Seminar PKU IX Gontor di Universitas Gadjah Mada

Seminar PKU IX Gontor di Universitas Gadjah Mada

Ulama pada dasarnya adalah salah satu ciri khas dari agama islam yang berdakwah untuk menujukan pada yang benar, selain itu ulama adalah salah satu warisan dari nabi dan untuk itu kita di tuntut untuk memainkan peran para nabi. Program kaderisasi ulama (PKU) UNIDA Gontor terus melanjutkan seminar dakwahnya ke berbagai tempat salah satunya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sabtu (23/1/2016)pagi.

Pada kesempatan ini, Ust. Harda Aryamanto,M.A dan Ust. Imam Kamaluddin, M.Hum selaku pembimbing progam kaderisasi ulama’ (PKU) Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) turut ikut serta dalam membentuk ulama’ yang intelek dan berkualitas. Pada dasarnya para ulama berhadapan dengan berbagai pemikiran beragam yang menjerumuskan, membutakan seluruh umat islam yang masih minim akan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Kegiatan seminar yang akan di paparkan secara langsung dengan tiga pemateri dari PKU UNIDA Gontor yaitu Indra Ari Fajari, M. Habibullah, M.Habiburahman.

Pembicara tema pertama di sampaikan oleh Indra Ari Fajari dengan tema “problem rasionalisme di barat”. Dengan ini beliau menjelaskan bahwa, epistimologi sekuler berpandangan ilmu itu sebagai musuh agama. Tokoh rasionalisme mengungkapkan bahwa kebenaran itu di amati 3 tahap: indra, mimpi, berpikir. Sedangkan konsep akal dalam islam memiliki 2 fungsi untuk berfikir dan merasa. Barat menerima ilmu dari pencaindra- akal,sedangkan islam menerima ilmu dari wahyu, pancaindra dan akal.

M. Habibullah sebagai pembicara kedua membahas tentang “problem kesetaraan gender menurut agama-agama”. Beliau menjelaskan bahwa, feminisme adalah gerakan wanita di barat untuk menentang dan melawan kaum laki-laki agar status dan hak meraka itu sama seperti laki- laki (disetarakan). kesetaraan artinya sepadan,sama (equality) gender adalah apa yang kita lakuakan pada kehidupan social. Tolak ukurnya untuk menikmati status dan hak antara wanita maupun laki-laki. Mereka beragumentasi karna menurut mereka tidak ada keadilan di kaum wanita dan mereka berargumen bahwa wanita dan laki-laki sama-sama mempunyai status universal. Beliau menjelaskan juga bahwa karl mark adalah yang menbuat ide kesetaraan gender dengan paradigma social konflik disebabkan oleh diskriminasi dalam relasi social . Diskriminasi berasal dari ajaran agama sehingga agama harus diperkecil perannya (menurut karl mark).

Tema ketiga disampaikan oleh M.Habiburahman dengan tema “ pluralisme dalam perspektif agama-agama”. beliau menjelakan bahwa, kata-kata yang mengandung “isme” ini berasal dari eropa dan kita telah di jajah, kita boleh mempelajarinya tetapi kita harus mengislamisasikan. Beliau menjelaskan arti dari pluralisme. Apa itu pluralisme? Pluralisme adalah pengakuan terhadap keragaman kelompok dengan menjaga aspek keberadaan .

Konsep pluralisme itu membentuk toleransi sesama manusia lalu terciptanya kerukunan hidup sehingga agama menjadi sama. Pluralisme melahirkan rasa anti agama. Agama-agama sendiri menolak tentang pluralism seperti kristen katolik menolak pluralism karena yesus kristus jalan menuju kebenaran .Kristen protestan tidak meyakini pluralisme karena mereka akan membelokan pimikiran kita dan keyakinan mereka. Agama hindu tidak menerima karena ajaran yoga hanya di hindu tidak ada di agama lain. Begitupula Agama islam tidak menerima karena sudah di terangkan dalam Al-qur’an (Q.S Al Imran :85). Dan islam tidak membenarkan agama-agama selainnya (Q.S Al Imran: 19). Dengan kesimpulan semua agama itu memiliki konsep agama yang mutlak yang tidak bisa di samakan oleh pluralisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *