed An-Na‘im untuk menghancurkan syariat Islam melalui teori naskh-nya yang bertolak belakang dengan teori naskh dalam tradisi keilmuan Islam yang diterapkan ulama-ulama terdahulu.

Adapun workshop di STAI Az-Ziyadah berkaitan dengan pengaruh Nietzsche terhadap pemikiran liberal, disampaikan oleh Hariyanto, peserta PKU VIII dari Palembang. Tema lainnya dibahas oleh Hasbi Arijal mengenai konsep monoteisme agama-agama Semit yang tidak bisa disamakan dengan konsep tauhid dalam Islam.

Lain lagi halnya dengan tema yang dibahas dua peserta PKU di Daarul Qur’an, Ahmad Fauzan dan Qaem Aulassyahied. Sesuai dengan ciri khas pondok binaan Ustadz Yusuf Mansur ini, maka temanya pun tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Fauzan membawakan judul “Teks Al-Qur’an dalam Pandangan Nasr Hamid Abu Zaid” dan Qaem berbicara tentang “Kritik Konsep Sunah Muhammad Syahrur”.

Sambutan dari Daarul Qur’an begitu hangat dan penuh kekeluargaan. Ternyata, tidak sedikit alumni Gontor yang ikut serta mengelola pondok ini. Perbincangan khas Gontor pun terdengar tidak asing lagi di telinga. Keluarga besar Daarul Qur’an berharap pada tahun selanjutnya PKU kembali berkenan menggelar workshop di tempat mereka, agar ikatan keluarga antara Gontor dan Daarul Qur’an semakin erat.*elk

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *