Wisuda Angkatan ke-30, UNIDA Gontor  Lahirkan 371 Wisudawan dan Wisudawati

Wisuda Angkatan ke-30, UNIDA Gontor Lahirkan 371 Wisudawan dan Wisudawati

GONTOR – Kamis, 26/7 merupakan hari wisuda angkatan ke-30 Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Wisuda yang diselenggarakan di Balai Pertemuan Pondok Modern Darussalam Gontor ini mengukuhkan 371 wisudawan dan wisudawati dari program sarjana dan pascasarjana. Mereka adalah mahasiswa dan mahasiswi UNIDA Gontor yang telah menyelesaikan tugas akhirnya.

Pada resepsi wisuda ini, UNIDA Gontor mengundang Wakil Menteri Keuangan, Prof. Dr. Mardiasmo, M.S.A. Pada orasi ilmiahnya, beliau menyampaikan dan berharap agar pesantren umumnya dan UNIDA Gontor khususnya mampu menghidupi ummat dan menjadi pusat pengembangan ekonomi dan menjadi subjek pembangunan. Beliau juga berpesan kepada wisudawan dan wisudawati bahwa mereka adalah pemegang estafet berikutnya untuk melanjutkan dan mengisi kemerdekaan.

Pada wisuda angkatan ke-30 ini Zaenuri Adhim Musyafa’. dari Program Studi Teknik Informatika mendapatkan penghargaan Skripsi terbaik. Skripsinya tentang pengembangan aplikasi pembelajaran bahasa Arab mampu menyisihkan 4 nominasi lainnya. Selain itu, untuk program Pascasarjana penghargaan Tesis Terbaik dianugerahkan kepada saudari Patimah dari Program Magister Aqidah dan Filsafat Islam.

Hal lain yang menjadikan wisuda tahun ini istimewa ialah ada wali Wisudawati yang turut menghadiri resepsi wisuda ini dengan menaiki sepeda onthel sejauh 450 km dari Cilacap ke Ponorogo. Beliau ialah bapak Muhammad Juni wali dari Nur Annisa asal Cilacap. Bersepeda itu merupakan keinginannya sendiri. Dan sudah menjadi hobi beliau sejak lama. Tidak ada alasan ekonomi sama sekali. Ibunya pun juga turut menyusul dan hadir pada acara wisuda dengan naik kereta api.

Lewat aksinya ini Bapak Muhammad Juni ingin menyampaikan pesan khusus kepada kita semua. “Kalau yang lain kan naik sepeda motor wajar, naik mobil saya nggak punya. Nah, momentum kali ini saya ingin menunjukkan ke anak saya meski berat kalau kita telaten dan sabar pasti hasilnya nanti akan bagus. Anak saya dulu pernah minta keluar dari Pondok, tapi saya larang. Untungnya nurut dan berhasil lulus sekarang,” demikian ungkapnya.

Diakhir acara, Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Hasan Abdullah Sahal berpesan bahwa ilmu yang terpenting adalah barokahnya. Bukan tingginya, bukan banyaknya. Kita harus siap menjadi mundzirul qoum. Melawan liberalisasi dan kesesatan. Jangan sampai terseret kebohongan dan kebodohan. [Fikrul / Ed. Wafi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *