Seminar Tentang Zakat Akhiri Festival Syariah 2020

Seminar Tentang Zakat Akhiri Festival Syariah 2020

UNIDA Gontor – Seminar tentang Zakat menjadi penutup dari kegiatan Festival Fakultas Syariah tahun 2020 ini. Acara Seminar Nasional ini dihelat di Aula Gedung Utama lantai 4, Sabtu, 14 Maret 2020.

Prof Amal Fathullah Zarkasyi menyatakan, bahwa ekonomi Islam turut menjadi soko guru pada ekonomi nasional. Meski ada yang tidak suka, tetapi mereka tidak pernah menyelesaikan persoalan apapun. Hal ini, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Karena itulah, Pembelajaran tentang ekonomi Islam perlu didalami dan dikaji lebih lanjut secara institusional.

Bukan hanya itu, UNIDA sudah memulai dengan berkolaborasi depan Universitas di Luar Negeri seperti Brunei, Malaysia, hingga Turki. Yakni seminar mengenai hal hal yang ada dalam cakupan Ekonomi Islam. Baik Zakat, hingga Wakaf. Hal ini merupakan upaya membangun wacana dan menggali fakta tentang ekonomi Islam sebagai tawaran atas krisis ekonomi dunia.

Usai itu, beliau mengajak para hadirin untuk membuka acara dengan basmalah. Dilanjutkan dengan sesi penyerahan kenang-kenangan dan foto bersama.

Moderator kali ini adalah ustadz K Jabal Alamsyah, Lc., MA. Beliau S-1 di Mesir, dan S-2 di Brunei. Beliau mengawali dengan perkenalan pembicara; yakni Prof Dr KH Didin Hafidhuddin, M.Sc. Yang mana, beliau juga menjadi Dewan Pertimbangan di MUI. Selanjutnya, hadir pula Irfan Syauqi Beik, Ph.D. Turut pula Dekan Fakultas Syariah, yakni Dr Imam Kamaluddin, Lc,. M.Hum. Kesemua perkenalan tersebut, diperlihatkan dengan rapi dan runtut dalam slide di Aula Gedung Utama.

Dr Imam Kamaluddin memberikan pemaparan pertama tentang “Menumbuhkan Kepercayaan (trust) pada Lembaga Pengelolaan Zakat”. Beliau memberi pendahuluan, bahwa kedua pembicara kita adalah ahli dalam bidang yang sama. Namun belum pernah duduk bersama dalam satu seminar. Sebagai pembicara dan pemateri.

Beliau menyatakan, bahwa hadirnya beliau berdua hari ini; salah satu dampak dari ‘berkah’ Corona. Karena, awalnya; jadwal Dr Irfan Syauqi Beik telah memiliki jadwal yang padat. Untuk ke Jepang dan Thailand. Namun, kedua negara tersebut akhirnya membatalkan karena menutup akses negaranya. Jadilah beliau ke sini.

Beliau memaparkan tentang perkembangan zakat dan pengelolaannya di Selangor. Yang muslimnya sekitar 60%. Dikelola oleh Rumah Zakat Selangor. Dikelola langsung dengan potongan 2,5% bagi orang yang muzakki. Tahun 2019 saja telah berhasil membiayai seluruh penduduk muslim untuk mendapatkan rumah. Juga pendidikan gratis bagi yang kurang mampu. Juga membiayai modal usaha. Belum lagi fasilitas lainnya. Dibiayai dari pengelolaan zakat. Yang ‘kecil’; yakni 2,5% saja.

Pengelola zakat di Selangor, merupakan ahli profesional. Bukan ahli yang merangkap pekerjaan bidang lain. Bayt Zakat Kuwait saja, membuat kantor cabang di beberapa negara. Untuk menyalurkan zakat. Bagi orang yang berstandar mustahiq di negara tersebut. Juga negara ‘sadar zakat’ seperti Saudi dan Emirates. Bahkan, kebanyakan dari negara tersebut menyalurkannya ke lembaga pendidikan; yakni al Azhar di Kairo.

Di situlah muncul kesimpulan korelatif: kemampuan al Azhar dalam mengelola wakaf dan Zakat secara profesional menimbulkan kepercayaan pada para muzakki untuk menyalurkan zakatnya. Kasus lain; saat beliau berkeliling bersama tim di Kaltim. Membuat Giswaf. Gerakan Indonesia Sadar Wakaf. Luar biasa. Mendapat data muzakki hampir senilai 200 M. Namun, para muzakki kurang berkenan saat namanya didata oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Ada aspek ‘untrust’. Khususnya pada lembaga filantropi bentukan pemerintah. Di Aceh juga demikian. Yang Perda syariah-nya sangat terdepan dalam pelaksanaan itu. Juga semangatnya yang tinggi. Dalam memberantas gerakan khalwat, pacaran, dan lainnya. Namun belum terlalu semangat saat mendengar edukasi tentang zakat. Yang sifatnya fadhu ‘ain itu.

Trend di masyarakat, membayar zakat secara pribadi. Bukan kepada institusi. Bahkan, beberapa daerah masih pada tradisi lama: membayar zakat pada tokoh agama. Kiai misalnya. Meski tetangga sekitarnya masih ada yang kesulitan mencari makan. Dari segi edukasinya, zakat masih minim. Jarang ada khutbah Jumat khusus membicarakan tentang zakat. Kebanyakan tentang taqwa, sabar, tawakkal, dan lainnya. Padahal ini rukun iman. Ada dua problem di situ: kepercayaan dan edukasi.

Karena itulah, edukasi zakat menjadi penting. Apalagi peran pemerintah dalam menciptakan kepercayaan di situ. Ini selaras dengan surat al Mā’ūn. Pada ayat ‘yukadzibu bid-dīn’ bermakna bahwa orang beragama Islam secara ‘bohongan’ saat ia tidak mempedulikan memberi makanan untuk orang miskin.

Ayat ini juga selalu disampaikan oleh KH Ahmad Dahlan. Sang pendiri Muhammadiyah. Yang terkenal dengan gerakan ‘al-Mā’ūn’ itu. Yang pernah akan melelang seisi rumahnya. Untuk Muhammadiyah. Namun justru orang berebut menyumbang. Tanpa mengambil barangnya. Itulah makna kepercayaan. Harus didahului dengan aksi. Bukan pencitraan.

Prof Didin memulai presentasi dengan ayat: …wamā āitum min zakātin turīdūna wajha-Allah. Pada surat ar Rūm ayat 39. Yakni mem-versus-kan antara zakat dan riba. Bahwa riba, bertambah secara nominal; namun tidak secara ilāhī. Yakni tidak berkembang berkahnya: …falā yarbuwa ‘inda-Allah. Uniknya, zakat membuat nominal ‘berkurang’ tetapi bertambah secara ‘berlipat ganda’ (mudh’fūn).

Maka, dalam literatur Fiqh, zakat dimaknai sebagai ‘tumbuh’ (numuw) dan berkembang. Juga lainnya, seperti sedekah, infaq dan wakaf.

Soal literasi, pokok dari pengelolaan zakat hanya dua; distribusi (al Taubah 60) dan penghimpunan (al-. Karena, saat distribusi merata dan tepat, kepercayaan akan muncul. Dan mendorong penghimpunan.

Yakni, pola zakat bisa ditiru pemerintah. Amil zakat digaji penuh. 12,5% yakni 1/8 dari zakat tersebut. Soal penghimpunan, bukan hanya urusan pribadi. Tapi juga lembaga. Juga institusi. Dalam literatur sirāh juga demikian. Rasūlullāh saw senantiasa mengutus ‘pejabat’ untuk mengambil zakat.

Sehingga, agenda Baznas adalah edukasi zakat. Bukan hanya soal hukum, tapi juga hikmah. ‘Berzakatlah, maka akan tenang’. Karena persoalan distribusi akan selalu menantang. Apalagi menyalurkan zakat secara pribadi. Dengan mengumpulkan orang miskin. Lalu berebut. Dan ada yang meninggal. Lalu jadi berita. Buruk. Inilah salah satu resiko. Yang perlu di-manage.

Zakat pun membangun etos kerja. Memotivasi bekerja keras. Bahkan para sahabat nabi seluruhnya orang kaya. Dalam al Quran, surat al Nūr; disebutkan ‘kesatuan’ antara pasar dan masjid. Rijālun lā tulhīhim tijārah… dan seterusnya.

Tentu, tantangan di masa kini adalah Sosialisasi dan Edukasi. Di zaman Pak Dahlan Iskan menjadi mentri BUMN, menyarankan agar dana pemberdayaan untuk orang miskin, bukan hanya untuk kementrian sosial saja. Melainkan juga untuk Baznas. Dan perlu mendapat dukungan. Dan sinergi. Karena gerakan zakat bukan hanya gerakan Baznas. Tetapi juga gerakan sinergi nasional.

Baznas pun, membuat target. Agar para mustahiq menjadi muzakki berikutnya. Dalam beberapa tahun; setelah melewati program pemberdayaan mustahiq, melalui dana zakat. Dan perlu dukungan. Bukan APBN, namun regulasi. SK demi SK yang mendorong itu. Berikut pula kebijakan publik. Untuk mudah diajukan menjadi peraturan institusional. Seperti Zakat sebagai pengurang Pajak. Atau Zakat Profesi. Atau lainnya. Ini akan masuk dalam Prolegnas. Semoga saja bisa lolos menjadi undang-undang dengan mudah. Tanpa perlu ‘lampiran’ apapun di balik draf-nya.

Beberapa regulasi yang di atas; masih sering ditolak. Agar tidak dianggap negara Islam. Padahal, tujuannya untuk kesejahteraan semua. Juga negara sekaligus.

Zakat masa kini; juga bertambah obyeknya. Dahulu, hanya perdagangan dan pertanian. Namun sekarang? Profesi juga perlu dizakati. Misalnya, dokter spesialis. Yang sekali ‘mengusap’ pasien sudah dibayar sekian. Juga advokat atau konsultan hukum terkenal. Yang saat bilang ‘siap’ saja sudah perlu membayar. Demikian akhir dari paparan Prof Dr KH Didin Hafidhuddin.


Penulis: M. Taqiyuddin, dosen Pendidikan Bahasa Arab Universitas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *