UNIDA Gontor Kampus Putri Perkenalkan Seni Ebru (Melukis di Atas Air)

UNIDA Gontor Kampus Putri Perkenalkan Seni Ebru (Melukis di Atas Air)

Mantingan, Ngawi (30/08). Jum’at pagi itu terlihat sesuatu yang berbeda di aula Gedung Pascasarjana UNIDA Gontor Kampus Putri. Pagi itu Markaz Khoti, menggelar acara bersejarah dalam bidang seni. Adalah al-Ustadz Alim Gema Alamsyah, tamu yang diundang untuk mengisi workshop seni ebru. Acara dimulai tepat pada pukul 08.30 WIB dihadiri lebih dari 100 peserta. Dalam sambutannya, al-Ustadz Andi Triawan, M.A sebagai pembimbing markaz khot mengungkapkan optimisme beliau terhadap seni ebru di Indonesia, salah satunya karena peran aktif UNIDA Gontor dalam mempopulerkan seni ini.

Ebru merupakan seni membuat pola-pola berwarna dengan cara memercikkan dan menyapukan cat warna ke atas air yang telah diolah dengan bahan tertentu. Pola ini lah yang kemudian dipindahkan ke kertas dan menghasilkan corak yang alami dan sangat menarik. Seni melukis di atas air ini konon muncul pada abad ke-13 di Turki dan menyebar ke Cina, India, Persia, dan Anatolia. “Saya pribadi belum tau banyak tentang sejarah dan perkembangan seni ebru di Indonesia. Karena itu langkah UNIDA Gontor Kampus putri dengan workshop ini saya harap merupakan titik awal berkembangnya seni ebru di Indonesia, dimulai dari Gontor” demikian ungkap tutor, ustadz Alim Gema yang juga alumni Gontor tahun 2000 (laviola) ini.

Antusiasme peserta terlihat dari awal acara hingga mendekati waktu salat jum’at. Sejumlah contoh karya ebru terlihat berjejer di panggung sebelum sesi ditutup. Pertanyaan seputar ebru yang tidak sedikit menunjukkan keinginan para peserta yang cukup tinggi untuk mendalami seni ini. Peserta juga terlihat merekam dengan catatan keterangan penting yang disampaikan oleh tutor.

Lepas dzuhur, workshop dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan ebru. Sejumlah mahasiswi guru dari kampus gontor putri 1, putri 2 dan putri 5, juga dari utusan pascasarjana putri terlihat asyik bermain warna di atas air yang sudah dicampur kitrah. Workshop hari pertama ditutup dengan menghasilkan setidaknya 25 karya ebru, baik itu jenis battal, gel git, maupuh hatip. Adanya unsur mahasiswi guru dalam workshop ini bertujuan supaya seni ebru bisa menjadi alternatif cabang seni dan keterampilan yang bisa menarik minat dan bakat santriwati. Dengan menyebarnya seni di kalangan mahasiswi, guru maupun santriwati, diharapkan tercapainya proses pendidikan melalui kegiatan seni yang kreatif, produktif dan edukatif. [maghfirah/unida_putri]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *