Prof. Dr Abdul Ghafar Ismail : “Apakah Indonesia Hanya Menjadi Konsumen atau Produsen dalam Ekonomi Syariah Global?”

Prof. Dr Abdul Ghafar Ismail : “Apakah Indonesia Hanya Menjadi Konsumen atau Produsen dalam Ekonomi Syariah Global?”

UNIDA – Dalam Kuliah Umumnya, Kamis (27/12) di acara Public Hearing dengan tema “Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia”,  Prof. Dr. Abdul Ghafar Ismail memaparkan terkait posisi Indonesia di dalam Ekonomi Global Syariah. Pada tahun 2018 nama Indonesia selalu keluar sebagai konsumen terbesar dunia nomor 1, 2 ataupun 3, akan tetapi tidak pernah muncul pada posisi produsen terbesar dunia. Padahal negara seperti Brazil berhasil menjadi salah satu negara dengan produktivitas terbesar di dunia dalam Ekonomi Global Syariah.

“Indonesia salah satu negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di Indonesia, tapi nama Indonesia hanya keluar sebagai Konsumen terbesar dunia, tidak pernah menjadi produsen terbesar di dunia. Lantas Apakah Indonesia hanya menjadi konsumer atau produsen?”, demikian paparnya.

Menurutnya Indonesia kebanyakan mengimpor barang-barang dari luar negeri seperti bahan bahan kimia, hewan ternak, dan bahan-bahan mentah lainnya.  Tak main-main, Indonesia mengimpor dalam skala yang sangat besar.

Dalam rangka mengurangi impor demi tercapainya peningkatkan nilai ekspor, dia menjelaskan pemerintah harus bisa lebih fokus membantu. Beberapa daerah yang ditargetkan bisa menjadi produsen barang barang halal, seperti Aceh, Kalimantan dan Palembnag. Tidak hanya dari sektor UMKM yang bergerak di bawah pemerintah, sektor indurial yang bergerak di bidang halal harus dibantu. Tidak dipungkiri pada tahun 2018, dari sektor industrial Indonesia mengalami peningkatan ekspor pada tahun 2018 sebanyak 19%.

Dalam penyampaiannya, Abdul Ghafar juga memberikan beberapa alasan lemahnya ekonomi syariah Indonesia yaitu tata kelola sektor halal yang belum baik, pemanfaatan teknologi belum optimal, serta regulasi terkait halal industri belum memadai.

Diharapkan kedepannya ekonomi syariah Indonesia bisa meningkat dan membantu posisi Indonesia menjadi produsen, tidak hanya sebagai konsumen. (Yan Vandika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *