Waktu: Sebuah Janji

Waktu: Sebuah Janji

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

Waktu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, khususnya umat Islam. Islam memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dengan berbagai amal kebaikan, dengan mempergunakan semua daya yang dimilikinya. Bahkan sepanjang sejarahnya, ia menjadi salah satu tema terpenting yang disampaikan para da’i dan ulama kepada umat. Dimana ia selalu disampaikan dalam berbagai kesempatan, dan ditulis dalam berbagai karya.

Sedemikian itu tentu karena kita memang seringkali lalai akan nikmat Allah swt yang satu ini, sehingga tidak memanfaatkannya sebagaimana mestinya. Hal ini digambarkan secara memukau oleh pakar Sejarah dan Filsafat Peradaban, Malik bin Nabi, dengan ungkapan berikut, “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu basa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu—selain Tuhan—tidak akan mampu melepaskan diri darinya”.

Salah satu ulama besar dari Mesir, Syekh Muhammad al-Ghazali, dalam salah satu video ceramahnya juga menyampaikan hal serupa. Kemudian ia menjelaskan kembali perhatian al-Qur’an yang sangat besar terhadap waktu di banyak ayatnya. Sebagai contoh, Allah SWT tidak jarang menggunakan qasam (janji) dengan menyebut waktu, seperti “Wa-l-‘Ashr”, “Wa-l-Laili”, “Wa-l-Fajri” dan lainnya.

Tak hanya disitu, Syekh juga menyebutkan peringatan Nabi SAW dalam banyak Haditsnya tentang pentingnya waktu, nasehat para sahabat Nabi, dan teladan nyata dari orang-orang besar dalam mengamalkannya. Dari pemaparan yang disampaikan Syekh al-Ghazali, dan tentu banyak ulama lainnya, bisa kita ambil pelajaran mengapa Islam menaruh perhatian besar terhadap waktu. Diantaranya, karena waktu adalah modal manusia dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat, sebagaimana manifestasi keimanan kepada Allah SWT dan Hari Akhir. Waktu sangat cepat berlalu, dan yang berlalu tidak pernah kembali, dan yang terpenting, manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya.

Salah satu guru penulis, Ustadz M. Taufiq Affandi, membuat ilustrasi menarik. Ia menyebut bahwa kita ini adalah pengembara pada perjalanan kehidupan ini, dengan tiga waktu yang kita butuhkan untuk dimanfaatkan secara maksimal. Lihat di: http://unida.gontor.ac.id/tiga-waktu-seorang-pengembara/

Waktu yang pertama adalah waktu sendiri. Ia menyebut, inilah waktu yang mengantarkan kita pada perjalanan ke dalam diri kita sendiri. Mendengar suara hati dan berdialog dengan nurani. Dalam literatur Tashawwuf, barangkali inilah yang disebut dengan Uzlah (menyendiri), sebagai salah satu metode penyucian jiwa.

Ulama-ulama besar klasik seperti al-Qusyairi dengan ar-Risalah-nya, Imam al-Ghazali dengan Ihya Ulumiddin-nya, Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dengan al-Hikam-nya telah banyak membahasnya. Diantara metodenya adalah dengan dzikir, tadabbur, tafakkur dan kontemplasi. Tujuannya adalah agar kita semakin mengenal diri kita sendiri, kelebihan dan kekurangannya.

Dengan mengenal hakikat diri, siapa kita, siapa yang menciptakan kita, dan untuk apa kita diciptakan, kemana kita akan berakhir, akan semakin mengantarkan kita kepada kemurnian Aqidah dan Tauhid sejati, yaitu pengenalan dan pengakuan akan kebesaran Allah SWT dengan segala ketentuan-Nya.

Inilah yang oleh Ustadz Taufiq sebut sebagai waktu yang menyadarkan kita, bahwa dalam kesendirian pun sejatinya kita tidak benar-benar sendiri. Kita memiliki Allah, sehingga kita akan tergiring untuk berdialog denganNya, berkeluh padaNya, meminta hanya padaNya.

Waktu yang kedua adalah waktu bersama orang yang kita kenal. Baik itu keluarga, teman, rekan-rekan kerja. Mereka juga guru kita. Mereka mengajarkan lebih banyak hal daripada yang bahkan mereka sadari. Mengapa demikian?

Islam selalu mengajarkan keseimbangan. Kita diperintahkan untuk menjaga kesehatan jasmani dan ruhani, mengatur kehidupan dunia dan ukhrawi, hubungan dengan Tuhan dan sesama. kita tidak diperbolehkan mengerjakan satu dan meninggalkan yang lain, serius dalam satu hal, dan abai dengan lainnya. Semua ini diatur dengan lengkap dalam Syari’ah dan Akhlak.

Dengan itu, kita mengarungi kehidupan. Berinteraksi dengan keluarga, teman, rekan-rekan kerja itu menjadi media dan medan perjuangan kita dalam mengaplikasikan dan membumikan nilai-nilai tadi. Jika kita lihat sekilas, waktu yang pertama tadi merupakan perjalanan spitual kita untuk meneguhkan Tauhid dan keimanan, maka waktu kedua ini adalah upaya untuk mengejawantahkannya dalam kehidupan nyata.

Adapun waktu yang ketiga adalah waktu bersama orang yang belum kita kenal. Ustadz Taufiq menyebut, waktu kita butuhkan untuk menemukan hikmah dari orang-orang yang baru kita temui. Benar, waktu ini merupakan manhaj nubuwwah. Kita pun telah membaca dalam al-Qur’an, bagaimana Allah SWT memberikan pelajaran hidup yang mengagumkan kepada Nabi Musa dengan mengenalkan Khidir kepadanya. Bahkan, bukan hanya ilmu dan pengalaman, Nabi Musa juga mendapatkan arti merendah diri, kesabaran, dan mengambil hikmah dari sebuah kejadian.

Dengan membaca Sejarah Islam, akan kita dapati begitu halnya dengan Rasulullah SAW dengan kaum ansharnya. Para sahabat dengan wilayah-wilayah kekuasaan barunya, juga mayoritas ulama yang menjalankan metode ini. Dari mereka kita belajar bagaimana memanfaatkan waktu dengan perjalanan, mengenal oang yang belum kita kenal, dan mendapati hikmah dari pertemuan itu.

Untuk itulah kemudian Ustadz Taufiq menambahkan, “Inilah waktu yang memberimu sayap untuk terbang ke berbagai belahan dunia. Inilah waktu yang menjadikan pazel hidupmu lengkap. Seperti Imam Asy-Syafii yang membocorkan pada kita rahasia kebijaksanaannya; berkelanalah, maka kamu akan menemukan ganti dari orang yang kamu tinggalkan”.

Demikianlah, pengembaraan kita pada perjalanan kehidupan ini, dengan tiga waktu yang kita butuhkan. Sebagaimana layaknya sebuah perjalanan, kita hendaknya tahu kemana tujuan, melakukan persiapan matang berupa bekal kesehatan, uang, makanan, kendaraan dan lainnya, serta menempuh perjalanan itu dengan hati-hati seraya memperhatikan peraturan dan rambu-rambu yang ada. Maka perjalanan kita sebagai manusia ke kehidupan hakiki, memerlukan lebih dari dari hal-hal di atas.

Tidak pelak lagi bahwa ketiga waktu tadi harus diisi dengan berbagai aktivitas positif. Diantara caranya, Prof. Quraish Shihab dalam buku Wawasan al-Qur’an telah mengingatkan kita, yaitu dengan menelaah dan mengamalkan surat Al-‘Ashr. Di dalamnya disebutkan empat hal yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian. Yaitu; yang beriman, yang beramal saleh, yang saling berwasiat dengan kebenaran, da yang saling berwasiat dengan kesabaran. (Lihat dalam Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, cet. II, hal. 560-562)

Jika keempatnya kita amalkan, maka kita telah menjadi pengembaran kehidupan yang sebenarnya. karena keempatnya, ungkap Prof. Quraish dengan mengutip Syekh Muhammad Abduh, telah mencangkup segala makna amal shaleh, yaitu segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok, umat dan manusia secara keseluruhan.

Akhirnya, penulis ingin mengajak diri dan para pembaca untuk merenungi Hadis Nabi SAW berikut yang artinya, “Manfaatkanlah lima waktu sebelum datang lima waktu yang lain. Waktu mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakit, waktu kayamu sebelum fakir, waktu luangmu sebelum sibuk, dan waktu hidupmu sebelum mati”. (HR. Hakim).

Artikel terkait:

Inkubator bagi al-Ghazali Milenial: Catatan Akhir Workshop PKU UNIDA Gontor

Kata-kata bijak tentang kesedihan dan kebahagiaan: Menggugah dan Mencerahkan

Sanad Filosofis antara Dr. Dihyah dan Sir Muhammad Iqbal

Dr. Kholid Muslih, M.A: Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Lifestyle

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *