Tiga Waktu, Seorang Pengembara

Tiga Waktu, Seorang Pengembara

oleh: Taufiq Affandi

Sebagai seorang pengembara pada perjalanan kehidupan ini, ada tiga waktu yang kita butuhkan. Tiga waktu yang memastikan kita berjalan dengan mata terbuka, dengan otak terbuka, dengan hati terbuka. Tiga waktu yang menjadikan kaki kita menguat seiring setapak kita; bukannya mengerdil dan mengatrofi.

Waktu yang pertama adalah waktu sendiri. Di pagi hari, sore hari, malam hari, atau jelang pagi pilihlah suatu waktu dimana kamu bisa sendiri. Waktu dimana kamu bisa mendengar degup jantungmu, hembus nafasmu, hingga dengung otakmu. Waktu dimana yang menjadi sahabatmu adalah hangat mentari, atau debur ombak, atau selembar sajadah.

Itulah satu waktu yang mengantarkanmu pada perjalanan ke dalam dirimu sendiri. Mendengar suara hatimu dan berdialog dengan nuranimu. Batinmu mungkin terasa kelu ketika berusaha berbicara denganmu; atau bahkan mungkin kau tak dapat mendengar suaranya. Itu bukan berarti ia tak dapat berbicara. Mungkin saja ia terlalu lama diam hingga ia perlu belajar lagi untuk berbicara.

Itulah satu waktu yang menyadarkanmu, bahwa dalam kesendirianmu kamu tidak benar-benar sendiri. Kamu memiliki Allah. Kamu akan tergiring untuk berdialog denganNya, berkeluh padaNya, meminta padaNya.

Waktu yang kedua adalah waktu bersama orang yang kamu kenal. Keluargamu, temanmu, rekan-rekan kerjamu, mereka adalah orang-orang yang dapat menghadirkan kehangatan di jiwamu. Kita membutuhkan waktu bersama mereka karena tanpa mereka luka menjadi susah tersembuhkan, dan hari-hari terasa begitu panjang.

Merekalah juga guru kita. Mereka mengajarkan lebih banyak hal daripada yang bahkan mereka sadari. Mereka menjadi air jernih tempat kita melihat wajah kita sendiri.

Waktu yang ketiga adalah waktu bersama orang yang belum kita kenal. Inilah waktu yang memberimu sayap untuk terbang ke berbagai belahan dunia. Inilah waktu yang menjadikan pazel hidupmu lengkap. Seperti Imam Asy-Syafii yang membocorkan pada kita rahasia kebijaksanaannya; berkelanalah, maka kamu akan menemukan ganti dari orang yang kamu tinggalkan.

Temukan hikmah dari orang-orang yang baru kita temui. Bersiaplah untuk tercengang dengan betapa banyak yang belum kita ketahui. Kita tinggalkan sejenak besar kita di sarang kita dan mari belajar dari kebijakan seorang anak kecil, seorang pemuda, atau dari seseorang yang telah mengenyam dunia lebih lama dari kita; meskipun itu adalah kali pertama kita menemui mereka.

Ada tiga waktu yang kita butuhkan. Sebagaimana perputaran musim, ia adalah keseimbangan yang menjadi harmoni. Kehilangan satu dari waktu itu menjadikan langkah kita terseok dan mentari serasa menarget kita untuk memberi teriknya.

Oleh karena itu, saat mentari terasa terlalu terik. Berteduhlah sejenak dan lengkapi waktumu.

Gontor, 9 Februari 2019

Artikel terkait tulisan tentang waktu ini:


Etika Grup WA: 7 Jenis Postingan yang tidak disukai

Kata-kata bijak tentang kesedihan dan kebahagiaan: Menggugah dan Mencerahkan

Bagaimana membuat murid percaya pada Guru?

Ternyata Cara Berdoa Orang Shaleh Berbeda

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *