URGENSI ISLAMISASI PENGAJARAN SEJARAH: Catatan silaturahim PKU Gontor bersama Dr. Hidayat Nurwahid

URGENSI ISLAMISASI PENGAJARAN SEJARAH: Catatan silaturahim PKU Gontor bersama Dr. Hidayat Nurwahid

 

Oleh: M. Faqih Nidzom

Beberapa waktu lalu ada pernyataan yang cukup mengejutkan dari doktor jebolan Ilmu Sejarah UI, Dr. Tiar Anwar Bahtiar. Dalam salah satu penelitiannya ia menyimpulkan bahwa tradisi pengajaran sejarah di Indonesia, terutama dalam pengajaran sejarah umum, tidak berasal dari tradisi Islam. Kalaupun ada beberapa yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, sifatnya hanya kebetulan saja. (Lihat di: http://www.dakta.com/news/9992/mengislamkan-pengajaran-sejarah-ii)

Lebih jauh ia menegaskan: “Apalagi kalau mempertimbangkan tradisi penulisan sejarah Indonesia secara intensif dimulai dari tradisi kolonial-orientalis yang menempatkan Islam dan umat Islam sebagai musuh utama mereka. Dalam banyak kasus ditemukan kesengajaan mengubur Islam dalam sejarah Indonesia. Jangankan membincangkan masalah misi Islamisasi, mengenai fakta historis tentang peran umat Islam pun masih banyak yang tidak didudukkan secara proporsional.”

Menurut salah satu peneliti INSISTS ini, penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia, sekalipun penduduknya mayoritas Muslim, masih belum memenuhi tuntutan Islam. Indikasi paling serius yang ia sebutkan adalah sangat jarangnya diskusi dan pembahasan mengenai bagaimana nilai-nilai Islam harus bersanding dengan pengajaran sejarah. Ini menunjukkan bahwa dalam konteks pengajaran sejarah, Islam seolah-olah dianggap tidak perlu dilibatkan.

Program Kaderisasi Ulama PKU UNIDA Gontor - Universitas Islam - Universitas Islam Terbaik di Indonesia - bersama Dr Hidayat Nur Wahid - MPR DPR

Penyerahan Cindera Mata PKU oleh Dr Abdul Hafidz Zaid kepada Dr Hidayat Nur Wahid

 

Pertemuan Peserta PKU dengan Dr Hidayat Nur Wahid

Hal ini semakin penulis sadari ketika berkesempatan berdiskusi langsung dengan salah satu wakil Ketua MPR RI, Ustadz Dr. Hidayat Nurwahid. Bersama para peserta PKU Gontor, penulis disambut langsung oleh beliau di Gedung MPR pada tanggal 27 Desember 2018. Diantara poin penting yang beliau sampaikan adalah tentang relasi antara Islam dan Negara, antara ulama dan NKRI, dimana beliau memaparkannya dari aspek historisnya.

Dengan beberapa referensi akuratnya Beliau menyebut usia Indonesia setelah merdeka tidak lama. Sebab, pada 15 November 1946, Belanda hanya mengakui negara Indonesia adalah Jawa, Sumatera, dan Madura. Pada September 1948, sudah berdiri negara Republik Soviet Indonesia dengan Ibukota Madiun. Lalu, pada 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar, Belanda mengakui Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan UUD RIS dan 16 negara bagian—salah satu negara bagian adalah Republik Indonesia dengan ibukota di Yogyakarta.

Pada waktu itu, parlemen berperan mengembalikan Indonesia menjadi NKRI. Di poin inilah beliau menekankan bahwa ini semua tidak lepas dari peran ulama. Saat sidang DPR RIS, tampil seorang santri, tokoh ulama, dan ketua fraksi partai Masyumi DPR RIS yang bernama Pak M. Natsir.

Dalam pidato di depan sidang DPR RIS, Pak Natsir menyampaikan pidato yang dinamakan Mosi Integral. Dirinya menolak Indonesia dibagi dalam 16 negara RIS. Natsir mengusulkan kembali persatuan Indonesia, yaitu NKRI.

Pemerintah Indonesia melalui Bung Karno dan Bung Hatta setuju dengan Mosi Integral M. Natsir. “Pada tanggal 17 Agustus 1950 diproklamasikan NKRI. Kita mengenal dua kali proklamasi. Jadi 17 Agustus 1945 adalah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1950 adalah proklamasi NKRI.”

Dari sini Dr. Hidayat semakin mempertegas kesimpulannya, “Disitulah makna penting dari hadirnya seorang ulama. Jasa Ulama dan Kemerdekaan RI bagai dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan. Lihatlah bagaimana Bung Tomo dulu yang sowan kepada Hadharatus Syeikh KH. Hasyim Asyari, memohon izin untuk membacakan pidato yang ditulisnya, yang merupakan manifestasi dari (fatwa) resolusi jihad KH. Hasyim Asyari.”

Ini tentu fakta sejarah yang membanggakan bagi umat Islam. Hanya saja, beliau menyesalkan, dalam pengajaran sejarah kita sekarang, porsi penjelasan mengenai fakta sejarah yang ini sangat sedikit, untuk menyebut tidak ada. Hal ini, seperti kesimpulan penulis di awal, semakin mempertegas kesimpulan Dr. Tiar Anwar di atas.

Dengan ini, kata Dr. Hidayat, kalau kita mengenal ungkapan dari Bpk Soekarno “JASMERAH” atau Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, maka kita harus ingat satu semboyan lagi, yaitu “JAS HIJAU”, jangan sekali-kali menghilangkan jasa para ulama. Disini bisa kita simpulkan betapa besar urgensi membaca buku-buku sejarah dengan perspektif dan metodologi yang benar.

Jika kita lihat lebih jauh, selain sejarawan sendiri, banyak dari kalangan ulama dan filosof yang menaruh perhatian serius dalam bidang sejarah. Buya Hamka adalah salah satu contoh nyatanya di Indonesia. Selain dikenal luas sebagai seorang ulama yang mufassir, beliau juga seorang sastrawan, peneliti Kalam, Tasawuf, dan sekaligus seorang sejarawan unggulan, setidaknya dengan karya monumentalnya berjudul: Sejarah Umat Islam dari Pra-Kenabian Hingga Islam di Nusantara.

Di Tanah Melayu, Prof. SM. Naquib al-Attas menjadi terdepan untuk disebutkan; seorang filsuf besar abad ini, dimana penguasaan ilmunya interdislipliner. Dr. Hamid Fahmy mendeskripsikan beliau sebagai seorang alim kharismatis, sufi dan pakar tasawuf yg berwibawa, pakar filsafat dan kalam yg otoritatif, dan juga ahli sejarah Melayu. Dalam bidang sejarah ia menulis Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu dan Historical Fact and Fiction.

Dengan jelasnya urgensi ini, Dr Tiar Anwar pun menguraikan tawaran Islamisasi pengajaran Sejarah di Indonesia. Ia masuk dalam wacana Islamisasi kurikulum sejarah, yang dimulai dengan penjelasan tentang dasar epistemologis penulisan sejarah itu sendiri. Setelah itu, baru dikaji selintas kemungkinan Islamisasi kurikulum pengajaran sejarah, serta kaidah-kaidah dasar Islamisasi dan metode operasionalisasinya. Detail dari uraian Dr. Tiar Anwar ini akan penulis paparkan di lain kesempatan.

Di akhir, penulis tertarik untuk menyebutkan kutipan Dr. Adian Husaini tentang pentingnya bangsa ini mempelajari sejarah masa lalunya. Ia mengutip pernyataan tokoh Islam terkenal Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam bukunya, Islam at the Crossroads yang berbunyi, “No civilization can prosper or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past.” Ya, peradaban itu akan sirna ketika orangnya sudah tidak bangga lagi dengan peradabannya dan hubungan dengan sejarah masa lalu. Wallahu A’lam.

Jakarta, 27 Desember 2018

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *