UPI dan UNIKOM Gelar Seminar Pemikiran Islam Bersama PKU UNIDA Gontor

UPI dan UNIKOM Gelar Seminar Pemikiran Islam Bersama PKU UNIDA Gontor

BANDUNG–Selama berada di Bandung, kota yang terkenal dengan sebutan Paris Van Java ini, Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menghadapi jadwal paling padat pada hari Kamis (26/2). Pagi hari, beberapa peserta PKU VIII diminta Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk mengadakan workshop tentang pemikiran Islam. Menjelang siang, rombongan berpindah ke Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) untuk acara yang sama. Sedangkan dari siang hingga sore, mereka kembali lagi ke UPI menyertai Dr. H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A. yang menggelar seminar khusus tentang pendidikan.

Seminar Pendidikan bersama Dr. H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A.

Seminar Pendidikan bersama Dr. H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A.

Tiga pembicara yang mengisi workshop di UPI dari pukul 08.00 WIB berbicara tentang pluralisme, monoteisme, dan problem pendidikan kesetaraan gender. Problem konsep monoteisme dibahas oleh Hasbi Arijal, yang menurutnya berbeda dari konsep tauhid dalam Islam. Konsep monoteisme ini diklaim beberapa agama yang mengaku sebagai agama-agama Semit. Pluralisme dibahas oleh Irwan Haryono, dengan mengkritisi konsep ketuhanan dua tokoh terkenal pendukung paham yang menyamakan agama-agama ini. Sedangkan pembicara ketiga, Saiful Anwar, membahas problem yang bisa ditimbulkan pendidikan keluarga berwawasan gender.

Tiga pembicara berbeda mengisi workshop di UNIKOM yang juga bekerja sama dengan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN). Salah satunya, Syamsi Wal Qamar, mengkritisi pemahaman kaum orientalis dan liberal tentang makna Islam. Selama ini, Islam sudah jelas merupakan nama agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw, sebagai penyempurna bagi syariat-syariat terdahulu dan wajib diikuti pengikut agama sebelum datangnya Islam. Tapi, orang-orang orientalis dan liberal memaknai Islam bukan sebagai agama, tapi diartikan penyerahan diri kepada Tuhan, yang membuat pemeluk agama lain tidak perlu menjadi pengikut Islam asalkan sudah berserah diri kepada Tuhan-nya masing-masing.

Pembicara lainnya, Ahmad Fauzan, mengkritisi pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid yang mengatakan Al-Qur’an berbentuk mushaf itu bukan lagi wahyu Allah yang sakral, tapi hanyalah produk budaya hasil pemikiran Nabi Muhammad Saw. Jadi, boleh saja ditafsirkan sekehendak hati. Padahal, Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah yang tak satu pun ayatnya hasil rekayasa seorang manusia, bahkan tidak pula perkataan Rasulullah Saw.

Pembicara ketiga, Mahmud Budi Setiawan, mengkritisi sikap kaum feminis yang berkomentar tentang adanya hadis-hadis misoginis atau hadis-hadis yang bernada menyudutkan kaum perempuan. Kenyataannya, para ulama hadis telah menjelaskan bahwa hadis-hadis tersebut sama sekali tidak menyudutkan atau merendahkan kaum perempuan jika dipahami secara proporsional dan kontekstual. Jika dipahami secara tekstual dan dangkal akan memberikan pemahaman yang bertentangan dengan sikap atau akhlak Nabi Muhammad Saw yang menghormati kaum wanita.

Sementara Dr. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi sendiri merupakan undangan khusus di UPI bersamaan dengan jadwal workshop PKU VIII. Beliau menyampaikan tema pendidikan di hadapan segenap mahasiswa dan mahasiswi UPI, sekaligus menjadi pembimbing PKU VIII selama beberapa hari di Bandung, juga menyertai rombongan bersilaturahim dengan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Cabang Bandung.

Sehari sebelumnya, Rabu (25/2), beliau bersama rombongan PKU VIII sempat menggelar silaturahim dengan para santri di Pondok Pesantren Modern Al-Ihsan. Salah satu peserta PKU VIII, Cecep Supriadi, diminta menyampaikan materinya tentang relasi Islam dan negara di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Ihsan, dan beberapa orang dari peserta PKU VIII juga diminta mengajari santri-santri cara berpidato dalam tiga bahasa: Indonesia, Arab, dan Inggris.*elk

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *