Sebulan Penuh Bersafari Menggelar Workshop, PKU VIII Melepas Lelah di Situ Gintung Sebelum Kembali ke Gontor

Sebulan Penuh Bersafari Menggelar Workshop, PKU VIII Melepas Lelah di Situ Gintung Sebelum Kembali ke Gontor

CIPUTAT–Program Kaderisasi  Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan ke-8 telah sampai di ujung perjalanan. Sebanyak 23 peserta PKU tahun ini sudah melewati waktu sebulan berpindah dari satu daerah ke daerah yang lain, berkeliling Jawa dari Lamongan hingga akhirnya ke Jakarta sejak awal Februari 2015 lalu. Mereka menggelar workshop tantangan pemikiran Islam di berbagai pondok pesantren dan perguruan tinggi dengan jadwal padat yang tiada henti. Akhir pekan ini, Ahad (8/3), mereka melepas rasa penat di Taman Wisata “Pulau Situ Gintung” sehari penuh, karena esoknya, Senin (9/3), mereka sudah mulai meninggalkan Jakarta untuk kembali ke Gontor.

Evaluasi dan Relaksasi PKU VIII di Taman Wisata "Situ Gintung"

Evaluasi dan Relaksasi PKU VIII di Taman Wisata “Situ Gintung”

Di obyek wisata yang berlokasi di Jalan Kertamukti, Pisangan Raya No. 20, Desa Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, ini pula beberapa pembimbing utama PKU mengevaluasi rihlah ilmiah mereka selama sebulan. Evaluasi santai bernuansa rekreasi ini dilaksanakan PKU VIII bersama empat pembimbing, yaitu Dr. H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil., H. Setiawan Bin Lahuri, M.A., Hasib Amrullah, M.Ag., dan H. Khaerul Umam, M.Ec.

Mengawali evaluasi, para peserta PKU diminta menyampaikan kesan-kesan mereka selama mengikuti perjalanan dari ujung timur Pulau Jawa hingga ke ujung barat. Setiap peserta mengungkapkan kesyukuran dan merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan yang penuh dengan pelajaran dan pengalaman ini. Mereka bisa mengenal beragam kehidupan masyarakat di pelosok desa hingga daerah perkotaan. Mereka juga bisa melihat peta perjuangan untuk masa depan serta mengetahui beragam pemikiran yang berkembang di berbagai tempat, terutama di perguruan tinggi, baik yang berlabel Islam maupun tidak. Betapa luas wawasan yang telah mereka dapatkan dari acara ini. Intinya, perjalanan mereka selama sebulan itu memang tak ternilai harganya.

Selanjutnya, Ustadz Hasib Amrullah memulai evaluasi. Ia mengingatkan semuanya agar tidak merasa berjuang sendiri atau merasa paling berjasa. Masih banyak orang-orang yang lebih tulus berjuang untuk umat dan agama di tempat-tempat yang mungkin tak terjamah media. Ustadz Hasib berharap, para peserta PKU tahun ini dapat mengabadikan pengalaman mereka selama workshop dalam bentuk tulisan hingga bisa dinikmati banyak orang. Ustadz Setiawan juga menambahkan, melalui program ini, bisa dilihat bagaimana Gontor menjadi perekat umat, dan mampu menciptakan kader-kader militan yang siap berjuang di mana saja. Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan Ustadz Khaerul Umam. Banyak orang yang terjebak dalam perbedaan pendapat sepele, hingga mengorbankan persatuan dan persaudaraan dalam Islam. Maka, PKU hadir mengajari umat bagaimana menyikapi perbedaan pendapat hingga bisa duduk berdampingan di atas satu bangku.

Kemudian Ustadz Hamid Fahmy berpesan kepada semua peserta PKU VIII yang duduk di hadapan beliau, “Wujudkanlah kesalehan individual di dalam diri kalian sekaligus kesalehan intelektual. Sekarang banyak orang yang terlihat rajin beribadah, tapi ternyata pemikiran mereka berbahaya karena menyesatkan orang lain.”

“Teruskanlah learning habit kalian. Jangan berhenti sampai di sini karena ini baru awal dari ‘intellectual journey’ kalian. Sekali kalian masuk ke dunia ilmu pengetahuan, maka kalian tidak bisa keluar lagi, karena jika kalian keluar, maka ilmu pengetahuan itu akan meninggalkan kalian,” pesan Ustadz Hamid.

Di akhir evaluasi, beliau meminta para peserta PKU untuk menjalin komunikasi dengan para ulama. Satu lagi, mereka diminta untuk tidak berhenti menulis karena penulis itu tidak akan pernah mati. “A journalist never died,” kata Dr. Hamid Fahmy menirukan kata-kata sahabatnya, Dr. Adian Husaini.

Keesokan harinya, Senin malam, rombongan PKU VIII bertolak dari Jakarta menuju Gontor. Tapi, sebelum pulang, mereka masih sempat melihat-lihat Kantor Majalah Gontor pada pagi hari. Mereka mendapatkan penjelasan dari Ustadz Akrimul Hakim tentang majalah yang berada di bawah naungan Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut. Selain itu, siang harinya, mereka juga berkesempatan mengunjungi Universitas Sahid Jakarta dan Universitas Islam 45 Bekasi untuk menggelar workshop di kedua universitas tersebut. Setelah itu, tunailah tugas mereka melaksanakan workshop sebulan penuh, bahkan lebih. Gontor pun telah menanti kedatangan mereka untuk berbagi ilmu dan pengalaman.*elk

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *