UIN Walisongo dan UNISSULA Sambut Baik Kehadiran PKU VIII

UIN Walisongo dan UNISSULA Sambut Baik Kehadiran PKU VIII

SEMARANG–Setiba di Semarang, Rabu (25/2) pagi, rombongan Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor langsung menggelar workshop di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dan Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Mereka mendapatkan sambutan yang sangat baik dari kedua universitas terkenal di kota tersebut.

Workshop PKU VIII di UIN Walisongo Semarang

Workshop PKU VIII di UIN Walisongo Semarang

Rektor UIN Walisongo turut hadir memberi sambutan sebelum tiga peserta PKU VIII menyampaikan materi workshop mereka. Sang rektor berharap bisa menjalin kerja sama dengan UNIDA Gontor secara lebih intensif. Ia mengaku mengenal Pak Zar dengan baik dan merasa terinspirasi oleh pemikiran-pemikiran salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor itu.

“Saya mengenal Pak Zar sebagai seorang kiai yang berpikiran dinamis dan inovatif. Beliau sungguh inspiratif. Kami berharap terjalin ikatan kerja sama yang resmi antara UIN Walisongo dengan Gontor,” kata sang rektor, Prof. Dr. Muhibbin, M.Ag.

Ketiga pembicara yang berkesempatan mengisi workshop di UIN Walisongo adalah M. Faqih Nidzom, Abdul Wahid, dan Muryadi. Tema yang dibawakan berbeda-beda. Faqih membahas tentang konsep ilmu dalam Islam sekaligus mengungkap problematika keilmuan yang datang dari Barat. Sedangkan Wahid menjelaskan permasalahan pluralisme di Indonesia yang mendapatk penolakan dari agama-agama, terutama Islam. Yang ketiga, Muryadi, membahas tentang cara berijtihad dengan menekankan pada tahqiq al-manath atau identifikasi masalah sebelum ditentukan hukumnya dalam syariat Islam.

Di UNISSULA, dua pembicara yang dihadirkan dari PKU VIII adalah M. Aqil Azizy dan Ahmad Sofyan Hadi. Mereka berdua membawakan tema tentang liberalisme, multikulturalisme, dan problematika pendidikan. Sebagaimana yang dipaparkan oleh keduanya, saat ini dunia pendidikan di Indonesia telah terpengaruh paham-paham Barat, bahkan tanpa disadari menyatu dengan kurikulum di sekolah-sekolah melalui buku-buku pelajaran.

“Dengan mengatasnamakan toleransi, anak-anak didik diajari untuk mengikuti doa bersama atau doa lintas agama. Bahkan, diajak untuk ikut merayakan hari raya umat agama lain. Inilah toleransi yang kebablasan dan bisa mengikis keimanan,” kata Sofyan.*elk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *