Rahasia Konsep Kebebasan Ala Gontor

Rahasia Konsep Kebebasan Ala Gontor

 

 

Oleh: M. Faqih Nidzom

Katanya, di Gontor ada jiwa kebebasan, tapi mengapa santrinya dilarang ini dan itu? Gak boleh ini itu? Katanya, di Gontor ada motto berpikiran bebas, mengapa para asatidznya menaruh perhatian khusus dalam meluruskan pemikiran-pemikiran segelintir alumninya yang liberal? Bukankah itu implementasi dari motto tersebut?

Di atas tadi merupakan sedikit contoh dari sekian banyak persoalan seputar nilai kebebasan di Gontor. Pertanyaan-pertanyaan tadi bisa muncul dari siapa saja; pengamat, peneliti, walisantri, dan tak jarang keluar dari para alumni Gontor sendiri. Bahkan, ada sejumlah kecil dari mereka yang mengaku alumni, menyetujui dan mengusung liberalisme dan liberalisasi pemikiran Islam, lalu menjustifikasi gerakannya dengan jiwa kebebesan dan motto berpikir bebas-nya Gontor.

Mengutip mukaddimah guru kami, Dr. Syamsuddin Arif, istilah kebebasan dan kemerdekaan memang umumnya dipahami sebagai padanan kata freedom dan liberty. Artinya keadaan dimana seseorang bebas dari dan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Yang disebut pertama (bebas dari) adalah kebebasan negatif, dimana segala bentuk pengaturan dan pembatasan berupa suruhan, larangan ataupun ajaran, dianggap berlawanan dengan kebebasan. Adapun yang kedua (bebas untuk) dinamakan kebebasan positif, dimana seseorang boleh menentukan sendiri apa yang ia kerjakan.

Lantas, bagaimana kita memahami nilai kebebasan Gontor dengan benar? Apa sumbernya? Benarkah yang diungkapkan para pengusung liberalisme tadi? Ini yang menjadi PR para santri, guru dan semua alumni untuk menjawabnya dengan baik dan tetap elegan.

Selasa, 12 Februari 2019, penulis mendapatkan kesempatan untuk menguji sidang skripsi salah satu mahasiswi program studi Akidah dan Filsafat Islam Unida Gontor, Fatimah az-Zahra. Penelitian yang dibimbing oleh Ust Hasib Amrullah, M.Ud. ini berusaha mendeskripsikan konsep kebebasan Gontor yang sebenarnya. Tak cukup dengan satu metode, peneliti ini juga menganalisanya dengan pendekatan filosofis, khususnya konsep yang ditawarkan oleh Prof. Naquib al-Attas.

Dalam perspektif Filsafat, khususnya Epistemologi Islam, mengilmui sesuatu itu harus dengan dan dari sumber yang tepat. Karena mengilmui sesuatu berarti berusaha mengetahuinya, memahaminya dan menangkap makna yang sebenarnya. Untuk mengetahui konsep dan makna kebebasan Gontor, maka hendaknya kita merujuk ke sumber primernya. Inilah gambaran sederhana dari apa yang disebut dengan epistemologi khabar shádiq. Berilmu dengan merujuk kepada sumber yang otoritatif.

Menurut penulis, peneliti ini cukup baik menempatkannya, dengan melihat daftar pustaka yang ditulisnya. Dalam konteks ini, sumber primernya adalah karya dan penjelasan para Trimurti Pendiri Pondok, Bapak Pimpinan Pondok, bapak Rektor Unida Gontor dan para guru anshar pondok, seperi Ustadz Akrim Mariyat, Dipl. Ed, Ustadz KH. Ahmad Suharto, M.Pd., Ustadz Dr Nur Hadi Ihsan dan banyak lagi.

Peneliti pun memulai dengan penjelasan jiwa kebebasan secara deskriptif dari para tokoh pondok tadi. Ia bisa dengan mudah kita temukan di buku Serba Serbi Serba Singkat tentang Pondok Modern, Profil Pondok, Warta Dunia Pondok, Website Gontor, Majalah Gontor, dan beberapa penjabaran penopang dari asatidz senior Gontor. Secara garis besar, jiwa kebebasan dimaknai dengan “Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan.” (Lihat https://www.gontor.ac.id/panca-jiwa)

Adapun terkait makna motto berpikiran bebas, Gontor dengan tegas menyebut, “Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas”. (Lihat: https://www.gontor.ac.id/motto).

Selain dengan konsisten menjelaskannya dalam beberapa pertemuan, Gontor juga mengajarkan konsep kebebasan yang hakiki ini dalam kehidupan sehari-hari; di asrama, kelas, organisasi dsb. Kesemuanya pun dengan bimbingan, arahan dan evaluasi dari pembimbing yang ada. Sehingga konsep tadi betul-betul menjiwai kegiatan santri, dan kegiatan santri menjadi manifestasi dan wujud nyata dari ajaran Gontory.

Gontor mengajarkan konsep kebebasan yang hakiki ini dalam kehidupan sehari-hari; di asrama, kelas, organisasi dsb.

Dalam kurikulum pun sangat terlihat pemaknaan kebebasan Gontor. Ia membekali santrinya dengan beragam perbedaan. Misalnya, dalam Fiqih, selain pengantar Fiqih madzhab Syafi’i di kelas 1, santri juga diajarkan Bidayah al-Mujtahid di kelas 5, dimana isinya adalah ragam mazhab muktabar. Dalam Aqidah, selain pengantar dengan mazhab Asy’ari di kelas 1, santri juga diajarkan aqidah dengan mazhab salaf di kelas 4-6. Termasuk dalam pengajaran Adyan dsb.

Beberapa penerapan dan aplikasi di atas, baik dari segi kurikulum maupun kegiatan santri, semakin menegaskan konsep kebebesan Gontor. Yaitu, bebas dalam berpikir dan berbuat, memilih apapun, namun tetap dalam arahan yang tepat. Dalam artian, bebas ini menunjukkan kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan berbasis keislaman yang kuat.

Hal ini juga terbukti dengan melihat bagaimana cara Gontor menentukan apa yang dibebaskan dan apa yang diberi batasan untuk santrinya. Gontor membolehkan santri mengikuti kegiatan apapun, tapi tetap dengan disiplin yang ada. Gontor membolehkan alumninya terjun ke bidang apapun, asal nilai-nilai Islami tetap terjaga; aqidahnya, syari’ahnya, dan akhlaknya.

Inilah kebebasan Gontor, bebas yang dinaungi aturan, bebas yang mengarahkan penghuninya berada pada maslahat (kebaikan). Bukan bebas sebebas-bebasnya seperti yang digaungkan para pengusung liberalisme. Konsep kebebasan yang seperti inilah yang bisa menjadi bekal santri dan alumni untuk berdakwah kepada masyarakat, sebagai mundzirul qaum.

Senada dengan hal ini, penjelasan Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal dalam pidatonya di Apel Tahunan Khutbatu-l-‘Arsy pun turut memperkuatnya. Beliau menyebut, “Selama 90 tahun, Pondok Modern Darussalam Gontor mendidik santri-santrinya dengan totalitas pendidikan, yaitu membina santri-santri agar nantinya bisa membina umat ini ke arah kesempurnaan dalam hidup. Pendidikan itu adalah pendidikan jasmaniah-fisik, pendidikan rohaniah-spirit, pendidikan kejiwaan, pendidikan keindahan, juga pendidikan intelektualitas, pendidikan sosial, pendidikan keterampilan, dan lain sebagainya. Semuanya diajarkan di dalam pondok ini, dan langsung dilaksanakan di dalam perbuatan serta perilaku dalam kehidupan bersama di pondok kita”. (Lihat: https://www.gontor.ac.id/90tahun/ustadz-hasan-jadilah-manusia-terhormat-dan-berharga)

Nilai di atas tentu sangat ideal, apalagi jika dihayati segenap santri dan alumninya. Namun ada saja oknum yang salah memahami ajaran pondoknya sendiri, sebagaimana telah penulis sebutkan di awal artikel ini. Dari kesalahan dalam memahami konsep, akhirnya salah juga dalam cara pandang dan menyikapi sesuatu, yang berujung pada kesalahan dalam tingkah laku. Memang begitulah iman, kepercayaan, filosofi hidup, atau worldview itu bekerja.

Misalnya, ada satu-dua alumni yang dengan terang-terangan mengusung paham pluralisme agama. Ia mengatakan semua agama hakikatnya sama, perbedaan hanya pada tataran ritualnya saja. Ada yang membolehkan menikah lintas agama, bahkan menjadi saksinya. Di tempat lain, ada yang mengusung persamaan gender, menggugat syaria’at, menggaungkan sekulerisme, kesemuanya dengan dalih liberalisme atau kebebasan; kebebasan berpikir atau berpikiran bebas, dan bebas melakukan apapun. (Baca beberapa agenda liberalisasi pemikiran Islam di: https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tsaqafah/article/view/145)

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, putra pendiri pondok dan Wakil Rektor I Unida Gontor pun turut angkat pena. Dalam Misykat, beliau memberikan respon dan kritik terhadap pemaknaan kebebasan sebagai liberal ini. Sejatinya, bebas dalam perspektif liberal ini adalah bebas dari bentuk-bentuk otoritas; hukum, politik, ekonomi, moral, bahkan mereka menghendaki kebebasan dari otoritas agama sebagai pengatur kehidupan manusia. Dalam arti singkat, bebas disini dimaknai terlepasnya seseorang dari kungkungan dan belenggu Tuhan dan agama. (Lihat Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi dan Islam, hal. 107-109).

Sebenarnya hal ini pun sudah dirasakan oleh para pendiri Gontor. Dalam penjelasan jiwa kebebasan berikutnya, bisa kita lihat ungkapan berikut, “Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja”.

Untuk itulah, dengan segera Gontor langsung mewaspadainya dengan memberikan batasan secara tegas. Yaitu dengan penjelasan motto berpikiran bebas seperti disebut di atas, serta dengan tambahan penegasan paragraf ini, “Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat. Jiwa yang meliputi suasana kehidupan Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal utama di dalam kehidupannya di masyarakat. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.” (Lihat kembali: https://www.gontor.ac.id/panca-jiwa)

 

* * *

Setelah menguraikan secara deskriptif, peneliti kemudian mencoba menganalisanya dengan perspektif filsafat Prof. Naquib al-Attas. Menurutnya, kebebasan dalam Islam berarti ‘memilih yang baik’ (ikhtiyar). Sebagaimana dijelaskan sesuai dengan akar katanya, ikhtiar menghendaki pilihan yang tepat dan baik akibatnya. (Lihat: Prolegomena to the Metaphysics of Islam, hlm. 33-4). Oleh karena itu, orang yang memilih keburukan, kejahatan, dan kekafiran itu sesungguhnya telah menyalahgunakan kebebasannya. Sebab, pilihannya bukan sesuatu yang baik (khayr). Disini kita dapat mengerti mengapa dalam dunia beradab manusia tidak dibiarkan memilih menjadi kafir, tidak pula bebas untuk membunuh manusia lain.

Dengan pisau analisa tadi, peneliti yang menulis dengan Bahasa Arab ini memberikan konklusi bahwa jiwa kebebasan menjadikan umat luas dalam berpikir dan berbuat yang baik. Tujuan utama dari didirikannya pondok ini adalah demi menyelematkan dan membebaskan umat, serta memerdekakan bangsa dan negara dari seluruh tekanan para penjajah. Karena penjajahan akan menghambat manusia dari kemampuan memilih yang baik. Misalnya, dipaksa kafir, dipaksa mengikuti apapun yang dimaui penjajah, padahal itu bententangan dengan ketentuan syariah.

Jika kita lihat, alasan peneliti dari konklusinya ini cukup kuat. Karena menurutnya, secara garis besar bentuk kebebasan yang dikehendaki Gontor bertumpu pada lima hal; 1. Kebebasan santri untuk menentukan masa depannya sendiri, 2. Terbebas dari penjajah dan penjajahan, 3. Terbebas dari aliran sesat, 4. Terbebas dari ubudiyyah kepada selain Allah, 5. Terbebas dari hawa nafsu.

Analisa di atas memang cukup menarik. Hanya, menurut penulis, perlu dielaborasi lagi lebih mendalam. Misalnya, makna kebebasan dalam perspektif Islam telah diuraikan dengan baik oleh murid langsung Prof. Al-Attas, Dr. Syamsuddin Arif. Dalam bukunya Islam dan Diabolisme Intelektual, dengan mengutip dan merangkum pendapat beberapa ulama otoritatif, ia menulis bahwa kebebasan dalam Islam memiliki tiga makna sekaligus.

Makna pertama, sudah disebut oleh peneliti skripsi ini di atas. Inilah yang perlu menjadi masukan, yaitu dua makna lainnya, sesuai yang dipaparkan Dr. Syamsuddin. Yaitu; pertama, kebebasan juga identik dengan ‘fitrah’, yaitu tabiat dan kodrat asal manusia sebelum diubah, dicemari, dinodai, dan dirusak oleh sistem kehidupan di sekelilingnya. Seperti kata Nabi saw: ‘kullu mawludin yuladu ‘ala l-fitrah’. Maka tulisnya, orang yang bebas ialah orang yang hidup selaras dengan fitrahnya, karena pada dasarnya ruh setiap manusia telah bersaksi bahwa Allah itu Tuhannya. Sebaliknya, orang yang menyalahi fitrah dirinya sebagai abdi Allah sesungguhnya tidak bebas, karena ia hidup dalam penjara nafsu dan belenggu syaitan.

Makna kebebasan selanjutnya adalah daya kemampuan (istitha‘ah) dan kehendak (masyi’ah) atau keinginan (iradah) yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-masing. Apakah jalan yang lurus (as-shirath al-mustaqim) ataukah jalan yang lekuk. ‘Siapa yang mau beriman, dipersilakan. Siapa yang mau ingkar, pun dipersilakan’ (fa-man sya’a fal-yu’min, wa man sya’a fal-yakfur), firman Allah dalam al-Qur’an (18:29). Kebebasan disini melambangkan kehendak, kemauan dan keinginan diri sendiri. Bebasnya manusia berarti terpulang kepadanya mau senang di dunia ataukah di akhirat.

Dr. Syamsuddin menambahkan, benarlah firman Allah bahwa tidak ada paksaan dalam agama – ‘la ikraha fi d-din’ (2:256). Setiap manusia dijamin kebebasannya untuk menyerah ataupun membangkang kepada Allah, berislam ataupun kafir. Mereka yang berislam dengan sukarela (thaw‘an) lebih unggul dari mereka yang berislam karena terpaksa (karhan), apatah lagi dibandingkan dengan mereka yang kafir dengan sukarela. (Lihat: Syamsuddin Arif, Islam dan Diabolisme Intelektual, hal. 168-169).

Disini, penulis tertarik juga untuk menambahkan analisa peneliti dan kesimpulannya. Pertama, nilai kebebasan yang diajarkan dan diamalkan oleh Gontor itu bermuatan filosofis tinggi dan mendalam, dan dalam satu waktu juga sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan kata lain, ia memang lahir dalam kerangka epistemik Islami, dengan landasan utama Al-Qur’an dan Sunnah. Selain kebebasan ini mengajarkan memilih yang baik (ikhtiyar), ia juga selaras dengan fitrah manusia, dan mengakui adanya kemampuan dan kehendak manusia untuk memilih dan berbuat, tapi hendaknya memilih yang baik dan benar, seperti makna pertama tadi. Jika konsep seperti ini diamalkan dengan baik, maka akan membawa pada kemaslahatan setiap penghuni dan alumni pondok. Namun jika salah dipahami, maka akan lahir kerancuan dan kerusakan, baik dalam aqidah, pemikiran, dan perbuatan.

Jika kita telaah juga, Gontor telah dan terus berusaha untuk menjamin konsep kebebasan ini selalu dipahami secara Islami, seperti konsep yang dipaparkan para tokoh di atas. Bahkan Gontor secara kelembagaan dan disiplin ketatnya juga mengatur agar konsep tadi diamalkan dengan benar oleh segenap santri dan alumninya. Disini trilogi iman-ilmu-amal sangat terasa dalam membangun dan memberikan suntikan makna pada konsep kebebasan. Apalagi didukung dengan kurikulum yang mandiri, kokoh dan kental nuansa keislamannya.

Kembali ke para pengusung ide liberalisme. Dari beberapa uraian analisa ini, bisa kita lihat bagaimana kerancuan idenya. Mereka mengusung kebebasan, tapi sebenarnya juga tidak benar-benar bebas. Karena sejatinya, pikiran dan hati mereka telah terpenjara oleh kebebasan fatamorgana yang semu. Maka mereka pun terjebak oleh apa yang mereka sebarkan sendiri, dan berada pada kebingungan tiada henti (intellectual confusion). Sehingga dari paham yang begitu, amal mereka pun rancu, tidak mencerminkan adab dan ilmu seorang Gontory sejati.

Disini tepatlah Dr. Syamsuddin Arif ketika memberikan konklusi berikut, “Jadi, dalam tataran praktis, kebebasan sejati memancarkan hikmah (kebijaksanaan) dan memantulkan ilmu dan adab. Sementara kebebasan palsu mencerminkan kejahilan, kebodohan dan kebiadaban. Kebebasan individu seyogyanya dipandu oleh hukum dan hikmah, agama dan etika supaya tidak merusak tatanan kehidupan. Supaya membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat”. (Islam dan Diabolisme Intelektual, hal. 170).

Akhirnya, dengan kelebihan dan kekurangan yang ada, penelitian ini layak mendapat apresiasi. Sebab, setidaknya ia telah bergerak menuju agenda literasi yang diharapkan oleh Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Beliau menyebut, memang sudah semestinya menjadi agenda besar untuk membawa super-system pondok dengan akar filosofi dan nilai-nilai yang khas ini ke dalam wacana ilmiah. Dengan harapan, selain lebih argumentatif, peran Gontor juga akan semakin terasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Semoga di kemudian hari muncul peneliti-peneliti yang mengelaborasi lebih tajam, juga di nilai-nilai pondok yang lain. Juga dengan data, rujukan, metodologi dan perspektif yang beragam, serta dengan analisa yang lebih tajam, demi pengembangan keilmuan secara umum, dan kopondokmodernan secara khusus. Wallahu A’lam.


Saksikan juga, penjelasan tentang Panca Jiwa Pondok Modern Gontor dari Pimpinan Pondok Modern Gontor, Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi, MA,

 

Baca juga: Kultum Singkat tentang Hakikat Dunia

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *