Membangun Tradisi Intelektual ala UNIDA Gontor

Membangun Tradisi Intelektual ala UNIDA Gontor

 

 

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

Peradaban adalah keseluruhan prestasi dan hasil karya, atau sekumpulan bentuk-bentuk kemajuan suatu bangsa atau masyarakat yang hidup bersama dalam sebuah kota atau negara. Begitu definisi peradaban sebagaimana disebutkan dalam beberapa literatur. (Yusuf al-Qaradhawi, As-Sunnah Masdaran Lil Ma’rifah wa-l-Hadárah, 1997: 201)

Dalam konteks Peradaban Islam, A. Nasih Ulwan menyebut prestasi dan hasil karya itu berupa dua aspek. Pertama; kemajuan dari aspek materi, seperti bidang politik, militer, ekonomi, saintifik, kultural, dan sebagainya. Kedua; kemajuan dari aspek maknawi, seperti nilai-nilai spiritualitas, akhlak-moral, produk pemikiran, dimana itu semua terpancar dalam berbagai karya di ilmu-ilmu agama, sastra, filsafat, sains, arsitektur, seni rupa dan banyak lagi. (A. Nasih Ulwan, Ma’álim al-Hadárah fi-l-Islám wa Atsaruhá fi an-Nahdhah al-Awrubbiyah, 2003: 4).

Sebagaimana jamak diketahui, kesemua prestasi tadi muncul ke permukaan dan menjulang megah di panggung sejarah manusia, yaitu Sejarah Peradaban Islam. Jika kita lihat, setidaknya peradaban ini bisa terwakili dalam dua kata; peradaban ilmu. Guru Besar Bahasa Semitik di Yale University, Prof. Franz Rosenthal, menggambarkannya sebagai keagungan ilmu (knowledge triumphant).

Menjadi pertanyaan kita, bagaimana Islam sebagai agama mampu menjelma menjadi peradaban ilmu? Bagaimana ilmu-ilmu Islam lahir? Dalam buku Islamic Science toward Definition, Prof. Alparslan Acikgence menyumbangkan pemikiran yang berharga terkait hal ini. Dengan pendekatan historis-filosofis, serta meminjam pisau analisa the Worldview of Islam Prof. Al-Attas, ia menyebut lahirnya ilmu dalam Islam didahului oleh adanya tradisi intelektual yang tidak lepas dari lahirnya worldview Islam sendiri. Adapun kelahiran worldview Islam tidak lepas dari kandungan al-Qur’an dan penjelasannya dari Nabi.

Masih menurut Prof. Alparslan, jika kelahiran ilmu dalam Islam dibagi secara periodik, maka urutannya terdiri dari; 1. Turunnya wahyu dan lahirnya pandangan hidup Islam, 2. Adanya pemahaman terhadap struktur ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an dan Hadith, 3. lahirnya tradisi keilmuan Islam, dan 4. lahirnya disiplin ilmu-ilmu Islam. (Alparslan Acikgence, 1996: 65-68)

Periode pertama secara sederhana dapat digambarkan sebagai pondasi utama Islam. Al-Qur’an sebagai wahyu dan sumber utama Islam membangun struktur konsep dunia dan akherat sekaligus. Ia mengajarkan manusia cara pandang terhadap Tuhan dan keimanan kepada-Nya, hari kebangkitan, penciptaan, akhirat, surga dan neraka, hari pembalasan, baik dan buruk, konsep ‘ilm, nubuwwah, din, ibadah dan lain-lain, dimana kesemuanya itu merupakan elemen penting dalam pandangan hidup Islam. Ini juga sekaligus menjadi identitas dan pembeda antara Islam dan agama ataupun kepercayan-kepercayaan lain.

Periode kedua timbul dari kesadaran bahwa wahyu yang turun dan dijelaskan Nabi itu telah mengandung struktur fundamental scientific worldview, seperti struktur konsep tentang kehidupan (life-structure), struktur konsep tentang dunia, tentang ilmu pengetahuan, tentang etika dan tentang manusia, yang kesemuanya itu sangat potensial bagi timbulnya kegiatan keilmuan.

Sampai tahap ini, maka dapat diklaim bahwa embrio ilmu (sains) dan pengetahuan ilmiah dalam Islam adalah struktur keilmuan dalam worldview Islam yang terdapat dalam al-Qur’an. Hal ini juga diamini oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. (Lihat dalam Islamic Science: Paradigma, Fakta dan Agenda, hal. 9-10)

Berikutnya, yang menarik untuk kita cermati adalah tentang periode ketiga; lahirnya tradisi keilmuan dalam Islam. Periode ini merupakan konsekuensi logis dari adanya struktur pengetahuan dalam pandangan hidup Islam. Seperti biasa, karena suatu tradisi selalu melibatkan masyarakat maka tradisi keilmuan Islam, juga melibatkan komunitas ilmuwan. Komunitas inilah yang kemudian melahirkan kerangka konsep keilmuan Islam (Islamic scientific conceptual scheme) yang merupakan framework yang berperan aktif dalam tradisi keilmuan itu.

Dr. Hamid dengan mengutip Prof. Alparslan menyebut, bukti adanya masyarakat ilmuwan yang menandai permulaan tradisi keilmuan dalam Islam adalah berdirinya kelompok kajian, kelompok belajar atau sekolah Ahlus Suffah di Madinah. Disini kandungan wahyu dan hadith-hadith Nabi dikaji dalam kegiatan belajar mengajar yang efektif. Meski materinya masih sederhana tapi karena obyek kajiannya tetap berpusat pada wahyu, yang betul-betul luas dan kompleks. Ia menjadi gambaran terbaik institusionalisasi kegiatan belajar-mengajar dalam Islam dan merupakan tonggak awal tradisi intelektual dalam Islam.

Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya alumni-alumni yang menjadi pakar di berbagai bidang, utamanya Tafsir dan Hadits. Pada gilirannya, mereka dan murid-muridnya mampu mengembangkan keilmuan dengan kajian dan penelitian lanjutan. (Lihat juga tulisan Dr. Hamid: Tamaddun sebagai Konsep Peradaban Islam hal. 15-16).

Disini terlihat jelas, yang menjadi pondasi bagi lahirnya suatu disiplin ilmu adalah worldview yang memiliki konsep-konsep keilmuan. Worldview ilmiah ini kemudian menghasilkan tradisi intelektual, atau budaya ilmu –meminjam istilah Prof. Wan Daud- dalam masyarakat, dan selanjutnya lahirlah disiplin-disiplin ilmu. Dalam hal ini Prof. Alparslan membagi tiga tahap terbentuknya suatu disiplin ilmu; 1. Tahap problematik atau ilmu-ilmu dipelajari secara acak dan tanpa pembatasan, 2. Tahap disipliner atau kajian mulai dikelompokkan berdasarkan bidang-bidang tertentu, 3. Tahap penamaan, (naming stage) pada tahap ini bidang yang telah memiliki materi dan metode khusus itu kemudian diberi nama tertentu.

Dari pemaparan pemikiran beberapa tokoh diatas, bisa kita ambil pesan bahwa kelahiran dan perkembangan ilmu selalu dimulai dengan terbangunnya tradisi intelektual yang dibuktikan dengan adanya komunitas-komunitas ilmiah. Jika umat Islam saat ini menghendaki perkembangan ilmu, maka cara yang utama adalah dengan menghidupkan kajian-kajian. Bisa dimulai dengan materi-materi ringan tapi berkelanjutan, sesuai yang dicontohkan ulama generasi awal tadi, hingga materi-materi berat dan khusus.

Jika kita lihat, tradisi intelektual ini juga yang selalu dibangun oleh Universitas Darussalam Gontor. Bahkan di awal berdirinya Pondok Gontor, Trimurti Pendiri Gontor memiliki pesan yang visioner kepada santri-santrinya, “Jadilah ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama”. Pesan tadi tentu menjadi suntikan motivasi yang luar biasa, sehingga santri tergugah semangatnya untuk berliterasi dan membangun tradisi intelektual. Apalagi pondok mendukungnya dengan kegiatan sederhana namun sarat nilai; muwajjah malam, atau belajar kelompok tiap kelas yang dibimbing langsung oleh wali kelas dan guru-guru lain.

Adapun di Unida, tradisi intelektual pun terasa hidup. Selain seminar kelas, mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk mengikuti diskusi-diskusi di luar kelas. Ada yang wajib seperti diskusi pekanan bersama Direktorat Islamisasi Ilmu tiap Jum’at malam. Ia bersifat pengayaan untuk mata kuliah Islamisasi yang diajarkan di kelas untuk semua prodi, seperti Worldview Islam, Epistemologi Islam, Sejarah Sains Islam dsb.

Selain itu ada juga yang sifatnya sunnah, seperti diskusi dan kajian yang diadakan Himpunan Mahasiswa Prodi, diskusi di bawah Dewan Mahasiswa, kajian Tafsir al-Munir bersama tim Pusat al-Qur’an, dan banyak lagi. Ini belum termasuk seminar-seminar skala nasional dan international yang secara intensif diadakan oleh kampus. Dan baru-baru, adanya seminar Malam Literasi Santri makin menambah semarak deretan diskusi dan semangat literasi di kampus ini.

Menurut pengalaman pribadi penulis, benih-benih tradisi intelektual ini juga sangat terasa persemaiannya di Program Kaderisasi Ulama. Disana kami belajar langsung dari para pakar di bidangnya, dalam bidang Aqidah, Filsafat, pemikiran, syariah, isu-isu kontemporer, pelatihan jurnalistik, menulis dan lain-lain dengan sangat intensif.

Di sela-sela program, kami harus meresensi sekian buku secara bertahap, dan mendiskusikannya bersama teman-teman sekelompok. Dalam beberapa kesempatan kami juga diwajibkan untuk membuat makalah untuk diseminarkan di hadapan para peneliti junior di CIOS dan mahasiswa S1. Bahkan di akhir program, kami keliling mengadakan workshop seminar pemikiran dan peradaban di beberapa pesantren dan universitas terkenal di Indonesia.

Selanjutnya, tradisi intelektual ini juga sangat hidup di asrama program pascasarjana. Disini selain membaca dan mendiskusikan isu-isu dalam beberapa bidang, juga menelaah karya-karya tokoh salaf maupun kontemporer dari rujukan primer. Setidaknya, kami mengkaji ulang tema-tema yang didapatkan di kelas bersama teman-teman di asrama.

Di kelas kami mendapat beberapa materi dengan rujukan yang cukup membuat kami mngernyitkan dahi. Dari khazanah intelektual Islam, misalnya , kami membaca Rasail al-Kindi al-Falsafiyyah karya al-Kindi, Aghrad ma Ba’da Thabi’ah karya al-Farabi, Kitab as-Syifa’ karya Ibnu Sina, Tahafut al-Falasifah karya Imam al-Ghazali, Fasl al-Maqal karya Ibnu Rusyd, dsb. Dari Yunani dan Barat kami mengkaji beberapa buku yang menyebutkan judulnya pun kadang kami kesulitan. Bahkan tak jarang kami malu, mata kuliah Metafisika berubah menjadi Nahwu, karena banyaknya kesalahan kami dalam membaca teks-teks tersebut. Tapi dengan bimbingan intensif dari dosen, dan diskusi dengan teman-teman, kami pun sedikit-demi sedikit bisa memahaminya.

Dengan bimbingan para dosen juga, terutama Ustadz Dr. M. Kholid Muslih, kami sempat mengkhatamkan talaqqi kitab al-Jawab al-Kafi liman Sa’ala ‘an ad-Dawa’ as-Syafi karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan Tauhid karya Ismail Raji al-Faruqi. Adapun kajian yang masih berjalan, yaitu kajian kitab Prolegomena to the Metaphysics of Islam, magnum opus dari Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas bersama Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dan kitab Ihya’ Ulumiddin bersama Ustadz Sukron Makmun, M.A.

 

Kajian at-Tafsir al-Muniir di teras masjid UNIDA Gontor oleh Dr Kholid Muslih

 

Walaupun kajian dan diskusi-diskusi tampak sederhana, ia terasa sangat bernilai jika kita melihatnya dengan perspektif para tokoh di awal tulisan ini. Ya, bermula dari kajian-kajian di teras-teras masjid, dengan materi sederhana, tapi disitulah modal awal membentuk sebuah peradaban. Peradaban Islam adalah peradaban ilmu, dalam artian bahwa ilmu merupakan salah satu komponen penting dalam peradaban Islam, begitu beberapa tokoh menyebutnya. Dan peradaban ilmu dimulai dengan adanya tradisi dan komunitas ilmiah, dan komunitas ilmiah dimulai dengan kajian-kajian sederhana. Pada perkembangannya, kajian semakin banyak, dan tiap komunitas membahas dan mengembangkan disiplin ilmu tertentu.

Maka secara sederhana penulis menyebut, tanpa adanya kajian, jangankan untuk menghidupkan tradisi intelektual, mengembangkan disiplin ilmu dan—apalagi—membangun peradaban, memakai dan menggunakan kata “teras peradaban” pun akan terasa tidak layak. Dengan begitu, tidak ada jalan lain kecuali kita tergerak untuk berusaha menghidupkannya kembali, mengadakan kembali, dengan kendala dan waktu yang ada.

Sebagai tambahan motivasi, penting kiranya kita menelaah kembali buku Budaya Ilmu karya Prof. Mohd Nor Wan Daud, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam karya Prof. Mulyadhi Kartanegara, Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya karya Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi atau buku-buku sejenis. Setidaknya ini menurut hemat penulis. Sebab karya-karya tadi memaparkan berbagai hal yang berkenaan dengan tradisi ilmiah dalam Islam; mulai dari tantangan umat, faktor pendorong ilmu, lembaga pendidikan, sistem pendidikan, kegiatan-kegiatan ilmiah, penelitian ilmiah, metode-metode ilmiah yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim.

Bahkan mereka juga memberikan tawaran bagaimana cara kita mereaktualisasikan tradisi ilmiah tersebut dalam konteks kita sekarang. Tentu ini sangat baik untuk pengembangan intelektualitas kita, kampus kita, dan negara Indonesia secara umum, dimana mayoritas penduduknya adalah muslim. Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *