Public Lecture dan Welcome Speech 3 Doktor Baru UNIDA Gontor

Public Lecture dan Welcome Speech 3 Doktor Baru UNIDA Gontor

UNIDA Gontor – Sabtu pagi, 8 Agustus 2020, seluruh dosen dan tenaga kependidikan Universitas Darussalam Gontor berkumpul di aula CIOS. Seperti biasa, acara dwipekanan yang diadakan oleh Biro Administrasi Umum dan Keuangan. Namun, kali ini ada yang spesial. Pembicara utama ada 4 orang; 1 kandidat profesor pakar hadits Assoc. Prof. Dr. Zainuddin Mz, dan 3 orang doktor baru kader Universitas Darussalam Gontor; Dr. Suyoto Arief, M.S.I., Dr. Agus Yasin, M.Pd.I., dan Dr. Azmi Syukri Zarksayi, M.A. Tak kalah pentingnya, acara ini juga dihadiri langsung oleh Rektor UNIDA Gontor Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. Bahkan, beliau yang memandu acara dari awal sampai akhir.

Dalam sambutannya, Prof. Amal mengatakan bahwa menjadi profesor bukan sekedar untuk bangga-bangaan atau prestis lainnya. Namun memang tanggungjawab keilmuan dan perguruan tinggi harus demikian. Baik dari segi kualitas dan formalitas harus selaras. Hal ini dapat meningkatkan rating perguruan tinggi.

Setelah menyampaikan beberapa kalimat, Prof Amal lalu mempersilakan beberapa doktor baru untuk welcoming speech. Pertama dari Dr Y Suyoto Arief (UII).

Dr Suyoto memulai pemaparan bahwa studi doktoral tidak banyak berbeda dengan lainnya. Kecuali perbedaan sistem dan teknis. Beliau sudah berumur 62 tahun di masa lulus doktoralnya. Oleh karenanya, beliau sangat bersyukur di usia yg sudah tidak muda lagi masih diberi kesempatan untuk terus belajar. “Long life education”Kata beliau.

Bagi beliau, semangat belajar adalah kesyukuran. Apalagi, kesan beliau saat bertanya kepada alm KH Imam Badri: “ustadz, umur antum berapa? Mengapa masih mau belajar?” KH Imam Badri menjawab: “nggak perlu tanya umur; karena belajar itu seumur hidup.

Setelah Dr. Suyoto menyampaikan kesannya, Ust Amal memperkenalkan alumni Gontor yg kali ini bersama dalam acara ini. Yakni, Assoc. Prof. Dr. Zainuddin MZ. Yang mana, sebelum profesorat selesai, terburu untuk mengajar di universitas di Saudi. Dan tentu saja, menjadi dosen di Saudi bukanlah sembarangan. Apalagi bidang ilmunya. Saat covid lalu, beliau akhirnya kembali ke Surabaya. Namun tidak diterima lagi; sehinga akan bersama kita di UNIDA Gontor ini sebagai dosen.

Selanjutnya, Dr Azmi menyampaikan pengalaman studi Doktor di Madinah selama total 15 tahun. S-1 di sana dari 2004; lalu  mengajukan ke S-2 di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin namun belum diterima. Lalu berdoa saat umroh. Dan pulang kembali mengajar di Gontor 2010.

Saat itu, sudah berminat akan jalan jalan keliling Indonesia. Namun dipanggil KH Abdullah Syukri Zarkasyi untuk menjadi panitia Dauroh Madinah. Yang mana saat itu, yang datang adalah pembesar di Universitas. Baik wakil rektor dan berbagai dekan.

Saat itu, wakil rektor yg saat itu hadir menganggap bahwa itu dauroh tersukses. Lantas bertanya kepada ustadz Azmi: “mengapa tidak lanjut S-2?” Sambil diminta menulis surat permohonan yg di-ttd KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Lantas datang panggilan bersamaan dengan panggilan S-1 Madinah. Lalu diproses ke S-2 di tarbiyah.

Usai S-2, ada tawaran untuk S-3. Namun beliau sudah terburu ingin kembali; karena saat itu KH Abdullah Syukri Zarkasyi sudah sakit. Untuk birrul walidain.

Sistem akademik pun sudah komputer. Dan ada target bagi dosen tiap pekan. Bahkan wajib laporan bimbingan walaupun hanya selembar. Karena semua dipantau sistem dan rektor. Saat itu, dari sidang dan lainnya dibayari oleh syeikh di sana. Hingga konsumsinya.

Prof Amal mengingatkan bahwa dalam menuntut ilmu selalu ada cobaan. Saat beliau S-2, KH Imam Zarkasyi meninggal dunia. Meski sempat menyaksikan kelulusan ujian tulis. Karena di Mesir, tidak lulus adalah biasa. Malahan, kalau lulus jadi berita.

Doktor selanjutnya adalah Dr Agus Yasin. Beliau memulai mendaftar S-3 tahun 2017. Bersama ustadz Mohammad Ismail yang mendapat beasiswa kemenag. Kuliah di Sudan, ada yg minimal 2 tahun atau 3 tahun.

Saat masa studi, beliau menyampaikan akan banyaknya kemudahan, yang tentu dari do’a-do’a masyayikh Gontor. Karena kita tidak tahu dari lisan siapa Allah mengabulkan harapan-harapan kita. Selain itu, beliau menyampaikan bahwa banyak sekali kemudahan-kemudahan yang beliau peroleh. Ini semua berkat Gontor dan UNIDA Gontor.

Terakhir, Assoc. Prof. Dr. Zainuddin Mz diberi kesempatan untuk menyampaikan kalimatnya. Beliau alumni Gontor tahun 1979. Singkatnya, sebelum masa pengabdian selesai, beliau diminta untuk belajar di Universitas Islam Madinah dan alhamdulillah tahun depannya langsung berangkat ke Madinah dan mendaftar di jurusan Hadits.

Namun ternyata, saat menghadap ust Atim, malahan dihadapkan ke tim untuk ditanyai. Lalu disuruh menghadap ke ust Tarwichi (alm); lantas ternyata cetak foto untuk ijazah. Beliau ingat bahwa lulus di bulan Maret, dan September sudah mendapat panggilan. Ke Madinah. Lalu akan masuk fakultas al Quran. Namun tidak lulus tes. Dan tertarik dengan fakultas hadits. Karena, kala itu banyak keunikan yg beliau temui dalam hadits dan terjemahan serta seluk beluknya. Apalagi terkait bahasa Arab yg digunakan dalam literatur tahqiq hadits terbaru. Karena itulah, beliau membuat edisi kritis dari file tahqiq atas berbagai buku hadits seperti shahih Bukhari dan Muslim.

Masih banyak ilmu dan pengalaman beliau-beliau yang tidak sempat tertuliskan dengan kata-kata. Hingga saat ini, UNIDA Gontor terus berusaha agar dosen-dosennya bisa melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi (doktor).

Reporter: M. Taqiyuddin, M.Ag.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *