Workshop Pemikiran dan Akidah Tarik Minat Mahasiswa dan Mahasiswi UIN Bandung

Workshop Pemikiran dan Akidah Tarik Minat Mahasiswa dan Mahasiswi UIN Bandung

BANDUNG–Kedatangan rombongan Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam Gontor ke Kota Bandung disambut di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD), Selasa (24/2). Mereka menggelar workshop pemikiran dan akidah yang mengangkat tema tentang pluralisme dan liberalisme. Besarnya minat mahasiswa dan mahasiswi UIN Bandung atau UIN Sunan Gunung Djati membuat workshop digelar dalam dua sesi.

Sesi pertama digelar pada pagi hari dengan tiga pembicara. Haryanto, sebagai pembicara pertama, membahas tema liberalisme berjudul “Konsep Tuhan Nietzsche dan Pengaruhnya terhadap Pemikiran Liberal”. Dalam penjelasannya, teori Nietzsche ini telah melahirkan paham nihilisme yang mencoba menghilangkan nilai-nilai ketuhanan. Nietzsche menginginkan manusia terbebas dari peraturan Tuhan hingga bisa berpikir dan berbuat sebebas-bebasnya. Inilah dasar pemikiran liberal saat ini, demikian sebagaimana yang diterangkan oleh Haryanto.

Pembicara kedua, Ahmad Fauzan, hadir dengan tema liberalisme berjudul “Teks Al-Qur’an dalam Pandangan Nasr Hamid Abu Zaid”. Fauzan mengungkapkan bukti-bukti pelecehan Al-Qur’an di beberapa tempat di Barat. Menurutnya, hal ini disebabkan adanya sebuah pandangan yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah kitab yang sakral. Salah satunya berasal dari Nasr Hamid Abu Zaid yang mengatakan bahwa Al-Qur’an hanyalah suatu produk budaya. Jadi, Al-Qur’an itu sama saja dengan teks-teks buku biasa. Padahal, kata Fauzan, kita tahu bahwa Al-Qur’an telah membuktikan dirinya sebagai wahyu Ilahi yang tak terbantahkan.

Adapun pembicara ketiga, Hasbi Arijal, membahas tema pluralisme berjudul “Problem Konsep Monoteisme dalam Agama-agama Semit”. Ia membuktikan bahwa konsep ketuhanan dalam agama-agama non-Islam tidak sama dengan konsep tauhid. Hasbi menjelaskannya dengan menelusuri akar sejarah ketuhanan agama-agama semit yang menganut konsep monoteisme tersebut.

Selanjutnya, sesi kedua digelar pada siang hari, sehabis Zuhur. Pada sesi ini, PKU VIII diwakili dua pembicaranya, yaitu Irwan Haryono dan Zuhdi Abdillah. Irwan membawakan tema pluralisme berjudul “Konsep Tuhan dalam Pluralisme (Kritik Analisis Hick dan Schoun)”. Secara khusus, ia mengkritisi konsep Tuhan yang diperkenalkan John Hick dan Frithjof Schoun. Menurutnya, konsep Tuhan yang dibawa kedua tokoh pluralisme ini bertujuan untuk menyamakan agama-agama dengan teori relativitas kebenarannya. Sehingga, tak ada satu agama pun yang berhak mengklaim sebagai agama satu-satunya pemilik kebenaran atau jalan keselamatan. Inilah permasalahannya karena Islam merupakan agama final penyempurna syariat-syariat terdahulu dan hanya Islam-lah satu-satunya agama yang sah dan benar di sisi Allah.

Kemudian Zuhdi membahas tema liberalisme berjudul “Kritik terhadap Pemikiran Homoseksual Irshad Manji”. Ia membeberkan segala kegilaan tokoh feminis dari Kanada ini, yang berani berteriak mendukung kaum lesbian. Untunglah, rencana kedatangannya dalam salah satu acara bedah buku dahulu kala ditolak mayoritas rakyat Indonesia dan para ulama. Pasalnya, paham liberal Irshad Manji sangat bertentangan dengan moral dan budaya masyarakat Indonesia secara umum, dan bertentangan dengan syariat Islam secara khusus.*elk

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *