UII dan PUTM Yogyakarta Sambut Meriah Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam

UII dan PUTM Yogyakarta Sambut Meriah Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam

YOGYAKARTA–Usai menggelar workshop di Solo, Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor beranjak ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka langsung mengadakan workshop pada hari Ahad (22/2), pagi hingga malam, di empat tempat berbeda. Acara workshop yang diadakan di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta bersamaan dengan workshop di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Yogyakarta pada pagi hari. Sore harinya, acara digelar di Masjid Jogokariyan. Pada malam hari, acara yang sama bertempat di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.

Workshop PKU VIII di PUTM Yogyakarta

Workshop PKU VIII di PUTM Yogyakarta

Peserta yang hadir melebihi ekspektasi. Setiap tempat yang didatangi PKU selalu penuh. Memang, kedatangan PKU di Kota  Gudeg ini telah dinantikan dari jauh-jauh hari. Bahkan, pamflet-pamflet berisi pengumuman sekaligus undangan menghadiri serangkaian workshop PKU VIII di Kota Keraton tersebut telah tersebar di mana-mana. Hal ini menunjukkan tingginya animo masyarakat Yogyakarta dalam mengikuti kajian keislaman. Workshop bertema pemikiran dan peradaban Islam yang berawal di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tersebut dibuka untuk umum juga. Jadi, peserta yang hadir tidak hanya mahasiswa dan mahasiswi, tapi juga masyarakat umum yang berminat.

Workshop di UII Yogyakarta diisi oleh tiga pembicara dari peserta PKU VIII. Tema pertama disampaikan oleh Mahmud Budi Setiawan tentang “Analisa Kritis Studi Hadis Kaum Feminis”. Tema kedua berjudul “Konsep Ikhtilaf dalam Islam” dibahas oleh M. Shohibul Mujtaba. Sedangkan pembahasan ketiga berjudul “Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam dan Problem Keilmuan Barat” dibawakan M. Faqih Nidzom.

Dalam pembahasannya, Mahmud menyatakan bahwa kaum feminis telah berupaya menggunakan hadis untuk menjustifikasi pemikiran mereka. Padahal, jika diteliti, mereka hanya menyelewengkan maknanya sekehendak hati. Tapi, masyarakat sangat mudah tertipu paham yang membawa gerakan kesetaraan gender ke Indonesia ini. Sementara Mujtaba mencoba menjelaskan sejauh mana ikhtilaf itu bisa terjadi dalam Islam. Menurutnya, selama ini para ulama tidak pernah berbeda pendapat dalam segala hal yang bersifat mutlak sebagai pokok-pokok agama. Jika ada perbedaan, itu hanya dalam beberapa hal yang bersifat asumtif sesuai ijtihad para ulama yang otoritatif di bidang masing-masing. Sedangkan Faqih menjelaskan konsep ilmu yang benar agar tidak salah dalam memahami Islam karena tidak sedikit konsep keilmuan yang ditawarkan Barat bermasalah.

Pada waktu yang sama, tiga pembicara lainnya mengisi di PUTM Yogyakarta. Irwan Haryono membahas “Konsep Tuhan dalam Pluralisme”. Ahmad Kali Akbar menjelaskan tentang tema berjudul “Hermeneutika vs Takwil”. Sementara Abid Ikhwan Alhadi mengupas permasalahan berjudul “Tahrif Al-Qur’an dalam Literatur Ahlu Sunnah: Studi Kritis Buku Syiah Menurut Syiah”. Menurut Haryono, paham pluralisme datang bak pahlawan yang ingin mendamaikan agama-agama, namun caranya justru dapat memicu konflik antaragama. Tidak mungkin ada agama yang ingin konsep ketuhanannya disamakan dengan agama yang lain.

Berbeda dengan Haryono, Kali Akbar mengungkap permasalahan metode hermeneutika yang berkembang di berbagai perguruan tinggi Islam saat ini. Katanya, Islam sudah memiliki metode tafsir dan takwil yang baku untuk menafsirkan Al-Qur’an. Jadi, tidak perlu menggunakan hermeneutika yang hanya mengandalkan rasio itu. Sedangkan Abid menguak tuduhan Syi‘ah terhadap Ahlu Sunah mengenai tahrif Al-Qur’an atau penyelewengan terhadap Al-Qur’an. Ternyata, Syi‘ah hanya mengada-adakan tuduhan tak berdasar.

Sementara itu, di Masjid Jogokariyan, Ayub dan Qaem Aulassyahied, dua pembicara lainnya dari PKU VIII, berkesempatan mengisi kajian ilmiah dihadiri segenap masyarakat Yogyakarta. Ayub memberi kajian tentang fenomena penyimpangan orientasi seksual yang menurutnya bukanlah fitrah manuasia. Itu sejenis penyakit psikologis yang bisa disembuhkan. Sedangkan Qaem menegaskan pentingnya sunah sebagai rujukan hukum Islam selain Al-Qur’an. Jadi, Al-Qur’an dan sunah tidak bisa dipisahkan sebagai landasan syariat Islam.

Tidak kalah serunya, workshop PKU VIII di UAD secara khusus bertema problematika pendidikan kontemporer. Pembicaranya adalah Ahmad Sofyan Hadi dan Saiful Anwar. Keduanya berbicara mengenai infiltrasi paham-paham Barat di dunia pendidikan. Bahayanya, paham-paham seperti liberalisme, pluralisme, feminisme atau kesetaraan gender dan lain sebagainya itu bisa menjauhkan umat dari keislaman mereka. Maka, keduanya berharap agar orang tua berhati-hati dari paham-paham tersebut dan memperhatikan dengan teliti pendidikan yang diterima anak di sekolah.*elk

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *