PSPI dan PKU VIII Saling Bertukar Pikiran untuk Satu Tujuan

PSPI dan PKU VIII Saling Bertukar Pikiran untuk Satu Tujuan

SOLO–Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) di Solo arahan Arif Wibowo, seorang peneliti kristologi dan budaya, menemukan teman bertukar pikiran dengan kedatangan rombongan Program Kaderisasi Ulama (PKU) VIII Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Jum‘at (20/2) siang. Keduanya memiliki tujuan yang sama untuk membangun kembali peradaban Islam walaupun dengan cara yang sedikit berbeda.

Di bawah arahan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, PKU bergerak melalui jalur akademis dengan memusatkan studi pada pemikiran Islam dengan segala tantangannya, sedangkan PSPI bergerak praktis melalui berbagai penelitian di bidang sejarah dan kebudayaan Islam, khususnya di Indonesia, dengan terjun langsung ke lapangan. Karena itulah, sebagian besar anggota PSPI merupakan aktivis kampus yang tertarik memperjuangkan Islam dengan membuktikan fakta-fakta sejarah kejayaan Islam di Nusantara.

Di sela-sela kegiatan workshop, PKU VIII berkesempatan mengenal PSPI lebih dekat. Pimpinan PSPI, Arif Wibowo, mengungkapkan bahwa PSPI bisa dikatakan ‘cabang’ dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS). Kelahiran PSPI memang tidak terlepas dari peran dan tujuan INSISTS untuk menciptakan komunitas yang fokus mengkaji keilmuan dari berbagai segi. Arif Wibowo sendiri mengaku bahwa ia merupakan salah satu kader INSISTS yang mencoba menyokong gerakan INSISTS dengan cara yang lebih sederhana, yaitu meneliti sejarah dan budaya Islam di Nusantara melalui PSPI.

“Jadi, bisa dikatakan bahwa PSPI dan PKU ini seperti saudara. Bedanya, PKU lebih ilmiah dengan kegiatan akademisnya, sedangkan PSPI lebih cenderung bergerak di tataran praktis. Kami melakukan penelitian lapangan, terjun langsung ke masyarakat menelusuri permasalahan umat Islam, seperti adanya kristenisasi yang masuk melalui budaya masyarakat Islam. Hasil penelitian ini selalu kami sampaikan kepada teman-teman di INSISTS untuk ditanggulangi bersama,” kata Arif Wibowo.

“Karena itulah, dengan adanya latar belakang dan misi yang sama, PSPI dan PKU bisa bersinergi saling melengkapi untuk membangun kembali peradaban Islam bersama-sama,” harapnya.

Setelah memperkenalkan PSPI, Arif Wibowo mempersilakan peserta PKU VIII UNIDA Gontor menyampaikan beberapa materi workshop kepada anggota PSPI di kediamannya itu. Ia berharap kedua belah pihak, baik PSPI maupun PKU bisa saling berbagi pengalaman dan keilmuan melalui forum diskusi setelah workshop.

Pada kesempatan ini, tiga peserta PKU VIII mewakili yang lainnya mencoba berbagi ilmu atau hasil kajian intensif mereka selama setengah tahun. Salah satu pembicara membahas tentang “Problem Penyimpangan Orientasi Seksual”. Materi yang disampaikan Ayub ini menggugah semua orang untuk menanggulangi praktik menyimpang yang terus menyeruak di kalangan anak muda dan mencari legalitasnya. Padahal perilaku ini sangat bertentangan dengan syariat Islam.

Materi lainnya disampaikan oleh Qaem Aulassyahied dan Saiful Anwar. Masing-masing menyampaikan materi berjudul “Kritik Konsep Sunah Muhammad Syahrur” dan “Problem Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender”. Dalam pemaparannya, Qaem menjelaskan bahwa Syahrur telah salah dalam memahami wahyu Allah tentang ketetapan hukum Islam, sehingga ia menyatakan bahwa sunah itu tidak bisa digunakan sebagai sumber hukum dalam Islam. Akhirnya, sebagai contoh, Syahrur mengatakan bahwa shalat itu cukup dilakukan dalam tiga waktu saja berdasarkan perintah Allah di dalam Al-Qur’an pada Surat Al Isra’ ayat 78–79. Padahal, ayat tersebut tidak ditafsirkan demikian jika merujuk pada penjelasan Rasulullah Saw dalam sunah-sunahnya.

Sedangkan Saiful Anwar menjelaskan panjang lebar permasalahan keluarga yang menerapkan hasil pendidikan berwawasan gender. Ini merupakan agenda kaum feminis yang ingin merusak institusi keluarga sebagai pondasi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Dengan masuknya paham feminisme inilah, seorang istri tidak mau lagi mengurus anak-anak di rumah karena ia ingin setara dengan laki-laki. “Maka, hancurlah generasi kita nanti disebabkan orang tua yang tidak lagi mau mendidik anak-anaknya,” kata Saiful.

Ketiga materi yang disampaikan peserta PKU VIII ini mendapatkan tanggapan serius dari anggota PSPI. Di antara mereka ada yang mengajukan pertanyaan dan ada juga yang memberikan saran atau masukan. Diskusi pun berlangsung menarik. Melihat hal ini, Arif Wibowo kembali menekankan, PSPI dan PKU harus terus eksis agar bisa berperan menghidupkan tradisi keilmuan, membangun kembali peradaban Islam. Karena itu, ia berharap komunikasi dalam bentuk diskusi maupun sharing ilmu dan pengalaman antara PSPI dan PKU semakin intens ke depannya.*elk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *