Tingkatkan Keilmuan Mahasiswa Melalui Diskusi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Tingkatkan Keilmuan Mahasiswa Melalui Diskusi Islamisasi Ilmu Pengetahuan

UNIDA Gontor – Diskusi Islamisasi merupakan agenda yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa Universitas Darussalam Gontor. Pasalnya, Islamisasi Ilmu adalah visi terbesar dari UNIDA itu sendiri. Oleh karenanya, diskusi mingguan ini menjadi bagian dari upaya dalam merealisasikan visi tersebut. Di sini, mahasiswa dibekali oleh khazanah ke-Islaman. Utamanya dalam Islamisasi ilmu pengetahuan.

Pada Jum’at malam, 23 Agustus 2019, telah dilaksanakan pembukaan diskusi Islamisasi Ilmu Pengetahun di hall pertemuan gedung terpadu lantai 4 UNIDA Gontor. Acara ini dibuka langsung oleh al-Ustadz Muhammad Shohibul Mujtaba, M.Ag. “Diskusi Islamisasi ini akan terus diadakan setiap jum’at malam sampai menjelang ujian akhir semester”, katanya ketika memberikan sambutan.

“Kegiatan di UNIDA Gontor yang begitu banyak mampu kita kerjakan dengan baik. Itu semua berkat rahmat serta ma’unah dari Allah SWT. Oleh karenanya, berfikir itu tidak cukup hanya mengandalkan logika. Tapi, aspek religius juga harus turut andil. Contoh kecilnya, di sini tidak boleh mencukur dengan tipe khozak. Kenapa demikian? Karena sudah kita Islamisasikan raga dan jasmani mahasiswa kita ini. Selain itu, juga ada Islamisasi produk di sini. Tidak ada mahasiswa dari prodi Agro Teknologi menanam anggur, kemudian diramu menjadi minuman memabukkan. Tidak akan pernah ada sampai kapanpun”, Imbuh beliau disela-sela sambutannya menerangkan konsep berfikir.

Selain Islamisasi produk yang tadi dijelaskan, beliau juga menambahkan bahwa ada hal penting lainnya yang perlu di-Islamisasikan, yaitu jiwa. Jiwa itu terkait keyakinan, akhlak dan lain sebagainya. Ini sangat penting, karena semua kegiatan di UNIDA Gontor, misinya adalah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menguatkan keimanan para penghuninya.

Islamisasi ilmu pengetahuan sejatinya ialah ilmunya yg diislamisasikan. Hal itu karena dikhawatirkan menganut paham-paham yang melenceng dari tuntunan agama. Mengingat sudah begitu banyak sekali pengaruh-pengaruh dari barat seperti kapitalisme, liberalisme, pluralisme dan lainnya yang sudah masuk ke Indonesia. Dalam hal ini, beliau memberikan satu contoh tokoh Barat yang sangat besar pengaruhnya. Orang tersebut bernama Nietze. Dia mampu mengubah barat dari awalnya modern menjadi post-modern.

Pada sesi awal diskusi, yang menjadi pemateri ialah Wahyu Putranto, Khairul Ahmad, Aldi Pangestu, Rahmad Rivaldo, Atta Mahdi dan Sayidul Adnan. Semua pemateri mengungkapkan cara pandangnya terkait peran mahasiswa dalam membangun kembali peradaban Islam. Baik itu dalam segi agama, politik, ekonomi atau teknologi.

Dengan adanya diskusi ini, diharapkan mahasiswa memiliki bekal wawasan keilmuan. Sehingga, dia siap menghadapi berbagai tantangan pemikiran di luar sana. Sebagaimana yang disampaikan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, “Tantangan kita ini sudah di leher. Orang liberal tidak lagi bekerja dalam wacana lagi, tapi sudah masuk dalam perundang-undangan dan ranah pendidikan”, jelas beliau pada acara pentupan UTS Gasal beberapa hari yang lalu. [Syahrul]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *