Puasa Menjadikan Kita Pribadi yang Bertaqwa, Apa Saja Indikatornya? (Kultum Dr. Setiawan bin Lahuri)

Puasa Menjadikan Kita Pribadi yang Bertaqwa, Apa Saja Indikatornya? (Kultum Dr. Setiawan bin Lahuri)

Catatan Kuliah Subuh Hari ke-2 yang disampaikan oleh Dr. Setiawan bin Lahuri tentang puasa dan taqwa

Dirangkum oleh: Muhammad Faqih Nidzom

Puasa seperti disyariatkan oleh Allah swt kepada hamba-Nya dapat mengubah diri kita menjadi pribadi bertaqwa. Sebagaimana yang termaktub dalam ayat wajibnya puasa, “La‘allakum tattaqūn”, (QS. 2:183). Inilah yang menjadi prestasi seorang hamba.

Berkenaan dengan hal ini, Wakil Rektor II UNIDA Gontor, Ustadz Dr. Setiawan bin Lahuri, M.A. dalam kuliah subuhnya, 2 Ramadhan 1440 H menyampaikan penjelasan yang cukup komprehensif. Selain menjelaskan esensi Taqwa, beliau dengan mengutip pendapat beberapa ulama muktabar juga menguraikan tentang beberapa indikator taqwa.

“Taqwa ini merupakan harapan, dalam artian, dengan puasa kita menjadi bertaqwa, bukan hanya ketika berpuasa, tapi secara terus menerus, untuk bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya. Taqwa juga merupakan predikat yang harus diupayakan tiap hamba”, begitu beliau menjelaskan esensi taqwa di hadapan jama’ah subuh yang terdiri dari dosen dan mahasiswa mukimin di kampus.

Menjadi menarik untuk dicermati, taqwa memang bukan predikat yang bisa kita dapatkan dengan berpangku tangan, sekadar berharap dari Allah swt., tapi ia harus dikejar oleh seorang hamba, dengan niat tulus, ibadah yang sungguh-sungguh, dan mengaplikasikan nilai-nilainya dalam hidup sehari-hari.

Dalam rangka inilah, beliau kemudian menjelaskan empat indikator taqwa. Sebagai tolak ukur dan kaca perbandingan, apakah kita telah meraihnya atau masih jauh dari targetnya. Dalam al-Qur’ān, telah dijelaskan beberapa indikatornya secara eksplisit, misalnya dalam Al-Baqarah: 1-5 dan Ali Imrān: 133-146.

4 Indikator Taqwa

Dengan mengutip pendapat beberapa ulama, Ustadz Setiawan merangkum indikator tersebut dalam empat hal;

Pertama, al-khawf minal Jalīl (rasa takut kepada Allah Yang Maha Agung). Orang bertaqwa semestinya merasa selalu diawasi, kapan pun dan dimanapun. Juga mengakui bahwa selain Allah swt adalah kecil. Jika kita merasa takut pada hal-hal kecil, seperti bencana alam dan lainnya, maka selayaknya kita lebih takut kepada Dzat yang mengatur itu semua; Allah swt. Indikator ini menunjukkan bahwa puasa menghendaki peningkatan keimanan, khususnya prinsip Tauhid.

Kedua, al-‘Amal bi-t-tanzīl (beramal sesuai tuntunan Syari’ah). Disebut bertaqwa jika seseorang itu menjalankan apa yang menjadi perintah Allah swt, dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Puasa inilah latihan utama dalam menerapkannya.

Ustadz Dr. Syamsuddin Arif menyebut, hal ini sesuai dengan fungsi pertama dari puasa; fungsi konfirmatif. “Jangan mengaku orang Islam dan beriman kalau tidak puasa pada bulan suci Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan. Berpuasa merupakan bukti pengukuh keislaman dan keimanan Anda”, begitu Dr. Syam menjelaskan maksudnya.

Indikator ketiga, ar-Ridhā bil qalīl (ridha dengan yang sedikit). Jiwa manusia menghendaki yang banyak, obsesi tinggi, namun seringkali tidak dibarengi dengan ridha atas ketetapan Allah swt. Dengan puasa, kita diajarkan untuk menerima walaupun sedikit, bersyukur dengan apa yang didapat, serta berkeyakinan penuh bahwa Allah swt telah menciptakan segala sesuai dengan kadarnya.

Ustadz Setiawan juga mengingatkan, untuk melatihnya, hendaknya kita selalu melihat ke bawah untuk hal-ihwal duniawi, dan melihat ke atas untuk perkara ukhrawi. Ketika kita punya mobil, bersyukur karena betapa banyak di sekeliling kita hanya punya motor, sepeda dan begitu seterusnya. Melihat teman lebih alim dan shalih, kita termotivasi untuk berbuat lebih. Ia mampu bersedekah, kita pun berazam untuk melakukan yang serupa atau lebik baik darinya.

Indikator terakhir, al-isti’dād liyawmi-r-rahīl (menyiapkan untuk kehidupan akhirat). Ya, disebut bertaqwa jika seseorang itu memberikan prioritas untuk kehidupan yang kekal. Seperti yang digambarkan dalam sekian banyak ayat al-Qur’ān dan Hadis Nabi.

Tentu kita ingat adagium masyhur, man ‘arafa bu’da as-safari ista’adda, barangsiapa yang tahu jauhnya perjalanan, maka ia akan bersiap dengan bekal cukup. Akhirat adalah perjalanan spiritual, yang harus kita siapkan dengan sebaiknya untuk mengahadapinya. Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal sering mengingatkan, kita seringkali berpikir bagaimana hidup dengan baik, tapi lupa bagaimana mati dengan baik.

Beruntungnya Orang Berpuasa dan Bertaqwa

Demikian penjelasan Ustadz Setiawan mengenai beberapa indikator taqwa. Sungguh beruntung siapa yang mendapatkan predikat tersebut. Ia yang selain menjauhkan diri dari yang dilarang, juga mampu menghindari yang sejatinya dibolehkan. Sayyid Quthb menyebut taqwa dalam tiga hal; apa yang hadir dan hidup dalam hati, menjaga kita dari sesuatu yang dilarang, dan membuat kita bersyukur.

Begitulah puasa mendidik kita. Ibadah spesial yang memberikan banyak pelajaran kepada siapapun yang mau mengambilnya. Semoga kita bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk tamu yang agung; bulan Ramadhan. Tak lupa kita berdoa kepada Allah swt agar diberikan kekuatan dan istiqomah untuk memaksimalkan kedatangannya, dan menjadi pribadi yg lebih baik setelahnya. Wallāhu A’lam.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *