STEI Tazkia dan STEI SEBI Hadirkan PKU VIII dalam Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam

STEI Tazkia dan STEI SEBI Hadirkan PKU VIII dalam Workshop Pemikiran dan Peradaban Islam

BOGOR–Pada Kamis (5/3) pagi, Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melanjutkan workshop bertajuk tantangan pemikiran dan peradaban Islam di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia di Bogor dan STEI SEBI yang berlokasi di daerah Depok. Rombongan didampingi dosen pembimbing, H. Setiawan Bin Lahuri, M.A. dan Hasib Amrullah, M.Ag. Karena digelar pada waktu yang sama, maka keduanya membimbing secara terpisah.

Suasana Workshop PKU VIII di STEI SEBI

Suasana Workshop PKU VIII di STEI SEBI

Rombongan PKU VIII yang mendapatkan kesempatan ke STEI Tazkia dibimbing H. Setiawan Bin Lahuri, M.A. dengan tiga pembicara, yaitu Ayub, Hariyanto, dan Zuhdi Abdillah. Tema menarik dari Ayub tentang penyimpangan orientasi seksual mendapatkan perhatian khusus dari peserta workshop. Menurutnya, fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT saat ini benar-benar meresahkan, terutama di kalangan umat Islam. Perlu ada upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan sama sekali tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Sedangkan Hariyanto menegaskan pengaruh Nietzsche terhadap pemikiran liberal yang berkembang belakangan ini. Munculnya jargon-jargon liberal di kampus-kampus bernuansa Islam semacam “kampus bebas Tuhan”, “anjinghu akbar”, dan “Tuhan membusuk” tidak jauh dari pengaruh pemikiran Nietzsche. Jauh berabad-abad silam, kata Hariyanto, Nietzsche telah mengatakan bahwa Tuhan itu telah mati, “God is Dead”. Pernyataan ini menjadi cikal bakal paham nihilisme yang ia usung, sekaligus menjadi dasar pemikiran postmodernisme. Jika umat Islam terpengaruh pemikiran Nietzsche ini, maka secara pelan-pelan mereka tidak lagi percaya kepada Tuhan alias ateis.

Pembahasan lainnya tentang Irshad Manji oleh Zuhdi terkait gerakan lesbianisme yang didengungkan tokoh feminis dari Kanada tersebut. Gerakan ini pernah mencoba dipaksakan masuk ke Indonesia, tapi untunglah beberapa perguruan tinggi yang sempat dijadwalkan sebagai tuan rumah seminar Irshad Manji membatalkan acaranya. Tentu saja, kata Zuhdi, pemikiran Irshad Manjid tidak bisa diterima masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam.

Di tempat lainnya, STEI SEBI, rombongan PKU VIII yang dibimbing Hasib Amrullah, M.Ag. juga diwakili tiga pembicara. Mereka adalah Syamsi Wal Qamar, Hasbi Arijal, dan Irwan Haryono. Pembahasan ketiganya hampir sama, yaitu mengarah ke paham pluralisme agama. Syamsi mengemukakan pendapat kaum orientalis dan pemikir liberal yang memaknai Islam dengar arti “berserah diri”, sehingga semua agama bisa dikatakan Islam karena setiap agama mengajari umatnya untuk berserah diri. Tidak jauh berbeda dengan Hasbi yang berbicara mengenai anggapan agama-agama Semint bahwa monoteisme sama saja dengan konsep tauhid dalam Islam, padahal jelas berbeda. Lebih jelas lagi, Irwan mengemukakan paham pluralisme yang dibawa John Hick dan Frithjof Schuon untuk menyamakan agama-agama.

Paham ini, kata Irwan, tidak lagi menjadikan Islam sebagai agama satu-satunya yang memiliki jalan kebenaran. Tapi, Islam hanya dianggap sebagai salah satu agama yang memiliki kebenaran. Padahal sudah jelas di dalam Al-Qur’an dinyatakan tidak ada agama yang sah di sisi Allah selain Islam.*elk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *